NavBar

Monday, May 11, 2015

Cerita Pendek Anak "Jangan Remehkan Pemulung"

Perkenalkan namaku Bella. Mama, papa termasuk teman-teman sekolahku biasa memanggilku Ella. Kenapa? itu karena sewaktu masih kecil, saat aku memperkenalkan diri, belum bisa mengucapkan huruf B secara jelas. Jadi cuma Ella deh, hihihi... Oh iya, aku bersekolah di SD Nuansa. Sekolah yang sangat bersih dan indah. Menurut orang-orang sih, sekolahku adalah sekolah favorit dan sekolah paling bagus. Banyak teman-temanku yang orang tuanya sebagai pejabat loh.... seperti papa. Pekerjaan papa sebagai pejabat tentu memudahkanku untuk membeli apapun. Bahkan akhir-akhir ini aku minta dibelikan Hape terbaru. Meski mama terkadang melarangku sih, bilangnya begini, “Ella, kamu kan masih SD. Kok pegang Hape segala?,”.
Aku menjawab dengan santai saja. Teman-teman Ella juga pada pegang hape mah,.
“Tapi nanti kamu jadi malas belajar,”, kata mama lagi.
“Tidak mah..”, aku menggeleng-geleng.
“Benar..?”, mama memastikan.
Yap! akhirnya mama lunak juga. Kamu tahu tidak? dari kelas satu sampai kelas lima aku selalu mendapatkan peringkat satu loh, mungkin mama takut akan nilaiku bakalan merosot. Tapi itu tidak mungkin, kalau aku rajin belajar dan membaca pasti pintar!
*******
Seminggu setelah mempunyai hape, rasanya sangat membahagiakan. Selain bisa telpon-telponan sama teman-teman, juga bisa sms-an. Entah tanpa disadari, aku mulai malas belajar ataupun sekedar membaca buku.
Sewaktu sedang asik bermain game di hape, tiba-tiba mama masuk ke kamarku.
“Ella, kamu kok main hape terus?”, tegur mama padaku.
Sambil gerakan tangan masih asik mengutak-atik di atas layar, aku berkata, “Lagi seru nih mah,”
“Ada pak Kardi datang...”, lanjut mama yang berhasil mengalihkan perhatianku.
Sejurus kemudian aku menghentikan permainanku. Lalu segera melongok dari lubang pintu kamarku yang kebetulan tepat menghadap ruang tamu. Benar kata mama! pak Kardi? tumben sekali datang, pikirku. Pak Kardi adalah wali kelasku. Rumahnya memang tak jauh dari rumahku. Bahkan, setiap pulang pergi ke sekolah, beliau selalu melintas di depan rumahku, tak pernah mampir.
“Ad..ada apa ya pak?”, ucapku terengah-engah setelah berlarian.
Pak Kardi tersenyum. Ternyata beliau menunjukku untuk menjadi perwakilan kelas dalam lomba cerdas cermat antar sekolah. Wah, asiknya! tentunya aku senang sekali. Aku pasti juara lagi!, kataku dalam hati yakin.
**********
Satu hari lagi tiba waktunya. Perlombaan yang kutunggu-tunggu. Aku yakin bakal mendapatkan juara pertama seperti kelas empat dulu. Yah, aku adalah langganan juara pertama. Bahkan, semua teman-teman dan guru-guru mengenalku dengan baik.
“Ella, besok perlombaannya kan?”, tanya mama sambil memegang setir mobilnya.
Aku mantuk-mantuk. Seperti biasa, tanganku masih sibuk di atas layar hape.
“Ella, dari kemarin mama belum pernah lihat kamu belajar, malah sibuk terus dengan hapemu, ”, timpal mama.
“Tenang saja mah, Ella masih ingat pelajarannya kok,”
Kudengar mama mengendus menarik nafas dalam. Mama hanya terdiam dan sepertinya pasrah sekaligus percaya akan perkataanku.
Beberapa menit kemudian, aku menghentikan permainan sesaat. “Mah.. kacanya dibuka dong,”, pintaku kemudian.
Segera mama memencet tombol di depannya, dan secara otomatis kaca mobil di dekat tempatku duduk terbuka. Tanpa berpikir lagi, aku merogoh tas dan mengambil botol mineral bekas yang aku beli di sekolah tadi pagi. Dari atas mobil yang masih laju, kulempar botol itu keluar tepat saat aku melihat tempat sampah. Yap! ternyata lemparanku meleset dan... terdengar seseorang merintih kesakitan.
Tanpa minta ke mama untuk menghentikan mobil, aku berteriak ke luar. “Maaf yah..”.
