NavBar

Monday, May 11, 2015

Cereta Pendek Anak "Hadiah Ulang Tahun Terindah"

Aku tak sabar lagi untuk sampai di rumah. Aku ingin sekali melihat persiapan yang mama buat untuk hari ulang tahunku besok. Mungkin sudah membuat kue, ataupun hiasan kamar untukku. Aku benar-benar ingin melihatnya!
“Mamah....”, seruku sambil memasuki rumah. Tak ada jawaban satupun yang hadir menyambutku. “Mah....”, seruku lagi sambil menyelusuri tiap ruangan. Dapur, kamar mandi, taman, kemudian di kamar mama dan papa. Tetapi ternyata kamar mereka  terkunci rapat. Tak menemukan mama, aku segera berlari ke raung tengah. Di sana ada kakek.
“Kek.. lihat mama tidak?”
Sepertinya kakek tak mendengarku, hingga memaksaku untuk menghampirinya. “Kek, lihat mama tidak?”, tanyaku lagi. Kakek hanya melengos pasrah, lalu sambil menunjuk ke arah luar jendela, ia berkata, “Mama kamu tadi keluar sama adikmu, Clara,”
“Keluar? kemana kek?”, tanyaku penasaran. Kakek hanya menggelengkan kepala tak tahu. “Lagi membeli kue ulang tahun Dina ya kek?”, tebakku girang. Masih menatap layar televisi, kakek hanya mengangkat bahu. Sepertinya ia benar-benar tidak tahu kemana mama pergi. Ah, mungkin dugaanku benar, pikirku. Kemudian tanpa bertanya lagi, aku mencium tangan kakek lalu segera berlalu menuju kamar. Kamarku mungkin sudah berhiaskan balon, pikirku.
Sesampai di kamar, aku tak menemukan perubahan satupun. Tidak ada balon, ataupun riasan istimewa. Ah, mungkin nanti, pikirku lagi tak berburuk sangka. Lalu aku segera mengganti pakaian dan merebahkan diri di atas kasur. Hari itu aku merasakan lelah yang luar biasa. Demi melihat kejutan yang biasa mama berikan di hari ulang tahunku, aku rela berlari ke rumah sejak pulang sekolah. Karena, aku pikir semua kelelahan itu akan hilang begitu aku melihat kejutan untuk ulang tahunku yang ke sebelas.
*****
“Kak, bangun...!”, jemari mungil kurasakan menggoyang-goyangkan badanku. Mataku terasa berat untuk kubuka. “Kak... sudah sore,”, ucapnya lagi. Lalu kupaksakan diri untuk membuka mata, dan menatap jam yang menempel di dinding kamarku.
“Hah?!! sudah sore!”. Aku terkejut. Jam empat sore. Aku segera berlarian keluar kamar, tanpa menghiraukan perempuan yang membangunkanku. “Pah...”, ucapku lantang ke seluruh ruangan rumah. Tapi sepertinya papa tidak ada. Biasanya pulang dari kantor jam empat tepat. Apalagi di hari ulang tahunku besok, pasti papa akan memberikan kado yang istimewa buatku.
“Kak.. papa belum pulang,”,kata seorang perempuan yang telah membangunkanku. Clara, sejak dari kamar, selalu saja mengikutiku. Kata teman-temanku, wajahnya mirip denganku. Hanya berbeda ukuran tubuh yang tentunya aku lebih besar darinya.
“Terus, mama di mana?”, tanyaku padanya.
“Mama di dapur, lagi membuat kue,”
Segera setelah mendengar ucapan Clara, aku langsung menuju ke dapur. “Mama... ternyata mamah masih ingat ulang tahunku,”, seruku sambil menghampiri mama dan langsung memeluknya dari belakang.
“Dina, untung saja kuenya tidak jatuh,”, ucap mama sambil memindahkan kue ulang tahun buatannya di atas meja makan.
“Mah, pasti mama membeli baju ulang tahun buat Clara, kan?,”, aku menerka.
Sambil menghiasi kue ulang tahun di hadapannya, mama menjawab, “Baju ulang tahun kamu yang kemarin kan masih baru? juga masih muat kan?”,
“Iya sih mah, tapi kan ini kan ulang tahun Dina yang baru juga? seharusnya baju Ulang tahun Dina baru juga dong,”, kataku membela diri.
Mendengar ucapanku, mama langsung berhenti menghiasi kuenya sesaat. Lalu badannya merendah, hingga wajahnya tepat dihadapan wajahku. Polesan lipstik di bibirnya terlihat mengembang karena senyumnya. “Dina, anak mama yang cantik dan pintar, baju tidak perlu yang baru. Yang terpenting adalah Dina bersyukur dengan usia Dina yang bertambah. Dan alangkah bagusnya lagi jika uang itu digunakan untuk membantu orang lain,”, kata mama menasehatiku.
“Dina kecewa sama mama...”, ucapku langsung berlari menuju kamar meninggalkan mama sendiri. Harapanku mendapatkan baju baru telah kandas. Kalau seperti itu, lebih baik tidak ada perayaan sekalian, kataku dalam hati. Masak aku harus memakai baju yang sama seperti tahun lalu?
*****                                                                                                                                    
“Dina... Selamat Ulang Tahun sayang,”, suara papa membangunkanku. Aku langsung memeluk papa erat. Aku berharap papa bisa membelikanku baju baru.
“Papa beli baju baru buat Dina tidak?”, tanyaku besemangat.
Bulu kumisnya melebar saat senyumnya mengembang. “Tidak sayang,”, jawab papa sambil memelukku.
Sepertinya ulang tahunku ini benar-benar ulang tahun yang menyedihkan. Papa, mama, semuanya kompak tidak membelikanku baju baru. Mendengar jawaban papa, aku kecewa dan langsung merebahkan diri ke kasur kembali, lalu menutup badanku dengan selimut.
“Dina, sudah siang. Memangnya Dina tidak mau merayakan ulang tahun?”, bujuk papa.
“Pokoknya Dina tidak mau keluar kamar lagi. Dina tidak mau ada perayaan Ulang tahun. Semuanya percuma kalau baju Dina sama seperti kemarin.”
“Dina tidak mau kejutan dari papa?”
“Kejutan apa?”, tanyaku penasaran sambil mengintip papa dari balik selimut.
“Nanti kalau papa kasih tahu, namanya bukan kejutan dong?”, kata papa merayuku.
Aku sungguh dibuat penasaran oleh papa, hingga aku menuruti semua perkataannya. Memakai baju ulang tahun yang sama seperti tahun lalu. Mungkin kejutan itu baju baruku, pikirku menebak-nebak.
Beberapa saat kemudian semuanya telah siap. Aku menarik nafas dalam, lalu membuka pintu kamar sedikit-sedikit. Dengan gaun lamaku, aku bersiap menyambut teman-teman yang sudah menanti kedatanganku.
“Dina, ayo cepat turun..!”, teriakan papa mempercepat langkahku menuruni tangga.
Sesampai di ruang tamu, semuanya terasa sunyi. Tak ada orang lain selain mama, papa, Clara dan kakek yang berdiri di sana.
“Pah, mah, kok sepi sekali? dimana mereka? teman-teman Dina?”, tanyaku bingung.
Mama menghampiriku segera, lalu berkata, “Dina, kali ini papa dan mama tidak merayakan ulang tahunmu di sini, tetapi di tempat yang lebih indah lagi,”.
