Hai teman-teman. Perkenalkan,
namaku Priska. Di sini, aku akan menceritakan pengalamanku yang sangat
memalukan. Begini ceritanya,
Ketika aku duduk di
kelas dua SD, teman-temanku selalu bilang kalau aku anak yang sangat manja.
Mulai dari memakai baju, menyisir rambut, hingga memakai sepatu pun semuanya
mama yang melakukan. Bahkan, ketika berangkat sekolah, meski jaraknya dekat,
aku tidak mau berjalan. Bagaimana menurutmu? apa aku ini anak yang manja?
tentunya tidak, hehehe. Eh, setiap hari aku meminta mama membantuku melakukan
itu semua loh, meskipun mama pernah menyuruhku untuk melakukan itu sendiri,
tapi aku ngambek tidak mau berangkat. Akhirnya, mama menuruti keinginanku
hingga aku menjelang kelas tiga. Tahu tidak? aku tidak melakukan sendiri karena
bagiku itu terlalu sulit. Alasan itu biasanya terlontar untuk mama sih, tapi
mama setuju-setuju saja tuh, hehe..
Nah, menginjak kelas
tiga SD, aku mempunyai teman yang bernama Bela. Antara usia dan tinggi badan
tidak berbeda jauh denganku sih, apa lagi kecantikanku. Kata mama, aku yang
lebih cantik sedikit dari Bela loh, hehe. Eh, tau tidak? setiap sore Bela
berkeliling menjual gorengan ibunya loh. Pertama sih aku sungkan membeli
gorengannya, tetapi setelah mama mencoba dan membelinya, aku mencobanya juga,
dan akhirnya aku menjadi ketagihan. Habis rasanya enak sih. Nah, sejak saat
itu, aku berteman dengannya.
Waktu terus berjalan. Aku
semakin menyadari, berteman dengannya bukanlah hal yang mudah. Tetangga selalu
membeda-bedakan antara aku dengan Bela. Ugh,
sialnya, aku selalu dibilang anak manja. Tak hanya itu, Bela yang sudah
mengetahui kebiasaanku, menjadi sok tahu, jika aku harus melakukan semuanya
sendiri. Seperti yang saya sebutkan diatas. Beberapa hari kemudian, aku merasa
bosan dengan nasihat dari Bela. Mentang-mentang ia sudah bisa melakukannya
sendiri, kataku dalam hati saat itu.
Esok harinya, menjelang
berangkat sekolah, aku tak menemukan seragamku di atas kasur. Tidak seperti
biasa yang dilakukan mama. Ah, sepertinya mama menyuruhku untuk melakukannya
sendiri. Tidak mau!, kataku dalam hati. Lalu dengan penuh amarah, aku segera
menuju kamar mama. Aku marah sekali sama mama. Tapi.. ternyata mama masih
tidur, tidak seperti biasanya. Lalu aku memanggil mama dan membangunkannya. Aku
kaget bukan kepalang ketika tanganku merasakan aliran panas dari badan mama!. Akupun
panik setengah mati. Aku tak bisa melakukan apapun. Saat itu terlintas dalam
pikiranku untuk meminta bantuan Bela, tetapi aku malu. Aku sudah membencinya,
tidak mungkin aku harus meminta tolong padanya. Tak lama kemudian mama
terbangun dan memintaku untuk mengambilkan segelas air putih.
“Mama lagi tidak enak
badan,”, kata mama lirih.
Karena sedang sakit,
aku terpaksa melakukannya sendiri. Mulai dari memakai seragam, menyisir rambut,
hingga mengikat tali sepatu. Karena takut terlambat, aku melakukannya
terburu-buru, tanpa memikirkan apapun. Yah, meskipun sebenarnya baru pertama
kali melakukannya sendiri sih. Sambil berlari sekuat tenaga, aku berangkat
sekolah. Dan tak lama kemudian aku sampai pada pintu kelas. Oopss... ternyata aku terlambat!. Di
sana, bu Dina sedang mengabsen anak-anak.