“Maaf...sama siapa?”, ucap mama dengan mata masih menatap lurus ke arah jalanan.
“A.. anu mah, Ella minta maaf sama mama..”, jawabku berpura-pura.
“Loh, tumben kamu...”, balas mama tak percaya. “Eh, Ella lihat perempuan yang tadi tidak?”, tanya mama membuka pembicaraan baru.
“Yang mana? memangnya ada orang lain di mobil ini selain Ella dan mama?”
“Bukan itu maksud mama. Kamu tahu perempuan yang di samping tempat sampah itu? yang barusan kita lewati..”
Deg! jantungku terasa terhenti. Perempuan itu, Apa mungkin maksud mama perempuan yang terkena lemparan botolku itu?  mungkin juga... mama tahu kejadian itu? gawat! , pikirku  menerka-terka saat itu. “Em.. emang ke.. kenapa dengan perempuan itu mah?”, tanyaku setengah ketakutan.
“Kamu kenal perempuan itu tidak?”
Aku mengangkat bahu, sedikit lega sih, ternyata pertanyaan mama tidak menjurus ke pelemparan botolku. Hihihi..
Sejurus kemudian, mama mulai memperlambat laju mobilnya. Seperti biasa, mobil yang kami tumpangi memasuki gerbang pedesaan. Bukan jalan utama sih, tetapi jalan pintas ini bisa mempersingkat waktu mama buat mempersiapkan makan malam, kata mama. Sesekali mama melempar pandangan ke arah rumah yang berjejer rapi. Meski berdinding anyaman bambu, tetapi pelataran rumah mereka sangat bersih. Pelataran rumah mereka yang kebanyakan bersusunkan kardus dan botol bekas.
Mama memulai membuka mulutnya kembali. “Di sanalah perempuan itu tinggal,”
“Kok mama tahu?”, tanyaku heran.
“Kata mbok Ijah. Masih ingatkan?”
 “Mbok Ijah yang merawat Ella dulu?”, ucapku mencoba mengingatnya kembali. Mbok Ijah sudah dua tahun lalu meninggal karena terserang penyakit jantung. Saat itu, aku menangis dan mama tidak mengijinkanku ikut mengantarkan Mbok Ijah ke peristirahatannya yang terakhir, karena takut akan kondisiku, kata mama saat itu.
“Dulu, Mbok Ijah sempat bercerita, kalau perempuan itu adalah tetangganya. Perempuan itu baik, suka membantu orang tuanya dan dikenal pintar, katanya. Mama percaya sama mbok Ijah, karena mama sering melihat perempuan itu sedang membaca koran bekas, dan buku-buku yang ia temukan di tong sampah. Dan Kata mbok Ijah juga, perempuan itu namanya Santi,”
Mendengar cerita mama, hati saya menjadi panas. Mana mungkin ada yang lebih pintar dariku? apa lagi perempuan yang bernama Santi itu. Hanya Seorang pemulung. “Pintarnya masih kalah sama Ella kan mah..?”, tanyaku sebal..
“Eh, kamu jangan salah. Di sekolah, dia selalu juara loh,”, timpal mama lagi.
Sebal!! sebal!! sebaaaaaaaallll!! sepertinya mama lebih membanggakan perempuan itu daripada anaknya sendiri, pikirku.
*********
Babak kedua telah berakhir. Tinggal satu babak lagi penentuan akhir juara satu, dua dan tiga. Bagiku kemenangan dalam lomba cerdas cermat adalah hal yang pasti buatku. Tak perlu membaca buku lagi, ataupun belajar. Toh, sudah pasti aku yang menjadi juara satu.
Di taman SD Kartini, aku menunggu pengumuman. Menjadi wakil seri A sudah cukup membuktikan jika akulah calon sang juara. Entah siapapun lawanku dari seri B dan C, aku tak peduli. Hem... enaknya main game!, pikirku ringan.
“Ella.. kamu kok tidak belajar?,”, tegur pak Kardi sambil berjalan mendekat.
“Ah, bapak. lagi seru nih,”, jawabku masih menatap layar hape. “Lagian Ella pasti masuk babak ke tiga besar, seperti biasa,”, ucapku lagi dengan yakin.
“Ya sudah, bapak percaya sama kamu,”,lanjut pak Kardi kemudian berlalu meninggalkanku.
Selang beberapa menit kemudian, kulihat beberapa peserta tampak mengerubuti papan pengumuman. Tak sedikit kulihat ekspresi wajah mereka yang kecewa. Bahkan, ada yang menangis sesal. Di tengah-tengah, kulihat seorang perempuan yang tak asing bagiku, sedang melompat-lompat ceria. Lalu, segera tubuhnya di peluk oleh gurunya, pikirku dari seragamnya. Perempuan itu? aku mencoba mengingat-ingat sesuatu. Ah, tidak penting!, kataku melupakannya.