Aku ingin berlari masuk ke kamar dan berteriak, tetapi pelukan mama menghalangiku. Aku benar-benar kecewa. Sudah tidak dibelikan baju baru, ditambah perayaan ulang tahun yang kali ini entah dimana. Mataku serasa mau pecah saat itu.
“Sayang... masih ingat janji papa?”, kata papah sambil menghampiriku.
Aku hanya mengangguk pelan, sesekali kurasakan ada sesuatu yang mencekik leherku, membuatku tak mampu berbicara. Tetapi papa dan mama terus membujukku hingga aku dibuat luluh.
*****
“Pah, mah.. kok ke sini?”, tanyaku heran saat papa menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah papan yang terpampang jelas, “PANTI ASUHAN SUMBER KASIH”.
Mama dan papa tidak menjawab pertanyaanku. Kemudian pertanyaan sama juga aku lontarkan untuk Dina dan kakek, tetapi mereka hanya bisa mengangkat bahu tak tahu.
“Pah, mah, tidak salah tempat kah? Dina tidak mungkin merayakan ulang tahun di sini kan?”
“Nanti kamu tahu sendiri,”, jawab papa melempar senyum.
Ulang tahunku kali ini benar-benar berbeda. Ya, berbeda menjadi sangat menyedihkan. Apalagi kalau perayaannya di panti asuhan, kataku dalam hati.
Mama menghampiriku yang -berdiri mematung- tak mau mengikuti mereka masuk ke dalam panti asuhan. “Dina, mukanya jangan cemberut begitu dong. Nanti cantiknya hilang loh,”, hibur mama sambil memegang pipiku. “masih mau tahu kan, kejutan dari papa?”, lanjut mama sambil melirik ke arah papa yang ternyata sudah membawa kue ulang tahunku. Papa membalas dengan senyuman, lalu berlalu mendekati pintu masuk panti.
Mendengar ucapan mama, aku tersenyum paksa. “Nah, begitu dong, kan kelihatan cantik..”,puji mama. Kemudian dengan menggenggam tangan mama, aku menyusul papa, Dina dan kakek yang ternyata sudah disambut oleh penjaga Panti.
Sesaat ketika sampai di bibir pintu, aku melihat puluhan pasang mata penghuni panti menyambutku dengan nyanyian yang diiringi dengan suara tepukan.
Selamat Ulang tahun Dina...
Selamat Ulang tahun Winda...
Selamat Ulang tahun semuanya..
 “Mah...”, ucapku setengah bingung. Ulang tahunku benar-benar di rayakan di panti ini, kataku dalam hati. inikah kejutan dari papa?.
Belum sempat menjawab kegundahanku, tiba-tiba seorang perempuan menyodorkan tangannya padaku. “Hai Dina, selamat ulang tahun yah,”, ucapnya kemudian.
Aku segera berlalu dari perempuan itu tanpa membalas jabatan tangannya. Lalu segera aku menghadap mama. “Mah...”
Mama hanya tersenyum merapatkan gigi. Dengan matanya, mama menyuruhku utnuk segera membalas jabatan perempuan itu. Lalu, dengan senyuman datar, aku mengikuti kata mama.
“Dina, kesini yuks,”, ajak papa yang ternyata sudah meletakkan kue ulang tahunku di atas meja.
Aku dan mama lantas menghampiri papa. Terlihat, anak-anak panti melihatku penuh dengan antusias. Mereka mengenakan baju biasa, bukan baju pesta ulang tahun. Bahkan, baju bermainku sepertinya masih lebih bagus dari baju mereka, pikirku. Sedangkan di atas meja, kue ulang tahun buatan mama berdiri kokoh, dan terlihat sangat indah serta nikmat dengan taburan cokelat dan berhiaskan patung lilin cantik. Tepat di sampingnya, aku juga melihat kue sedang, yang ukurannya lebih kecil dari kue ulang tahunku dan hanya berhiaskan lilin putih.
Selamat Ulang tahun Dina...
Selamat Ulang tahun Winda...
Selamat Ulang tahun semuanya..
Anak-anak panti tampak riang menyanyikannya kembali. Tetapi, aku merasakan ada yang aneh dengan lagu itu. “Winda? siapa dia?”, tanyaku dalam hati.
“Selamat Ulang tahun Dina,”, dengan senyuman, seorang perempuan yang pernah mengucapkan selamat itu melakukan lagi.
“Itu Winda, salah satu anak panti di sini.  Kebetulan saja, tanggal lahir kalian sama,”, bisik mama segera saat melihatku terdiam heran melihat tingkah perempuan itu.
Winda? Perempuan di hadapanku itu berpakaian sama seperti anak-anak panti yang lainnya. Tidak memakai baju Ulang tahun. Rambutnya pun hanya diurai seadanya. Tetapi ia terlihat sangat bahagia di hari ulang tahunnya itu. Berbeda denganku, yang masih enggan merayakan ulang tahunku saat ini.
“Baju Clara bagus sekali,”, puji Winda sesaat setelah tanganku membalas jabatan tangannya. Entah kenapa, aku merasa tidak pernah bersyukur selama ini. Baju ulang tahun yang sebenarnya aku enggan untuk memakainya, bahkan dipuji oleh Winda.
tiup lilinnya...tiup lilinnya
tiup lilinnya sekarang juga... sekarang juga
Anak-anak panti melanjutkan nyanyian dan memerintahkan kami untuk segera meniup lilin. Kali ini aku sedikit berbahagia. Aku menjenjangkan kaki agar bisa meniup lilin di atas kue ulang tahunku yang lebih tinggi. Sedangkan di sampingku, Winda. ia sedang menunduk bersiap meniup lilin di atas kue ulang tahunnya yang kecil itu. Dengan senyumannya, aku melihat kebahagiaan benar-benar ada dalam dirinya.
Selesai acara, tiba-tiba papa menyodorkan sebuah kado. Inikah kejutan papa?, pikirku sambil membukanya segera. Aku terkejut ketika yang kulihat adalah baju ulang tahun yang cantik. “Papa... terima kasih,”, ucapku langsung memeluk papa.
“Dina, ini buat kamu,”. Winda menghampiriku sambil menyodorkan rajutan kain. Tanpa berpikir ulang, aku segera melebarkan kain itu, yang ternyata sarung bantal cantik bertuliskan DINA. “Ini buatanku loh,”, lanjut Winda lagi. Sesaat mendengar ucapannya, aku merasa senang. Sebuah hadiah spesial di hari ulang tahunku.
“Terima kasih Winda..”, balasku sambil memeluknya.
Aku harus memberikan sesuatu untuk Winda, Pikirku. Tapi, tak ada satu kadopun yang aku persiapkan, karena kupikir aku lah yang mendapatkannya, karena memang ini acara ulang tahunku. Tetapi bagaimanapun juga, Winda juga memiliki tanggal lahir yang sama denganku. Lalu aku menatap hadiah dari papa. Setelah itu, kupandang papa. Papa mengangguk sepertinya sudah membaca isi pikiranku.
“Ini buat kamu..”, kataku sambil menyodorkan baju ulang tahunku dari papa.
“Kamu yakin?”, tanya Winda ragu. Dia terlihat sangat bahagia menerima hadiah dariku. Aku mengangguk yakin, lalu segera memeluknya lagi. Aku sudah senang dengan baju ulang tahun yang kupakai sekarang. Dan aku belajar banyak hal dari Winda. Walaupun tanpa baju ulang tahun, kue yang besar, juga perayaan yang sederhana, tetapi dia tetap terlihat  bersyukur dan bahagia.