“Selamat pagi bu,”,
kataku setengah malu sambil masuk ke kelas.
Entah aku tak mendengar
balasan dari bu Dina, yang kudengar saat itu adalah suara gemuruh dari
teman-teman. Yah, mereka terlihat puas mentertawakanku. Bahkan, beberapa dari
mereka sampai meremas perut mereka. Aku benar-benar tak berdaya saat itu. Selanjutnya,
kulihat bu Dina sedikit merasa kesal dengan keterlambatanku. Tetapi dari
senyumnya sudah kubaca, jika ia memaafkanku.
“Silahkan duduk,”, kata
Bu Dina kemudian. Tetapi, mendadak kakiku terasa kaku, saat beberapa dari
teman-teman meneriakiku begini:
“Wah, rambutnya model
sapu ijuk tuh?”. Lalu disusul dengan teriakan lainnya. Mendengar teriakan
mereka, aku lalu meraba rambutku sendiri, dan ternyata mereka benar. Aku tak
menyisir rambut dengan sempurna. Aku maluuuu sekaliiii. Lalu dengan segera aku menundukkan
kepala. Di bawah, kulihat tali sepatu kiriku terlepas, dan yang lainnya masih
mengikat meski tak terlihat rapi. Dari sana, kemudian aku menelusuri tiap
bagian seragamku. Di sana, kutemukan bajuku yang tak masuk sempurna ke dalam
rok bawahku. Aku benar-benar malu. Saat itu pula, air mataku benar-benar tak
bisa terbendungkan lagi.
“Priska, kenapa?”,
tanya bu Dina pura-pura tidak tahu.
“A..anu bu,”, aku
menjawab agak gugup sambil memperhatikan penampilanku sendiri.
Bu Dina tersenyum, lalu
ia menyuruhku untuk merapikannya.
Apahh?, seruku dalam
hati terkejut. Penampilanku berantakan, itu karena aku melakukannya sendiri. Terus??
bagaimana caraku memperbaikinya? pikirku saat itu. Aku benar-benar tidak tahu
harus berbuat apa. Tak lama setelah itu, seseorang mendekatiku. Ia segera
meraih rambutku, lalu menyisirnya. Aku hanya pasrah melihatnya merapikan
bajuku, lalu mengikat dengan rapi dan kuat tali sepatuku. Aku benar-benar
berhutang budi padanya. Terima kasih Bela...
Bajuku kembali rapi.
Bela, temanku yang kubenci, justru menolongku. Dengan cekatan ia melakukan hal
yang tidak bisa aku lakukan. Akhirnya, sepulang sekolah aku meminta maaf dan
berterima kasih padanya. Lalu Bela mengatakan bahwa ia membantuku karena ia mengetahui
jika aku belum bisa melakukannya sendiri.
“Memangnya mama kamu ke
mana?”, tanya Bela penasaran.
Aku menceritakan semua,
bahwa ibu tidak mungkin memakaikan baju untukku, menyisirkan rambutku lagi,
hingga mengikatkan tali sepatuku, karena dia sedang sakit. Mendengar ceritaku,
Bela menawarkan diri untuk membantuku merawat ibu, termasuk mengajariku
bagaimana caranya melakukan pekerjaan rumah sendiri. Hal itu sangatlah mudah
bagi Bela, karena ia sudah terbiasa melakukan itu di rumahnya.
Beberapa hari berlalu,
aku sudah bisa melakukannya sendiri berkat pertolongan Bela. Kata Bela, kita harus
menjadi anak yang mandiri. Tidak selalu bergantung pada orang lain, apalagi
hanya memakai baju, menyisir rambut, dan mengikat sepatu. Oh iya, saat itu
juga, mama sembuh dari sakitnya. Alhamdulillah. Aku senang sekali, sama seperti
mama yang senang melihatku sudah mandiri.
oleh Tarmudi
Cerpen Anak - Mandiri Yuk!
No comments:
Post a Comment