NavBar

Friday, December 17, 2010

Raja Singgasana Malam

Sunting
Raja singgasana malam
oleh Idoem Moedzy Tegaly pada 08 Desember 2010 jam 22:26
Malam yang smakin menepis kehangatan mentari kurasakan
binatang2 malam berdecit menyuarakan kemenangan kehdupan kaum mereka,
berdecit dan bergumul berharap mendapatkan auman bak srigala di rahim malam,
sarung yg kian menipis mash saja tak bsa menahan siukan angin malam,
menggigil dan menggumpal tbuhku dibuatnya,

mata yg nampak sayu pertanda dia telah berhasil merayuku,
sekedar untuk melewati mimpi, walaw hanya sepintas kulalui
tapi aku sadar, hanya dgan lewat mimpi aku bisa menghbur diri
bukan karena kerasnya khdupan, tetapi karena memang diriku yg ingin dimanja sesekali,
mimpi indah yg tentunya berbuah manis kuinginkan,
sudah pasti berbingar parasku dibuatnya kala semuanya berakhr,
dibuatnya penyesalan batin kenapa harus terbangun..
Dirindukan oleh dewa perasaan dlam ruh dan jasad yg melayang melalang buana mencari si penghbur malam sunyi.

Aku belum mampu pejamkan mata sepenuhnya,
sayu itu masih, walau sesekali terbuka hanya sekedar untk menyernyitkan dahi,
jauh diatas dahi kugambrkan mimpi yg akan terjadi,
aku memang bukan raja mimpi yg sesuka hati meminta,
tapi aku se0rang pecandu mimpi yg ingin bercerita disana,
tentang siang dan malam yg menemani,
tentang musim daun daun yg berguguran oleh hujan dan tumbangnya pohon melinjo di samping rumah,
aku memang hanya bisa berandai,
kini aku menanti malam, berjumpa dgan raja dan ratu penguasa mimpi saat kumulai merapatkan angan..

Karena Kusanggup

Aku terpisah, membaur bersama orang2 yang tak kukenal sama sekali,
bungkam tapi terkadang tertawa, walaw hanya untk membuat org terhbur,
hati teriris remuk menjadi puing puing yg tak tersisa siapa tahu,
setetes air harapan tengah dipenghujung penantian,
rindu penuh pilu, kubertahan menunggu
meski memang tak pasti aku memilikimu.

Aku telah dwasa,
aku mengenal kata cinta karenamu,
aku mengenal kata rindu karenamu,
aku bertahan karenamu,
kamu... Yang akan kupimpin,
tunjuklah aku sbgai pemimpinmu,

B A P A K

Pa.. Ini putramu, muzi.
Bukan putra kesayanganmu, bukan pula putra kebnggaanmu. Memang dedikasimu begitu besar untuk zi. Kau ajari zi bgaimana cranya untk hdup dlam keterbtasan, bgaimana cranya hdup bermasyarakat, bgaimana cranya hdup ala "gue". Sesuka kita bertindak asal kita senang dan bnyak dikenal tetangga. Untuk "gue" zi tdak menyetujui itu pa,, itu pengecut menurut zi. Bgaimana bisa qt meninggalkan masalah yg justru harus qt genggam dan hancurkan?? Qt pemimpin pa, tak baik kalau sdikit api di dpan mata saja kau lari entah ke mana anakmu ini mencri tak ada.
Pa,, aku ingin berbeda dgan 2 saudara laki lakiku. Aku tak ingin menyamai mereka. Langkah hdup mereka yang hanya bisa kau serahkan bgitu saja. Tapi jangan kau tanyakan aku ingin jadi apa, karena sampai saat inipun aku tak tahu. Bapak tentu tahu pula bhwa cita citaku hanyalah umbaran ambigu, yang tak jelas dan slalu berubah ubah, bpak tentu ingat smasa kecilku dulu, aku mengatakan ingin menjadi p0wer rangers biar bisa membela keluarga kalo ada m0nster menyerang. Bpak tertawa disana. Sdikit pemberitahuan, aku malu pak, anakmu ini seperti tak punya plhan lain saat kau tanyakan cita citaku yg lainnya. Menjadi polisi. Bukan keinginanku pa, itu semata untk membungkam tertawaan bpak. Aku ingin sdikit membwat bpak bhagia meski palsu dariku.
Bapak, aku, anakmu ini skarang sudah dwasa. Lihatlah bulu dibwah hdungku, tumbuh subur meski samar samar. Di daguku apalagi pa, bulu kesayanganku tumbuh. Jumlahnya mash sdkit. Baru enam biji kalau bpak mau menghtungnya. Bpak sudah tahu kedwasaanku bukan? Aku berharap tak ada lagi paksaan langkah hdup anakmu ini. Tapi, semua sumbangsihmu tentulah mash kuterima. Bpak, anakmu ini sudah menancpkan impian yg terdlam. Bukan menjadi p0wer rangers tentunya, yg bru kusadari leluc0n masa kecilku yg luar biasa. Bukan pula menjadi se0rang p0lisi, seperti kbh0ngan kataku waktu itu. Bukan se0rang tentara, d0kter, ataupun tentara. Kenapa?? Tubuhmu mulai renta, uban di kepala juga mulai merata, keningmu mulai membentuk Kerutan kelelahan. Jantung yg melemah apalagy, tak kuasa aku untk memompa deras mengalirkan darah ke penjuru tbuh rentamu. Kita orang biasa. Terlalu sulit bila kucapai impian yg sulit itu. Karenanya, aku berkata tidak.