oleh Tarmudi
cerita pendek anak 3 -sayembara puskurbuk

Cerita Pendek Anak "Sepatu Baru Rio"

“Pokoknya ibu harus belikan Rio sepatu baru. Titik!”, pinta Rio paksa.
“Rio, sabar ya, nanti kalau sawah pak Ali panen, pasti ibu belikan,”, bujuk bu Marni pada Rio.
Lalu, sambil bangkit dari kursinya, anak bu Marni yang masih duduk di kelas 3 itu berkata lagi, “Rio gak mau sekolah kalau ibu tidak belikan Rio sepatu baru!”.
Begitulah permintaan Rio pada bu Marni akhir-akhir ini. Ia pun hanya bisa mengelus dada setiap menghadapi anak bungsunya itu. Penghasilannya yang tak menentu memaksanya hidup dalam serba kekurangan.Sebagai pekerjaan rutin, bu Marni biasa menggarap dan menanam tanaman padi di sawah pak Ali, tetangganya. Sambil menunggu masa panen tiba, terkadang wanita separuh baya itu merangkap pekerjaan menjadi buruh cuci. Keadaan saat itu memang menjadi keadaan tersulit yang ia lewati bersama kedua anaknya, sepeninggal suaminya, ayah Rio karena sakit keras. Selain itu, dari beberapa pekerjaan suaminya semasa hidup, hanya ada satu yang bisa ia gantikan, yaitu bertani. Selebihnya, seperti menjadi sopir angkot, dan karyawan bengkel tidak bisa ia lakukan karena membutuhkan keahlian yang khusus dan sangat berat untuk wanita separuh baya seperti dia.
Saat ini, ia hanya bisa mengharapkan hasil panen untuk bisa memenuhi keinginan Rio, pikirnya.
“Rio...”, ucap bu Marni memanggil Rio yang sudah berlari terisak-isak ke luar kamar. Kemudian dengan segera ia menyusul anak bungsunya itu. Namun, sesampai di bibir pintu, bu Marni menjumpai seorang laki-laki yang masih berseragam sekolah merah-putih lengkap dengan atributnya. Tubuh anak laki-laki itu sekitar sepuluh sentimeter lebih tinggi dari anak bungsunya, Rio. Wajahnya hampir tak bisa dibedakan dengan Rio. Dilihatnya, anak laki-laki itu tersenyum, dengan matanya yang berkaca-kaca.
 “Ibu..”, sapa anak laki-laki itu sambil menjabat tangan bu Marni lalu menciumnya.
 “Galang, sudah pulang?”, tanya bu Marni sambil mengusap rambut anak sulungnya tersebut.
“Di sekolah ada rapat, jadi Galang pulang lebih awal.”, balasnya sambil melepas jabatan. kemudian ia segera menunduk menyembunyikan lelehan air matanya.
Tak sengaja, tetetan air matanya jatuh diatas telapak kaki ibunya. “Galang, kenapa? kok menangis?”, tanya bu Marni yang sudah mensejajarkan diri dengan Galang.
Galang mengusap segera air matanya. Lalu ia mengangkat kepalanya segera sambil melemparkan senyum,”Tidak apa-apa bu. Ini mungin kelilipan,”, sanggahnya.
“Oh, kelilipan...”, balas bu Marni mengembalikan senyum. “Ya sudah, Galang ganti baju dulu, terus jangan lupa makan siang.”
Galang mengangguk pelan. Kemudian bu Marni mulai meninggalkannya. Perasaannya berbeda. Dia merasakan anak pertamanya itu sedang dirundung kesedihan. Dengan sekuat apapun galang menyembunyikannya, bu Marni tetap akan merasakannya. Sambil berjalan menghampiri Rio yang entah ke mana, sesekali bu Marni mencuri pandang pada Galang yang tengah tertunduk menatap sepatunya.
*****
Di dalam kamar, diatas kasur yang sempit, laki-laki yang duduk di kelas 6 itu mulai memainkan jemarinya diatas selembaran kertas. Sorotan matanya mengikuti setiap susunan angka yang ia tunjuk. Mulutnya berkomat-kamit membaca jeli catatan tabungannya.
“Tinggal sedikit lagi..”, katanya sambil tersenyum. Kemudian segera beralih melepas sepatunya. Sepatu yang sudah menjadi bagian dari hidupnya kini telah berlubang. Wajar saja, sepatu yang dibelikan oleh ayahnya tiga tahun silam itu tidak bisa menopang ukuran telapak kakinya yang semakin bertambah panjang. Tak jarang, ia harus melipatkan jari kakinya untuk bisa tepat masuk di tiap ruang sepatunya. Mata Galang benar-benar jeli memandang setiap bagian sepatunya. “Terima kasih..”, ujarnya pelan pada sepatunya. Ia teringat saat beberapa minggu yang lalu, sepulang sekolah, ia melihat harga sepatu di toko MURAH. Dari sisi model yang sederhana dan ukuran yang pas buatnya, ia berniat akan membeli sepatu itu. Baginya, harga sepatu itu paling murah, meski baginya jumlah itu masih berharga mahal. Tetapi sepertinya keinginan Galang untuk membeli sepatu baru sangat kuat. Apalagi menjelang SMP nanti, telapak kakinya pasti semakin bertambah panjang dan besar, pikirnya. Hal tersebut membuatnya selalu menyisihkan uang saku. Karena minta sama ibu tidaklah mungkin, pikirnya lagi. Bahkan, ia tak bisa secara rutin mendapatkan uang saku. Itu saja kalau bu Marni dapat dari jatah mencuci. Jika uang saku tak mencukupi, Galang selalu mengalah dan lebih rela diberikan untuk adiknya, Rio. Karena bagaimapun juga Rio adalah anak kecil yang belum mengerti betul akan kehidupan yang mereka jalani.