Dari kejauhan pula, pak Kardi dengan senyumnya menghampiriku kembali. Kumisnya yang rapi seolah-olah menari-nari di atas bibirnya.
“Selamat la...”, pak Kardi menyodorkan tangannya.
“Pasti masuk Final kan?”, ucapku yakin.
Pak Kardi mengangguk bangga. “Sekarang masuk sana, dua orang siap menjadi lawan kamu,”, lanjut pak Kardi.
Oke pak,”, ucapku sambil mengangkat jempol. Lalu, sambil mengantongi hapeku, aku berlalu menuju ruang kelas. Babak finalpun segera dimulai.
Aku mulai berjalan, lalu menghentikan langkah sesaat setelah tiba di bibir pintu kelas. Aku mulai menatap dua orang yang menjadi lawanku. “Hah..?? perempuan itu!”, seruku dalam hati. Ya, perempuan pemulung itu ternyata salah satu yang menjadi lawanku. Bagaimana bisa?, tanyaku lagi tak menyangka.
“Bella yah??”, tanya salah seorang juri yang melihatku setengah bingung. Lalu menyuruhku untuk segera bergabung dengan dua lawanku.
Sambil berjalan menunduk, aku menghampiri mereka mengisi satu kursi yang memang untukku.
“Hai.. namaku Siska,”, sapa seseorang menyodorkan tangan. Senyumanya yang ringan diberikannya untukku.
“Hai.. aku Rina,”, kata perempuan berikutnya memperkenalkan diri.
Sambil nyengir kuda, aku mengangkat kepala, lalu membalas sodoran tangan mereka. Untuk Siska, aku berharap dia tidak mengenali wajahku yang pernah tidak sengaja melempar botol dan mengenainya. Huft...
Selamat kepada anak-anak yang sampai pada babak Final. Ucapan salah seorang juri menghentikan obrolan kami bertiga.
Waktu terus berjalan, hingga beberapa pertanyaan tak terasa sudah dilontarkan. Beberapa pencetan tombolpun, sudah kami lakukan untuk merebut menjawab pertanyaan dari juri. Untuk hasil sementara, aku dan Siska sejajar mengungguli Rina. Dan menjelang pertanyaan terakhir dari babak perebutan, juri memberikan soal tentang pengetahuan alam.
Jenis nyamuk apakah yang menyebabkan penyakit malaria?
Beberapa detik, tak ada suara pencetan tombol. Aku melihat wajah Rina kikuk, sama sepertiku yang benar-benar tidak mengerti sama sekali. Berbeda dengan Siska, matanya terpejam seperti mengingat sesuatu. Dan.... tettttt!! bunyi tombol dari bangku Siska mengagetkanku. Aku menggigit jari melihat bibirnya yang mulai terbuka. Tidak mungkin dia tahu, pikirku.
“Nyamuk Aedes Aegypty!”, jawabnya lantang.
Benar...! kata salah seorang juri membahana ke seluruh penjuru ruangan.
Aku tidak percaya, debutku sebagai juara satu dikalahkan oleh Siska. Kemudian dengan sekuat tenaga, aku berlari, keluar menuju toilet. Aku menangis sesal. “Bagaimana bisa??”, kataku sambil menatap cermin di sana.
“Karena aku membaca. Yah, aku tahu hal itu dari koran yang pernah kubaca,”, seseorang tiba-tiba menjawab ucapanku pada cermin.
Tak lama, di balik bayangan cermin, tampak bayangan Siska muncul sambil mendekatiku. Pemulung itu! Benar kata mama, dia pintar. Hanya bermodalkan membaca.
Kemudian aku berbalik menghadapnya. “Siska.. maafin aku yah,”, ucapku sambil memeluknya.
“Kenapa?? karena botol yang kamu lempar kemarin?, aku senang kok. Karena botol bekasmu, aku bisa bersekolah. Yah, satu botol bekas sangat berarti bagiku,”, jawabnya dengan tenang.
Ternyata dia sudah mengenali wajahku dengan pasti. Bahkan, dahulu mbok Ijah juga sering bercerita kepadanya tentangku, terang Siska.
Sejak saat itu, aku dekat dengan Siska, meski seorang pemulung, tapi dia telah memberiku banyak hal, bahwa tak selamanya prestasi itu bisa bertahan tanpa kita terus belajar dan tidak meremehkannya. Dan membaca itu penting, bisa membuka pengetahuan yang luas. Satu lagi! Siska menyarankanku untuk tidak terhipnotis dengan hape. Bisa-bisa lupa belajar, katanya. Hipnotis? kalau begitu, selama ini aku tertidur dong? hihihihii... terima kasih Siska..