Friday, December 10, 2010

Genderang di pagi buta

Pandangan mataku mash kabur,

tak begtu jelas ktika menatap setiap sudut rumah,

bukan gelap, bukan jg mataku yg rabun,

tapi memang belum sempurna nyawaku bersatu,

setelah 8 jam lamanya kuserahkan pda Dia atas nama "Kematian sesaat"

dan kini aku kembali,

disambut pagi yg menyuguhkan sejuta wewangi segar,

pengusir kepenatan yg seharian tak mau pergi,

kakiku msh terlalu manja untk melangkah,

apalagi kelopak mata yg kurasakan msh sayu,

tak mampu kujembarkan scr sempurna,



pagy yg buta menyambutku yg msh dirundung luka,

tapi karenanya, kuanggap semuanya tiada,

hngga tak ada lg rasa ptz asa sendiri ataupun berzama mereka yg tercinta,,

genderang di pagy buta.. Sudah brang tentu menyambtku penuh ceria,

berhrap ada yg baru dr cerita hdup walaw hanya sebuah cerita cinta,

anak remaja.

Friday, December 3, 2010

Kembali

Lama sudah kita tak jumpa. maafkanku kawan, bukan maksudku melupakanmu, tetapi semuanya karena waktu. waktu yang membuat kita terpisah sesaat. waktu yang membuatku melupakanmu sesaat. waktu yang membuatku merasakan kesibukan dalam hidup yang teramat. tapi jangan kau khawatir sayang, tak lama aku pasti kembali, seperti saat ini. aku tak mungkin melupakanmu begitu saja. karena kau adalah tapak hidupku. jejak hidupku yang nantinya membuatku mengingat akan masa masa sekarang dan masa masa dahulu.
andai saja esok hari aku menjadi orang besar, sungguh aku takkan melupakan semua perjuanganku. tentunya hanya dengan melihatmu aku mengingatnya. hanya dengan mengunjungimu aku merasa kembali, menjadi manusia yang biasa biasa saja.
tapi andai kata aku tak ditakdirkan menjadi orang yang besar, aku tetap takkan melupakanmu. tapi aku tak bisa menjamin bisa mengunjungimu hanya sekedar mengingat masa masa laluku untuk saat ini. gambaran hidupku sudah tentu jelas ada padamu. sebagai saksi bisu yang akan membuat orang orang tertawa terbahak-bahak, dan pastilah kebanyakan mungkin akan sedikit tertegun dengan semua goresanku diatas tubuhmu. tapi jangan kita merasa berbangga kawan, karena dibalik semuanya mungikn ada saja yang menghancurkan kita. tapi kita anggap santai. semuanya biasa.
tapi andai kematian itu memisahkan kita, tak bisa aku berbuat lebih untukmu..
kawanku, jadilah saksi hidupku untuk anak cucuku kelak..