******
Seminggu sudah Galang membantu ibunya sebagai buruh cuci. Sudah seminggu pula Rio, adik Galang tak mau berangkat ke sekolah. Sudah berulang kali bujukan diberikan, tetapi masih saja si bungsu tetap dengan pendiriannya itu. Meskipun begitu, Galang tidak membiarkan adiknya menjadi anak yang bodoh. Oleh karena itu, setiap malam ia selalu menemani Rio untuk belajar di rumah dan meski dengan bujukan akan dibelikan sepatu.
“Nak, kamu istirahat dulu. Biar ibu yang menyelesaikan,”, ujar bu Marni sambil memeras cucian.
“Galang belum capek bu. Nanti saja, kalau cuciannya sudah selesai.”, balas Galang sambil tetap menyikat pakaian.
Mendengar jawaban anak sulungnya itu, bu Marni menghentikan memeras cuciannya sesaat.
“Ya sudah,”, balas bu Marni menyerah. “Kamu sudah bujuk adikmu agar mau berangkat sekolah?”, tanya ibu Galang meneruskan.
“Sudah bu. Tapi dia tetap tidak mau. Malu sama teman-temannya, katanya.”
“Ibu sudah beberapa kali membujuk, tapi jawabannya cuma sepa.....”, papar bu Marni tak melanjutkan.
“Sepatu?”, ucap Galang melanjutkan. “Nanti Galang belikan. Galang punya tabungan kok, nanti kalau sudah cukup, buat membeli sepatunya Rio,”
“Tapi..”
“Sudahlah bu,”, potong Galang sepertinya mengetahui betul akan ucapan bu Marni selanjutnya. “Kalau masalah sepatu Galang, nanti saja. Itu lebih baik daripada Rio tidak bersekolah,”, ucapnya lagi sambil melempar senyum.
Bu Marni benar-benar tertegun mendengar semua ucapan Galang. Anak sulungnya itu selain dikenal mandiri, juga dikenal pintar oleh teman-temannya. Bahkan, dia mendapatkan beasiswa masuk SMP, sampai-sampai tak sepeser pun uang yang dikeluarkan bu Marni untuk anaknya itu.
****
Menjelang hari pertama masuk SMP, Galang terus dibayang-bayangi dengan sepatunya yang sudah tak layak pakai. Tetapi bayangan itu segera ia tepis setelah memikirkan adiknya, Rio. Ia lebih memilih membelikan sepatu untuk adiknya, daripada untuk dia sendiri. Rasa sayang Galang ternyata sungguh besar pada adiknya itu.
“Galang... ibu punya sedikit uang,”, ucap bu Marni sambil menyodorkan selembaran uang. Jumlahnya memang tak banyak, tetapi setelah dihitung-hitung, jika digabungkan dengan tabungan Galang, uang itu sudah cukup untuk membeli sebuah sepatu baru. Bahkan ia masih bisa mendapatkan uang. “Ini uang dari mencuci kemarin,”, lanjut wanita tua itu.
“Bu, ini cukup buat membeli sepatu Rio,”, balas Galang tersenyum setelah menghitung jumlah uang di genggamannya.
Dari dalam kamar, tiba-tiba muncul Rio yang langsung berteriak kegirangan. “Horeee....!! Rio beli sepatu baru!!!”, serunya ceria sambil memutari kakak dan ibunya. Ternyata, sejak tadi Rio antusias mendengar isi percakapan Bu Marni dan Galang di balik pintu kamar.
Melihat adiknya kembali ceria, Galang lantas segera memeluk Rio. Lalu, diikuti dengan pelukan bu Marni yang bangga memiliki anak seperti Mereka.
“Rio, sekarang mau berangkat sekolah kan?”, tanya Galang memastikan.
Rio manggut-manggut mengiyakan.“yuk, kita pergi ke toko!”, ajaknya kemudian bersemangat.
Galang balas mengangguk setuju. Sedangkan bu Marni tersenyum setengah melihat keceriaan Rio. Karena kebahagiaan Rio tak bisa dirasakan pula oleh kakaknya, pikir bu Marni. Selepas berpelukan, Rio segera menarik kakaknya ke dalam kamar. Sesampainya, dengan sigap, tangan lembut Rio meraih sepatunya.
“Kak Galang, Rio mau ucapin selamat tinggal sama sepatu Rio..”, kata Rio polos sambil menyodorkan sepatunya.
“Itu.. itu sepatu kak Galang,”, balas Galang sambil terkekeh, saat melihat Rio yang ternyata mengambil sepatunya. “Tuh, sepatu Rio ada di bawah meja.”, lanjut Galang sambil menunjuk.
Entah kenapa, tiba-tiba Rio terdiam seketika. Sorotan matanya menjalar ke setiap sisi sepatu yang ia genggam. “Kak, sepatu kak Galang....”, katanya tak melanjutkan.