oleh Tarmudi
Cerpen anak 6

Cerita Pendek Anak "Aku Soekarno Kecil"

“Tino.. bangun, sudah siang,”, seru mama membangunkanku. Aku tak mau bangkit dari tempat tidurku. Hari itu adalah tanggal 17 Agustus. Tepat di hari Kemerdekaan negara kita tercinta, Republik Indonesia. Mungkin semua orang merayakannya dengan suka cita. Tetapi berbeda denganku yang harus berdiri di atas panggung di depan puluhan pasang mata teman-teman. Ya, Pak Joni, wali kelas lima menunjukku untuk menjadi peserta lomba Soekarno Kecil. Entah apa yang ada di pikiran pak Joni yang memilih anak yang dikenal pendiam dan pemalu ini. Bahkan di kelas, aku selalu dipanggil ‘si bisu’. Aku malu, aku takut mereka mentertawakanku di atas panggung nanti. Aku juga takut mengecewakan pak Joni dan tentunya, nama sekolah bakal menjadi taruhannya. “Pak, saya tidak mau.. tidak bisa,”, begitulah alasanku untuk menolak. Tetapi pak Joni selalu memaksaku dan meyakinkanku bahwa aku pasti bisa. Akhirnya, dengan terpaksa aku mengikuti kemauan pak Joni. L
“Mah.. hari ini Tino tidak enak badan,”, ucapku sambil menarik selimut menutupi wajahku. Mungkin dengan begitu, aku bisa terbebas dari bayang-bayang teman-teman yang menertawakanku.
“Tino, Pak Joni tadi menelpon. Katanya, kamu sudah siap belum?”, kata mama membuka selimutku pelan.
Aku merapatkan selimut lagi. “Bilang saja, Tino lagi tidak enak badan mah...”. Sepertinya mama mendengarkan omonganku. Kurasakan dia berlalu dari kamarku. Untuk mengikuti lomba Soekarno kecil bukanlah hal yang mudah untukku. Siapa sih yang tidak kenal dengan bapak presiden yang pertama itu? Tentu saja bukan seperti aku yang pendiam dan penakut. Dan sudah pasti bukannya terkesima mendengar naskah proklamasi yang aku bacakan, malahan mentertawakanku. Aku benar-benar takut!
“Tino.. Pak Joni sebentar lagi ke sini,”, kata mama lagi yang sudah memasuki kamarku lagi.
Terkejut, segera aku bangkit dari tidurku. “Apaaaa..?!”, kataku setengah panik. Pak Joni bakalan tahu kalau aku hanya pura-pura sakit. Dan pasti akan kecewa denganku, pikirku saat itu.
“Loh, memangnya kenapa?”, kata mama menyernyitkan dahi. “Pak Joni cuma ingin menjengukmu,”
“Mama, tolong bilang sama pak Joni, tidak usah ke sini. Tino bakalan berangkat,”, balasku sambil berlari menuju kamar mandi. Dengan wajah setengah bingung, mama mendengarkan ucapanku.
Beberapa menit berlalu, kulewati waktu untuk mandi sampai memakai seragam merah putihku. Di atas kasur, aku terduduk dengan perasaan yang benar-benar bingung dan cemas. Kenapa semua ini terjadi padaku? Kalau aku mundur dari Lomba Soekarno Kecil, sudah pasti aku tidak akan ditertawakan di atas panggung nanti. Tetapi pak Joni bakalan kecewa dan tentunya nama sekolahku menjadi taruhannya, pikirku lagi.
“Kamu ini kenapa?”, ucap mama yang ternyata sudah kembali lagi. “Kamu pura-pura sakit ya?”, tanya mama mulai mendekat.
Aku mengangguk pelan.
“Kenapa?”, tanya mama penasaran.
“Tino takut mah...”
“Takut kenapa? Ikut Lomba Soekarno kecil?”, ucap mama lagi.
“Kok mama tahu??”, tanyaku heran.
Mama melempar pandangan tepat di bawah sebuah cermin. Astaga! ternyata aku lupa merapikannya. Naskah teks proklamasi itu ternyata masih di sana. Ya, semalam aku berlatih membacakan teks proklamasi itu di depan cermin, itu saran dari pak Joni agar aku bisa tampil percaya diri. Tetapi, apa yang dikatakan pak Joni sepertinya sangat tidak berarti. Bahkan, perasaan takut masih saja menggelayuti pikiranku.