Wednesday, November 10, 2010

Dampak Terbesar Gunung Merapi

dimulai dari awal erupsi yang langsung memakan korban jiwa dari Gunung Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010 semua penderitaan itu berawal. bukan penderitaan, tetapi cobaan. sebuah cobaan besar yang tentunya dari Tuhan yang Maha Esa, yang mungkin menuntut kita untuk selalu mengingatnya di setiap saat. bukan dari kemarahan dari si empunya merapi karena kurangnya sesajenan, tetapi memang tidak lain juga ini semua sudah sudah diatur oleh Tuhan YME. kesedihan memang tidak bisa dibendung lagi dari diri kita yang benar-benar memiliki rasa satu jiwa dengan saudara-saudara kita sebangsa tanah air. apalagi ditambah dengan bencana gempa dan tsunami di wasior, sumatra barat dan di papua. sunnguh mengenaskan dan memprihatinkan. gambaran seperti apa yang ditunjukkan oleh Tuhan adalah hanya sebagian kecil, mengingat negeri ini yang penuh akan kekotoran dn kemaksiatan, tiap badan pemerintah yang "dihandalkan" menjadi punggung negara malah bersikap dan bekelakuan sewenang-wenang. hanya mampu berucap janji kosong, yang tak berbuat sama sekali. tak hanya satu dua orang rakyat yang merasakan dampaknya, tetapi ribuan bung... hal ini tentu tak lepas pandangan ke arah pak SBY. kemitraan dan harga dirinya sebagai presiden serasa berjalan sehari. itupun tersendat sendat. bukan karena ia tak mampu bekerja keras. tetapi oleh karena para anggota dewan bawahan presidenlah yang selalu mengekang. enak duduk di kursi empuk sepertinya patut digantikan dengan timbunan abu vulkanik. udara semilir buatan penyejuk aura hitam mereka layak digantikan dengan panasnya wedus gembel..

Friday, November 5, 2010

bungaku telah berpulang ke syurga

mohon doanya ya wat ketenangan mala..
"mala??
ada apa??
dia telah kembali ke sang kholik
"innalillahi.... mala siapa????
siapa rum????? mala siapa??
kapan dia kembali???
amalatul munirah
"astaghvirullahaladzimmm
[Arum-san Sirohito]
tdi sorean
"kenapa rumm
"kecelakan di surabaya
laaila hailallah.. kecelakaann?? ketabrak rum??
ya di,,,