Galang segera merebut sepatunya dari genggaman Rio. “Ah, sepatu kak galang bagus kan??”, ucapnya lagi terkekeh. “Yuks, jangan lama-lama. Nanti tokonya tutup loh..”, ajaknya kemudian.
Yuks, Rio sudah tidak sabar nih,”, balas Rio bersemangat.
Meski terasa berat, Galang berusaha kuat demi kebahagiaan adiknya. Rasa sayangnya semakin besar ketika ayah mereka meninggal. Terlebih, ayahnya berpesan agar Galang harus selalu menjaga Rio.
Di toko sepatu, dua orang bersaudara itu sibuk memilah-milah sepatu yang sesuai untuk Rio.
“Rio.. yang ini bagus,”, kata Galang sambil menyodorkan sepatu.
Tanpa pikir panjang, Rio segera menyusupkan kakinya mencoba sepatu itu. Rio tersenyum ceria. Wajahnya tak nampak kesedihan sedikitpun. Hingga kemudian ia berlenggak-lenggok di atas sepatu yang ia coba.
“Bagaimana? suka tidak?”, tanya Galang. Wajahnya tak kalah dengan adiknya, penuh dengan senyuman. Sekali lagi, bagi Galang, kebahagiaan Rio adalah kebahagiaannya juga.
“Rio suka sekali kak,”, pangkas Rio kemudian.
Galang nyengir kuda, lalu berkata, “Kalau suka, ambil saja. Kan kakak yang bayar?”
Entah kenapa, tiba-tiba raut wajah Rio berubah. Segera ia berlari menghampiri Galang. “Kak Galang tidak membeli sepatu juga? kan sepatu kakak rusak?”, tanya Rio sambil mengangkat kepala menatap kakaknya.
Mendengar pertanyaan adiknya, Galang terkekeh, lalu ia memencet hidung Rio pelan. “Kamu ini. Kan sepatu kakak masih bagus?”, jawabnya menghibur. Mendengar jawaban kakaknya, Rio tertawa. Lalu dengan segera ia melepaskan sepatu yang sedang ia coba. Ditengah-tengah, ia tampak sedang memikirkan sesuatu.
Sesaat kemudian, Galang langsung membawa sepatu itu ke arah kasir.
Belum sampai pada tempat pembayaran, tiba-tiba Rio memanggil kakaknya. “Kak!”
Galang berhenti melangkah, lalu ditatapnya mata Rio, “Ada apa lagi?”
“Rio tidak suka sepatunya. Cari yang lain saja yuks?”, ajak Rio kemudian.
Galang terheran mendengar pernyataan adiknya itu. “Loh, tadi bilangnya suka?”
Rio terdiam sejenak memikirkan jawaban. “Hem....”, gumamnya. “Itu kan tadi. Tapi, sekarang Rio tidak suka,”
“Terus maunya gimana?”, tanya Galang menawarkan.
“Beli di lain tempat saja,”, balas Rio tersenyum.
Tanpa berpikir panjang, Galang menuruti keinginan adiknya. Mereka kemudian kembali mencari sepatu di toko sebelah. Pandangan Galang terpusat pada setiap toko sepatu yang ia jumpai. Berbeda dengan adiknya, Rio yang terlihat sibuk memandang tiap lapak pedagang yang berjejer di tepi jalan. Tak berapa lama, mereka sampai di depan toko sepatu yang berbeda dari sebelumnya. “Yuks, masuk!”, ajak Galang kemudian sambil menggenggam tangan mungil adiknya.
“Tunggu kak!”, ucap Rio mencegah.
Galang merendahkan badannya, mensejajarkan diri dengan Rio. “Ada apa?”
“Itu!”, jari mungil Rio menunjuk ke salah satu tumpukan sepatu di seberang jalan. “Rio ingin sepatu yang di sana!”, pintanya kemudian.
Galang terkejut saat menyusuri jari telunjuk adiknya. “Loh, itu kan sepatu bekas?”
“Tapi Rio suka,”, ucapnya sedikit memaksa. Tanpa menyanggah, seperti biasa, Galang menuruti permintaan adiknya tersebut. Kemudian mereka menyeberangi jalan dan menuju tempat yang dimaksudkan Rio.
“Kak, kita beli di sini saja, biar kak Galang juga punya sepatu baru seperti Rio,”, bujuk Rio kemudian.
“Maksudnya?”, Tanya Galang tak mengerti.
“Rio ingin kak Galang juga memakai sepatu yang baru. Biar ini sepatu bekas, tapi kalau dicuci pasti baru lagi. Dan tentunya... murah meriah!”, papar Rio lagi.
Mendengar ucapan adiknya, mendadak senyumnya tak bisa disembunyikan lagi. Lalu ia segera memeluk erat laki-laki yang di hadapannya tersebut. “Rio baik sekali. Kakak bangga punya adik seperti Rio,”
“Siapa dulu dong kakak Rio, kak Galang..”, balas Rio tersenyum riang.
Ternyata, pikiran Rio berubah saat ia mengingat keadaan sepatu kakaknya yang ternyata lebih parah dari miliknya. Tidak ada yang bisa dilakukan Rio untuk membahagiakan kakaknya, selain membagi kebahagiaan tersebut, pikirnya saat itu.
Kini, kedua bersaudara itu pulang dengan membawa dua pasang sepatu. Ternyata, harganya separo lebih murah dari harga sepatu di toko. Walaupun sepatu bekas, yang terpenting bagi mereka masih bisa digunakan, dan tentunya untuk kebahagiaan bersama.