“Kamu belum hafal teks proklamasinya?”, tanya mama sambil mengelus rambutku pelan.
Aku menggeleng.
“Terus??”
“Takut ditertawakan teman-teman,”, balasku sambil menunduk.
“Loh, kenapa? seperti waktu kelas satu dulu?”
Aku mengangguk kembali. Ternyata mama masih ingat kejadian burukku di kelas satu. Teman-teman mentertawakanku saat aku bernyanyi di depan kelas. Sejak saat itu, aku benar-benar kehilangan percaya diri. Sejak saat itu pula, aku menjadi takut untuk berbicara, dan lebih memilih diam. Itu sebabnya teman-teman kemudian memanggilku ‘si bisu’.
“Tino, itu kan waktu kelas satu? sekarang kamu sudah kelas lima. Kamu harus berani dan percaya diri. Kamu juga harus membuktikan kalau kamu bisa...”, tegas mama mendukungku. “Kamu tahu bapak Soekarno bukan?”, lanjut mama.
Aku menarik nafas panjang dan mendengarkan ucapan mama yang membuatku mulai menemukan keberanian. “Bapak Soekarno? Beliau bapak presiden yang tangguh, cerdas, tegas, dan berani dalam membela tanah air,”, jawabku sambil sesekali menatap mama.
“Nah, itu benar. Kalau Tino jadi bapak Soekarno, tidak mungkin kan membaca teks kemerdekaan  Indonesia dengan gugup dan ketakutan?”
Aku mengangguk setuju dengan ucapan mama.
“Kalau kamu berani, pasti teman-temanmu tidak lagi memanggilmu dengan sebutan ‘si bisu’, iya tidak?”, kata mama terkekeh kecil sambil memencet hidungku lalu menggoyangnya pelan.
“Hah?! dari mana mama tau kalau aku itu...”, tanyaku tak melanjutkan. Heran sekali, pikirku. Setahuku, tidak ada yang tahu kalau aku dipanggil ‘si bisu’, kecuali teman-teman sekelas. Aku benar-benar malu kalau mama mengetahui hal ini.
“Mama tahu dari pak Joni. Itu alasan kenapa beliau memilih kamu, katanya, kamu sebenarnya anak yang pemberani,”, timpal mama lagi meyakinkanku.
Entah apa yang harus aku lakukan. Perasaan malu pada mama tentangku yang di panggil ‘si bisu’ , ditambah perasaan senang dan semangat bercampur menjadi satu. Aku hanya bisa memeluk erat mama. “Terima kasih mah...”
*********
Di atas panggung yang berhiaskan bendera merah putih, sudah melewatkan puluhan peserta Lomba Soekarno kecil dari perwakilan berbagai sekolah. Beberapa diantara mereka terlihat percaya diri membacakan teks proklamasi dengan gaya seperti Bapak Soekarno, meskipun sesekali mereka lupa dengan isi teksnya. Tetapi, penampilan mereka dengan penutup kepala, kemeja dan sepatu sepertinya menghipnotis penonton. Alhasil, penampilan mereka selalu diakhiri dengan tepuk tangan.
Di kursi peserta yang berderet, hanya tersisa tiga orang, termasuk aku. Menjadi peserta penutup adalah hal yang paling menegangkan. Semua perhatian akan benar-benar tertuju padaku. Sesaat pikiranku tentang ‘si bisu’ muncul tiba-tiba. Tetapi dengan penuh keyakinan, aku menutup mata dan mengingat kata mama. Aku adalah seorang Soekarno kecil. Aku harus benar-benar menjadi sosok seperti beliau. Tegas, berani dan semangat!.
“Peserta yang terakhir, dari SD tunas Bangsa. Kita sambut Tino...!!”, suara menggelegar memenuhi ruangan. Tubuhku mendadak lemas. Keringat dingin mengucur deras di keningku. Aku masih terduduk tak mau bangkit dari tempatku.
“Tino..??”, suara dari sound sistem memanggilku kembali,
Entah kenapa nyaliku mendadak menciut. Kakiku tak bisa digerakkan. Dalam setengah kecemasan, tiba-tiba seseorang menepuk punggungku.  “Tino... pak Joni percaya, pasti kamu bisa! kamulah Soekarno kecil itu!”, timpal pak Joni meyakinkanku. Aku mulai menarik nafas panjang, lalu bangkit dan berjalan mendekati panggung. Sesaat ketika beberapa tangga panggung kutapaki, suara ruangan tiba-tiba menggelegar. Antara tawa dan tepukan tangan bercampur. Terkadang suasa sumbang memanggilku ‘si bisu’ mendarat di telingaku, tapi terlanjur aku melangkahkan kaki, tak bisa lari.