segelintir kata yang membuat aku tertegun, mengiris suasana hati yang tengah mencemaskan saudaraku yang menjadi korban keganasan Gunung Merapi. seketika kudapati kabar yang kuanggap masih simpang siur itu dengan santai, entahlah, hingga aku benar-benar berusaha mendapatkan kebenaran berita itu. yah... bukan hanya satu dua orang yang aku sapa tanya akan kepedihan kembali yang aku rasakan. kematian itu datang menghampirinya, betul adanya. seketika tak ada lagi kata-kata yang terlontar dari mulutku. terasa beku. dengan seketika tak terpikir lagi olehku untuk menggerakkan mouse ke tempat lain. Luka Kura Mala... kupijit alfabet diatas papan keyboard yang menyusun nama fesbuknya. belum sempat aku add. belum sempat pula kita menjalin hubungan sekedah berbincang-bincang. maklum, aku tak mau ingat masa lalu lagi. tanganku terasa melemas, hanya bisa mengelus-elus kepalaku yang terasa pening, sampaiku membuka cerita lama tentang dirinya.
bungaku telah gugur. bunga isyarat keremajaanku saat pertama kali menginjak bangku SMA. kulihat sosoknya, parasnya nyaris sempurnya. ketenangan sikap dan kearifannya membuatku penasaran akan gadis yang satu ini. tapi, siapa sangka, dia menjadi teman sekelasku. memang hambar rasanya, bila rasa cinta itu datang, entah tak mampu lagi tubuh ini untuk berbuat apa. hanya bisa bertanya dalam hati. seorang putri yang duduk di singgasana didekatku itu terlihat semakin rupawan bila kupandang. uraian rambut yang tak ditampakkannya semakin menandakan dia seorang gadis yang tak sembarangan, apalagi dari ucapannya saat menyapaku pelan. halus dan seperti hembusan angin yang menyertai lubang-lubang bambu. terdengar nyaring dn menyejukkan tentunya bila kurasakan. tetepi saat kulihat dikedua kelopak matanya, terlihat sebagai wanita yang lemah, tak memiliki banyak tenaga untuk melakukan aktivitas, walau sekedar berjalan.
aku benar-benar jatuh hati kepadanya. Amalatul Munirah. demikian namana tercatat di buku absensi yang sedikit-sedikit kulirik, terkadang kullihat di atas sampul bukunya yang bersih lagi rapi, kubertanya pada temannya, putri. semua meyakinkanku, aku telah mengenalnya. hingga kubiarkan waktu berjalan, aku biarkan harumnya bunga-bunga itu bertaburan. hanya mampu kurasakan, tak mampu aku menggenggamnya. mala, demikian dia menyebutkan nama panggilannya. semakin lama semakin indah. senyum manisnya selalu kuperhatikan, apalagi tawa kambingnya yang khas, membuatku selalu terhibur dan mengetahui keberadaannya walaupun ditengah-tengah kegaduhan kelas.
keganjalan itu muncul, lebih tepatnya keganjalan yang aku rasakan dengan dirinya saat dia hanya terduduk lemas dan lesu di bawah pohon mangga, sedang yang lain tengah sibuk melatih kebugaran tubuh. ya, tak elak lagi bagiku untuk mencari tahu. beberapa saat kemudian kudapati yang aku cari. air mataku terasa memecah. membelah kedua kelopak mata, menghancurkan puing-puing kebahagiaan. ternyata yang kulihat selama ini dengan kebahagiaan dan canda tawanya hanyalah hiasan belaka. untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi padanya. jantungnya lemah. entah dari keterangannya yang aku paksa, dia mengidapnya sejak kecil. tak mampu dia melakukan aktivitas yang berlebih seperti anak-anak biasanya. tapi ketegarannya membuatku lebih terasa memiliki dia.yang terbesit hanyalah bagaimana untuk membuat hatinya merasa bahagia. terkadang terbesit dalam pikirku, hidupnya tak akan lama lagi. suatu saat ia bisa saja terselungkur diatas tanah, pertanda tak mampu lagi menopang tubuhnya. tapi aku yakin, dia mampu bertahan. tapi tetap saja kecemasan itu menimpaku. tak tenang rasanya dan resah.
setahun telah berlalu, kini pengamatanku belum pudar darinya. terlihat segar, meski dia merasa sakit. tapi yang kulakukan hanyalah menghiburnya. memang aku bukanlah siapa-siapa untuknya. sebuah pernyataan cinta tak mampu kukatakan walau sedikitpun. sebuah kata persahabatan pun belum pernah terlontar dari mulutku. aku hanya mampu berpura-pura sebagai orang yang biasa, walau hati ini selalu menolak untuk melakukannya. aku merasa resah, walau sebuah kata persahabatan itu, karena suatu saat kelak akan memunculkan rasa itu lebih dalam. dan kini, memang waktu tak mampu ditunda. tak mampu dihentikan walau sesaat. perpisahan itu pastilah terjadi kala adanya perjumpaan. semakin berjalan pula rasa itu mulai terhapus dengan kedatangan inang yang baru.
penempatan statusnya sebagai mahasiswi di Semarang membuatku jauh darinya, yang aku ini hanya sekedar berdiri di kota harapan. beberapa saat tak kutanya kabar dirinya, dan inilah yang terjadi. kudapati dirinya saat nyawa terakhirnya..


untuk dia yang pernah kucinta..
selamat tinggal engkau yang jauh disana
maaf aku tak bisa berbuat apa apa
untuk bisa membuatmu bahagia
tapi setidaknya akan kukirimkan doa
untukmu di atas sana
kepergianmu takkan pernah membuatku menghilangkan semua,
akan rasa disaat kita bersama, walau tak terasa
tapi aku hanya mampu ucapkan cerita
disaat kau berakhir di ujung derita
tapi ini aku, yang selalu ada
maafkan aku bila pernah membuatmu terluka,

ya Allah ya Tuhanku..
selamatkan dia dari api neraka,
muliakan dia disisi engkau yang penuh bahagia..
cukuplah didunia dia menderita..
tapi, kuyakin di atas sana memang kehidupan yang nyata..