oleh Tarmudi
Cerpen anak saat sayembara Puskurbuk '12

Cerita Pendek Anak "Kerjakan PR, Yuk!"

Pukul 06.50. Sepuluh menit lagi bel masuk berbunyi. Anak-anak bergegas masuk ke kelas bersiap untuk menyambut kedatangan bu Risma, guru kelas 4. Di deretan bangku kedua, terlihat seorang  anak laki-laki dengan rambutnya yang berantakan sedang menggerak-gerakkan pulpen dengan cepatnya. Berbeda jauh dengan Raffi yang rambutnya yang tersisir rapi,  raut wajahnya tampak tenang duduk di samping anak tersebut.
Tettt...tettt..!!! bel berdering berulang-ulang, mengisyaratkan pelajaran pagi itu sudah siap untuk dimulai. Sesaat suasana kelas menjadi tenang seketika. Beberapa pasang mata menyudutkan pandangan pada bibir pintu menanti sosok bu Risma. Masih pada anak laki-laki yang duduk di samping Raffi, Ia masih saja sibuk menulis sesuatu, tanpa mengacuhkan bel masuk.
“Selamat pagi anak-anak,”, sapa seseorang yang muncul dari balik pintu kelas tiba-tiba. Sosok wanita yang ditunggu-tunggu itu hadir. Wajahnya yang asri melemparkan senyuman ramah.
“Selamat pagi bu guru..”, balas anak-anak sambil berdiri kompak.
“Don! ada bu Risma!”, bisik Raffi sambil menendang sepatu Doni pelan. Doni tak perduli, tak menyadari kedatangan bu Risma dan tetap menyibukkan diri dengan bolpoinnya.
Melihat hanya Doni yang masih duduk, bu Risma langsung berdiri di depan kelas, “Doni...”, tegur bu Risma kemudian.
Doni masih acuh. “Don!”, ucap Raffi lagi sambil menendang sepatu Doni kedua kalinya. Kali ini tendangan sepatunya benar-benar membuat Doni tersentak hingga menghentikan polesan tinta diatas bukunya.
“Ada apa sih..??”,kata Doni segera sambil menatap Raffi sinis.
“Tuh, ada bu Risma.”, jawab Raffi melempar pandangan ke depan kelas.
Doni lalu mengikuti arah pandangan Raffi dan ...”Selamat pagi bu!!”, ucapnya lantang sambil berdiri. Sontak keadaan kelas menjadi ramai, dipenuhi tawa anak-anak akan tingkahnya.
Bu Risma hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian...
“Kumpulkan PR-nya ke depan!”, pinta bu Risma lantang -tanpa basa-basi-. Sejurus kemudian, seluruh muridnya bergegas melaksanakan perintahnya itu. Lalu hanya dalam hitungan detik, tumpukan buku di atas mejanya sudah menggunung.
Seperti biasa, sebelum bu Risma menilai Pekerjaan Rumah muridnya, ia membaca satu-persatu si pemilik buku. “Sinta...Rieke...Andy...Fadil...”
Sesaat setelah selesai membaca, bu Risma menemukan kejanggalan. “Ada dua anak yang belum mengumpulkan,”, katanya sambil menyebarkan pandangan penuh selidik. Sontak  semua muridnya dibuat kaget, lalu mereka berusaha meyakinkan diri jika mereka sudah mengumpulkan. “Siapa yang belum mengumpulkan PR?”, tanya bu Risma kemudian. Sebenarnya bu Risma sudah mengetahui dua anak yang belum mengumpulkan PR, tetapi ia ingin mengetahui kejujuran dan kesadaran dari dua muridnya tersebut. Hingga setelah beberapa menit menunggu, tak ada seorangpun yang mengaku. Lalu dilihatnya Raffi yang mencoba mengacungkan tangannya ragu.
“Ya, Raffi. Ada apa?”, tanya bu Risma.
“A...anu bu,”, jawab Raffi tergagap.
Bu Risma menyernyitkan dahi berpura-pura tak paham. “Anu apa?”
“Anu bu... buku saya masih dipinjam Doni,”
Sesaat setelah mendengar namanya disebut, Doni berhenti dari menulisnya dan langsung mengembalikan buku Raffi yang dipinjamnya. Bu Risma tersenyum bangga mendengar kejujuran dan keberanian Raffi.
“Doni dan Raffi, ayo, kumpulkan bukunya,”, perintah bu Risma lagi. Raffi langsung melaksanakan perintah  dari Bu Risma, sedangkan Doni terlihat enggan melaksanakannya. “Doni..?”,lanjut bu Risma mengingatkan.
“A..anu Bu..”, katanya setengah ketakutan.
“Selesai maupun tidak selesai, harus dikumpulkan.”, Potong Bu Risma tak mau tahu. Sepertinya bu Risma sudah kenal betul kebiasaan buruk Doni. Tidak pernah mengerjakan Pekerjaan rumah.
Masih di bangku baris kedua, sambil membawa bukunya, Doni melangkahkan kakinya ragu. Raut wajahnya tampak memerah menanggung malu. Sedangkan teman-temannya hanya menggeleng-gelengkan kepala dibuat takjub oleh kebiasaan buruk Doni yang terus dilakukan berulang-ulang.
“Baiklah, anak-anak. Siapkan selembar kertas sekarang.”, pinta bu Risma sesaat setelah Doni kembali ke tempat duduknya.
“Buat apa bu?”, tanya salah seorang siswa.
Bu Risma hanya melempar senyum tanpa menjawabnya. “Sudah siap?”, ucapnya lagi.
“Ulangan yah bu?”, tanya salah seorang lagi.
“Nomor satu...”, lanjut bu Risma tak menghiraukan. “Tidak boleh mencontek, apalagi ribut, karena ibu hanya membacakan soalnya sekali saja,”