Duk..duk..duk.. aku mengetuk mikrofon yang sudah di depan bibirku. Entah kenapa, suara itu sepertinya membungkam suara yang lain. Yah, suasana ruangan menjadi sunyi seketika. Tak bisa dipercaya, sekarang aku benar-benar sedang berdiri di depan puluhan pasang mata. Di deretan depan kursi penonton, terlihat bapak dan ibu guru dari lain sekolah yang tengah menatapku tajam. Di deretan belakang, sudah pasti anak-anak berpakaian merah putih dengan mata terbelalak terlihat siap memasang telinga untuk suaraku. Lalu tepat pada deretan SD Tunas bangsa, beberapa dari mereka tengah menggigit jari dan mengaitkan telapak tangan. Wajah mereka terlihat mencemaskanku. Di samping mereka, kulihat sosok pak Joni yang tersenyum menatapku sambil mengacungkan jempolnya untukku. Penjelajahan mata kuhentikan, kemudian kualihkan pada teks proklamasi di hadapanku. Meskipun sudah hafal, tetapi aku harus benar-benar berpenampilan seperti bapak Soekarno. Tegas, lantang dan penuh semangat. Aku menarik nafas panjang, lalu menutup mata dan berdoa. Di sana, kuingat pesan mama dan pak Joni. Aku bukanlah ‘si bisu’, tetapi akulah Soekarno kecil. Aku pasti bisa!!
 
Lalu aku mulai membuka katup mataku perlahan. Jantungku yang berdebar kencang, mulai mampu kukendalikan, hingga bibirku yang bergetar sudah sanggup aku kuasai, sampai pada tanganku yang masih menggetarkan teks proklamasi, bisa tertahankan.


PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekoesaan d.l.l,
diselenggarakan dengan tjara seksama dan dengan tempo yang sesingkat-singkatnja,
Djakarta, 17 boelan 8 tahoen ‘45
atas nama bangsa Indonesia
Soekarno/Hatta
 


Tino.....!!!!!! teriakan membahana memenuhi telingaku sesaat setelah aku selesai membacakannya. Tepukan meriah merayap di telingaku. Aku tak percaya bisa  melakukannya. Dan hingga sampai pada turun dari panggung, aku disambut oleh pak Joni. “Hebat!”, katanya sambil mengangkat jempol. Aku tak peduli akan hasilnya nanti, yang terpenting adalah aku bisa membuktikan kalau aku bisa, dan sudah berusaha melakukan yang terbaik.
Selang setelah penghentian beberapa menit waktu untuk penjurian, saat-saat yang ditunggu-tunggu tiba. Apalagi kalau bukan pengumuman pemenang perlombaan.
“Berdasarkan keputusan dewan juri, maka dengan ini bisa ditentukan sebagai juara Lomba Soekarno kecil,”, kata pembawa acara di atas panggung.
“Juara tiga di raih oleh Sandi Maulana dari SD Mulawarman. Juara kedua di raih oleh Dika Irawan dari SD semesta,”, lanjutnya disusul dengan tepukan meriah. “Dan Juara pertama diraih oleh....”, ucapnya lagi sengaja menunda. Sesaat Tepukan itu semakin mengecil. Tino...!! Budi..!! Delon..!! teriakan penonton menyusul kemudian menebak-nebak sang juara Soekarno kecil. Bagiku, keberanianku adalah segala-galanya. Entah siapa yang menjadi pemenangnya, pikirku puas.

“Soekarno kecil diraih oleh siswa dari SD Tunas Bangsa!!”. SD Tunas Bangsa? itu...aku!. Yah, aku menjadi pemenangnya. Aku tak percaya. Tino..!! teriakan itu membahana langsung menyambutku. Lalu seseorang menyodorkan sepucuk kertas bertuliskan  coretan “si bisu”  dan diganti dengan “Soekarno kecil”. Senangnya.

Tino si Bisu Soekarno Kecil

oleh Tarmudi
Cerita Pendek Anak 5 

Cerita Pendek Anak "Siapa Yang Menang?"

“Deriel Widyatama dapat sembilan puluh,”, seru bu Sinta membacakan hasil ulangan matematika Deriel.
Yeess!!.  kata salah seorang murid laki-laki kegirangan.
“Deriel, bu Guru belum selesai membacakan semua. Jadi, jangan ribut,”, sergah bu Sinta kemudian pada murid laki-lakinya tersebut. Deriel. Salah satu murid kelas lima yang dikenal pandai itu bertubuh sedang dan tegap. Tingginya tak jauh berbeda dari teman-temannya. Yang membedakan hanyalah statusnya sebagai anak seorang polisi. Sedangkan teman-temannya yang lain hanyalah berorang-tuakan seorang petani. Ayah Deriel berpindah tugas sejak ia duduk di kelas satu. Deriel dan mama, mau tidak mau harus hidup bersama papa. Kehidupan di kotanya terdahulu tentu berbeda jauh dengan tempatnya sekarang. Di sebuah desa terpencil yang asri, sejuk, serta bebas asap kendaraan dan polusi.
Di desa, jumlah sekolah tak begitu banyak seperti halnya di kota. Bahkan, semuanya bisa dihitung dengan hitungan jari. Di dekat rumah baru Deriel, ada sebuah sekolah yang bernama SD Harapan. Sekolah itu sangatlah sederhana. Fasilitasnya masih seperti jaman dahulu. Tentu saja sangat berbeda jauh dari sekolah Deriel sebelumnya. Di sekolah sebelumnya, tentunya sudah memakai papan tulis putih dan spidol. Sedangkan di SD Harapan ini, batang kapur dan papan hitam masih menjadi alat utama dalam pengajaran. Lantainya pun, jauh dari kesan mengkilap, karena memang hanya berlapis tanah seadanya. Meskipun SD Harapan terlihat biasa, tetapi setiap ruangan selalu terlihat bersih dan asri dengan tanaman berbunga yang tumbuh subur di sekitarnya.
Awalnya Deriel tidak bersedia bersekolah di SD Harapan ini, karena belum terbiasa dengan keadaan. Tetapi karena sekolah lain yang keberadaanya jauh, mama Deriel terus berusaha membujuknya. Dan lambat laun, akhirnya Deriel mengikuti kata mama.
Lima tahun kemudian, Deriel semakin merasakan kebahagiaan bersekolah di SD Harapan. Selain sekolahnya yang nyaman, ia juga memiliki teman-teman yang sangat baik.
Kembali ke suasana kelas, bu Sinta kemudian melanjutkan membacakan hasil ulangan muridnya. Deriel kembali duduk tenang dan mulai mendengarkan dengan seksama.
“Berikutnya, nilai yang tertinggi,”, kata bu Sinta melanjutkan.
Apah?, seru Deriel dalam hatinya terkejut. Ia tidak menyangka jika ada orang lain yang bisa mengalahkan nilai ulangan matematikanya. Semua anak terlihat kaku, dan berharap nama mereka yang akan di sebut bu Sinta. Tak terkecuali bagi Rio, laki-laki yang duduk di depan Deriel. Sesekali wajahnya menunduk, dengan mulutnya yang berkomat-kamit membaca doa.
“Yang mendapatkan nilai seratus adalah.....”, lanjut bu Sinta sambil menyebar pandangan ke penjuru kelas. “Rio!!!,”, seru bu Sinta kemudian. Santer, semua teman-temannya menyambut dengan tepukan meriah. Rio lantas tersenyum gembira memperoleh nilai yang dari dulu sudah diusahakannya.
“Hai, selamat nih,”, ucap Deriel menepuk punggung Rio. “Akhirnya ada yang mengalahkan nilai matematikaku juga ,”, lanjut Deriel terkekeh.
Seraya merespon jabatan Deriel, Rio berkata, “Tapi kesepakatan buat menggendong sang pemenang tidak lupa kan??”
Deriel mengangkat jempolnya, lalu dihadapkannya di depan Rio. “oke bos..”, balas Deriel disusul dengan tertawa renyah bersama.
Rio adalah salah satu sahabat dekat Deriel. Ia penduduk asli desa. Awal pertemanan adalah ketika pertama kali Deriel menjadi bagian di SD Harapan. Anak-anak menjauhi Deriel, hanya karena mereka takut berteman dengan anak polisi. Tetapi, dengan penuh keberanian dan percaya diri, Rio mendekati Deriel. Dari sana, akhirnya Rio menjadi teman pertama Deriel di sekolah. Lambat laun kemudian, teman-teman yang lainpun mulai segan berkenalan dengan Deriel. Selain itu, berdasarkan keterangan bu Siska, Rio mulai tahu jika Deriel adalah murid terpandai di kelasnya. Kesederhanaannya membuat Deriel semakin nyaman berteman dengan Rio. Rio juga merasakan hal yang sama. Dan ternyata, Deriel, anak yang selama ini ditakuti oleh teman-teman Rio, memiliki hati yang baik dan suka bergaul.