Sesaat kemudian keadaan kelas menjadi tenang sampai pada sepuluh soal matematika dibacakan oleh bu Risma. Dari tempat duduknya, bu Risma mulai memperhatikan gerak-gerik muridnya. Sesekali didapatinya anak yang tengah menatap langit-langit kelas. Mungkin karena sedang mengingat rumusnya, pikir bu Risma. Ada pula muridnya yang tengah sibuk memainkan jemarinya sebagai alat bantu hitung. Sedangkan yang lain terlihat serius menuliskan jawaban. Dalam pengawasannya yang terakhir, bu Risma mengarahkan pandangannya pada dua anak yang duduk di bangku deretan nomor dua. Siapa lagi kalau bukan Doni dan Raffi. Raffi, sahabat dekat Doni itu terlihat lebih tenang. Sedangkan Doni, wajahnya tampak kebingungan dan gerakan bolpoin dalam genggaman jarinya terlihat lambat. Bahkan, sesekali matanya melirik tajam ke arah lembar jawaban Raffi. Selain itu, ketika menyadari aksinya tertangkap oleh pandangan bu Risma, segera ia berpura-pura kelilipan.
Beberapa menit sudah terlewatkan. Dalam pengawasannya, bu Risma melihat beberapa muridnya menghentikan menulis, lalu meregangkan badan sesaat. “Yang sudah selesai, bisa dikumpulkan.”, kata bu Risma. Tak lama, beberapa muridnya langsung mengikuti instruksinya.
“Bu, soal ulangannya gampang banget,”, cetus seorang siswi berponi kemudian.
Sambil melempar senyum bangga, bu Risma berkomentar, “Kalau gampang, berarti kamu mengerjakan PR.”
Tumpukan kertas di atas meja bu Risma semakin meninggi. Namun ada beberapa dari anak yang tampak masih sibuk menghitung dan mengoreksi kembali jawaban mereka, termasuk Doni.
“Raffi..!”, tegur bu Risma setelah melihat aksi Raffi yang memberikan lembar jawabannya pada Doni. Segera bu Risma beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri mereka. Dilihat oleh bu Risma, jawaban Raffi yang sudah terisi penuh. Berbeda dengan Doni, yang masih menyisakan tujuh pertanyaan. “Waktunya sudah habis,”, kata bu Risma sambil melirik jam tangannya. “Kumpulkan segera jawaban kalian lalu istirahat.”, lanjut bu Risma memerintahkan.
Segera setelahnya, semua murid bu Risma berbondong-bondong mengumpulkan lembar jawaban, lalu dengan semangatnya mereka keluar kelas.
Dari ruangan kelas yang sudah kosong, lagi-lagi bu Risma melihat Raffi yang tengah membacakan jawabannya pada Doni. “Raffi.. Doni.. kalian tidak mau istirahat?”, tanya bu Risma pelan. Raffi sudah pasti mengerti maksud bu Risma, hingga ia memaksa Doni untuk mengumpulkan pekerjaannya. Tak lama, bu Risma menatap dua orang sahabat sedang berjalan mendekatinya. Dilihatnya raut wajah Doni yang terlihat cemas, berbeda dengan sahabatnya, Raffi yang terlihat tenang.
“Ini bu...”, ucap mereka kompak menyodorkan lembar jawaban.
Sambil menerima lembar jawaban mereka, bu Risma berkata, “Kalian bisa istirahat juga,”
Doni terlihat berat untuk melangkahkan kakinya. “Bu...”, ucapnya setengah ketakutan.
“Ya..??”, jawab bu Risma sambil melengos ke arah dua bocah yang masih berdiri di samping mejanya. “Ada apa?? kalian tidak istirahat?”
Kedua bocah itu, Doni dan Raffi menggeleng berbarengan.
Lalu sambil menundukkan kepalanya, Doni berkata, “Bu... maaf. Doni tidak bisa mengerjakan soal dengan baik. Doni takut nilai ulangannya jelek,”.
“Oh, begitu?,”, jawab bu Risma ringan. Lalu segera melemparkan pertanyaan ke arah Raffi. “Kalau kamu?”
Raffi menarik nafas lalu menghembuskannya pelan. “Raffi juga minta maaf bu. Raffi sudah memberikan contekan untuk Doni,”, jawabnya terlihat sedikit tegar dari Doni.
“Terus, alasan kamu apa?”, tanya bu Risma pada Raffi.
“Doni tidak bisa menjawab soal ulangan yang ibu berikan. Sebagai seorang sahabat, Raffi ingin membantu Doni, dan....”
“Dan dengan cara memberikan jawaban kepada Doni?”, potong bu Risma sudah mengerti.
Raffi mengangguk pelan, sedangkan disampingnya, Doni masih tertunduk malu.
Mendengar pengakuan mereka, bu Risma lantas tersenyum bangga. Kemudian memandang ke arah Doni. “Buat Doni, apa sih yang susah?”, tanya bu Risma, lalu melanjutkannya, “soal yang ibu kasih barusan kan sama persis dengan PR yang ibu kasih kemarin?  bedanya hanya di penempatan nomornya.”.
“Doni tahu bu, setelah melihat teman-teman dengan cepat bisa mengerjakan soal yang ibu kasih. Tapi, Doni kan tidak mengerjakan PR. Baru sedikit sih, itu saja mencontek punya Raffi..”.
Kali ini bu Risma terkekeh mendengar alasan Doni. “Buat Doni, kalau kamu mengerjakan PR, ibu yakin kamu pasti bisa mengerjakan soal yang ibu kasih,” lanjut bu Risma, lalu beralih menatap Raffi, “Dan buat Raffi, Ibu bangga dengan sikap persahabatanmu. Tetapi ingat, persahabatan itu lebih bernilai dan bagus jika dalam hal yang baik. Tetapi kalau dilakukan untuk hal-hal yang buruk, seperti mencuri, mencontek, bukanlah persahaban yang baik. Dan seharusnya, Raffi belajar berkelompok bersama Doni untuk bersama-sama mengerjakan PR. Bukan hanya memberikan contekan, Betul?”
Mendengar nasehat bu Risma, Doni dan Raffi mengangguk pelan.
“Terus bu... hasil ulangan saya pasti jelek yah?”, tanya Doni ragu.
“Yang tadi bukan ulangan. Ibu hanya ingin tahu saja, apa kalian benar-benar mengerjakan PR. Seperti yang ibu bilang, soal tadi untuk latihan. Dan sama persis dengan PR kemarin,”
Mendengar ucapan bu Risma, Doni mulai tersenyum lega. “Bu.. Doni janji bakalan rajin mengerjakan PR,” ucapnya tegas. Bu Risma tersenyum dan tersenyum.

oleh Tarmudi
Cerpen pertama untuk anak acara sayembara Puskurbuk 12

Sunday, May 11, 2014

Lemari Kain Murah Bingit 2014

Buat mahasiswa(wi)
Biasanya nggak pengen ribet.
Kalo pindahan gak perlu angkat ini itu.
bongkar ini itu yang beratnya luar biasa!
singkat kata sih, ada lemari kain yang murah untuk kantong mahasiswa
yang bergaya hidup ala kadarnya, tapi berkelas.
smua terangkai dalam mode dan corak lemari yang terlihat elegan
saat dipajang di dalam kamar kos.
Terlebih, susunan besi yang menopang, hmm... kuat!
asal nggak diduduki aja sih, tega?

Boleh beli, boleh pesan, asal liaht barangnya dulu..
kalau cocok, boleh diborong dengan senyuman..
kalau nggak cocok? hmm... pikir-pikir ulang deh :)

untuk area Yogya saja. Yogya Kota dan Kabupaten Bantul.
Untuk di luar boleh, ada tambahan fulus :)

Oh, selain desain luarnya unik (sederhana sih..)
tapi tata ruangnya juga bervariasi loh. ada yang 4 ruang, 2 ruang, dsb.
hargapun bervariasi. silahkan pesan mulai 125k-150k

berikut penampakannya:
Tipe SEW

Tipe T

Tipe SEW

Tipe T
Untuk model dan Harga?


Harga Tipe SEW paling tinggi coz selain ruangnnya banyak, juga lebih lebar dari yang lain.
siap pesan? call me!  trims :)
>> model foto diambil dari koleksi pribadi :)



Tuesday, December 11, 2012

Manfaat Upil Bagi Kesehatan

Iya ini dia ternyata upil pun ternyatata ada manfaatnya bagi kesehatan kita Dokter spesialis paru-paru asal Austria Prof Dr Friederich Bischinger pernah menyarankan orang untuk makan upil (kotoran hidungnya) sendiri karena diklaim bisa meningkatkan kekebalan tubuh. Penemuan Prof Bischinger tahun 2004 itu sempat menjadi kontroversial. Banyak orang awam dan paramedis yang menolak mentah-mentah teori Prof Bischinger dan mengatakan teori itu tidak masuk akal. Alasannya upil adalah kotoran yang menjijikkan karena lendir kering itu justru menjadi sampah karena berbahaya masuk dalam tubuh. Jika makan upil sama saja dengan makan semua organisme atau bakteri yang harusnya dikeluarkan melalui hidung. Tapi menurut Prof Bischinger mengupil dengan menggunakan jari-jari sendiri adalah sesuatu yang sehat, menyenangkan dan lebih sesuai dengan tubuh manusia. “Mengupil dengan menggunakan jari sendiri tentunya bisa menjangkau tempat yang tidak bisa dicapai jika menggunakan sapu tangan. Selain itu juga bisa menjaga hidung agar tetap bersih,” ujar Prof Bischinger, seperti dikutip dari DailyTimes. Upil itu sendiri terbentuk dari kotoran yang masuk ke dalam lubang hidung melalui proses pernapasan. Debu dan kotoran yang masuk ke hidung ini akan disaring oleh filter atau bulu-bulu hidung. Kotoran yang tidak tersaring akan ditangkap oleh lendir yang ada dihidung. Lama kelamaan lendir ini akan mengeras dan terbentuklah upil. “Makan upil kering adalah cara yang bagus untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh. Secara medis itu masuk akal dan hal yang wajar untuk dilakukan. Dalam sistem kekebalan, hidung adalah filter yang menyaring banyak bakteri menjadi satu dan ketika campuran ini tiba di usus akan bekerja seperti obat,” kata Prof Bischinger. “Obat moderen selalu berusaha untuk melakukan hal yang sama dengan metode yang jauh lebih rumit, orang-orang yang mengupil dan memakannya secara alami mendorong sistem kekebalan tubuh mereka secara cuma-cuma,” imbuhnya. Mengupil merupakan kegiatan yang positif karena membantu membersihkan hidung dari kotoran. Hal ini tentu saja membuat seseorang bisa bernapas lebih baik karena tidak ada yang menghalangi jalur pernapasan. Prof Bischinger menunjukkan saat masih kecil anak-anak senang untuk mengupil hidungnya sendiri. Tapi saat beranjak dewasa kebiasaan ini mulai terhalang oleh adanya tekanan dari masyarakat yang menganggap hal tersebut adalah suatu tindakan menjijikkan dan anti-sosial. Hasil ini memang cukup mencengangkan, karena selama ini orang menganggap kalau upil adalah suatu kotoran yang harus dibuang dan bukan untuk dikonsumsi. Tapi bagi Prof Bischinger, upil juga bisa bertindak sebagai vitamin yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh seseorang. Dr. Agus Subagio, Sp THT, dokter spesialis THT yang praktik di RS Puri Indah Jakarta mengaku tidak bisa memberikan komentar apakah penemuan ini terbukti menyehatkan atau tidak. Namun diakui Dr Agus bahwa Prof Bischinger adalah orang yang sangat disegani di dunia medis karena banyak penemuannya yang bermanfaat. “Banyak teori-teori bedah sinus berasal dari penemuan Prof Bischinger, tapi kalau masalah manfaat upil saya belum paham,” kata Dr Agus. Tapi pada dasarnya lanjut Dr Agus, tubuh manusia diciptakan sempurna dengan sistem pertahanan yang canggih dan berlapis-lapis. Mulai dari bagian luar hingga bagian dalam terdapat sistem pertahanan tubuh masing-masing. Tentunya kita jijik dengan yang namanya upil sumber : http://wong168.wordpress.com/2010/09/20/makan-upil-bagus-untuk-kesehatan/

Tuesday, June 5, 2012

Aku Malaikat Penjagamu

Dalam ketermenungan di tengah malam, aku selalu membayangkan. entah perasaan itu sungguh mengganggu dan mendesak dadaku, sulit bernafas. mataku sangat sulit terpejam, hingga aku benar-benar merasakan penderitaan yang lebih.
Perasaan.. yah, perasaan itu benar-benar menggangguku. Antara kasih sayang dan penderitaan. tak begitu jauh dari pikiranku. temukan bagaimana caranya memilikimu, tetapi segala kesalahan telah aku lakukan. perasaanku padamu, adalah ketenanganku.
----
Mimpi itu telah tiba. entah,aku menjadi sosok yang berbeda. bukan seorang peri, maupun pahlawan super. Aku menjadi seorang malaikat cinta yang siap menancapkan panah asmara. Dalam genggaman, cahaya putih mengkilau membatasi pandangan mata.