Pertemanan antara Rio dan Deriel bukanlah pertemanan yang dibilang biasa. Tetapi sebuah pertemanan yang selalu menjadi perhatian siswa lain di sekolah karena kepandaian mereka berdua. Tak hayal, terdengar kabar jika mereka selalu bersaing untuk mendapatkan nilai yang terbaik di kelasnya. Tetapi, siapapun yang menjadi pemenang, keduanya saling menghargai dan memberikan dukungan. Bahkan, mereka mengadakan kesepakatan bahwa siapa yang mendapatkan nilai ulangan lebih rendah, akan mendapatkan hukuman yaitu menggendong pemenangnya, yaitu yang memperoleh nilai lebih tinggi. Persaingan antara Rio dan Deriel pun mendapatkan acungan jempol dari para guru. Dan ternyata mereka berdua juga bersepakat untuk tidak duduk dalam satu bangku, karena bagaimanapun juga, mereka harus membagikan ilmu pada teman-teman yang lainnya.
*********
“Siap..? Jalan!!”, perintah Rio. Dengan penuh semangat dan tertawa kecil, Deriel menopang tubuh Rio di atas punggungnya lalu berjalan mengitari ruang kelas. Sedangkan Rio yang asik bertenggreng bergaya ala koboi menikmati posisinya sebagai juara. Sebelumnya, Rio-lah yang selalu menggendong Deriel, karena pada saat itu, nilai matematika tertinggi masih dipegang oleh Deriel. Tetapi dengan berjuang keras, akhirnya Rio bisa mengalahkannya.
“Kali ini aku kalah, tapi besok pasti menang!”, ucap Deriel optimis dengan nafasnya tesengkal-sengkal setelah selesai menahan berat badan Rio.
Sebagai tanda terima kasih, Rio memijit punggung Deriel pelan. “Aku tunggu di ulangan IPA besok,”, tantangnya pada Deriel.
Sambil menyeka keringatnya, Deriel berkata pesimis,”Wah, kalau IPA sih aku belum tentu menang. Kamu kan tahu sendiri, kalau aku tidak suka IPA. Lagian kamu selalu dapat yang tertinggi,”
Rio menghentikan pijitannya, lalu duduk di samping Deriel. “Nanti aku bantu,”, ujarnya.
Deriel terperangah setengah kaget. “Apa?? maksudnya? kasih contekan?!”
Rio terkekeh mendengar ucapan sahabatnya,”Huss... bukan begitu maksudnya,”, terang Rio. “Nanti kita bisa belajar bareng,”
“Oo....begitu..”, kata Deriel sambil manggut-manggut tertawa.
“Tapi ada syaratnya..,”,potong Rio.
Deriel menyernyitkan dahi terkejut. “Apa?! masak pakai syarat segala?”
“Ya! syaratnya, kamu harus suka sama pelajaran IPA. Karena,  jika kamu membenci IPA, maka kamu akan tetap susah untuk menguasainya,”
Deriel mengangguk mengerti. “Ah, begitu saja?”, katanya ringan. “Gampang..!!”.
*********
Hamparan langit luas terlihat berwarna kemerahan. Di ufuk barat, semburat mentarinya mulai terbenam secara perlahan-lahan. Bayangan pepohonan, dan beberapa rumah terlihat memanjang di atas permukaan tanah dan tampak mulai memudar. Di dalam sebuah bayangan gubug, terlihat pula dua bayangan yang bergerak-gerak.
“Sekarang kamu paham bukan?”, kata Rio sambil menghentikan polesan pulpennya di atas bukunya.
Sambil menatap tajam ke arah coretan yang di buat Rio, Deriel mengangguk paham. Pertanyaannya yang bertubi-tubi mengenai IPA telah terjawabkan oleh Rio. “Kamu ternyata pintar juga yah,”, pujinya sambil terkekeh.
“Pintar karena rajin......”, balas Rio tak melanjutkan.
“Belajar!!”, kata Deriel meneruskan ucapan Rio dengan lantang. Pelajaran IPA yang membebani pikirannya terasa menghilang. Hal itu terlihat dari tertawanya yang sangat lepas.
“Riel, aku pulang dulu yah?”, kata Rio menghentikan Deriel yang masih tertawa. “ Sebentar lagi ayahku pulang, aku harus membantu Ibu menyiapkan makanan untuknya,”
Oke, salam buat bapa dan Ibumu yah,”, balas Rio kemudian.
Lalu dengan sigap, Rio meraih sepedanya, kemudian sambil berlalu meninggalkan Deriel, ia melambaikan tangannya, lalu berkata, “Besok kutunggu! aku pastikan kamu yang akan menggendongku lagi,”
“Lihat saja besok, kawan!,”, balas Dariel dengan teriakan. “Terima kasih..!!”, lanjutnya yang tak yakin ucapannya sampai ke telinga Rio dan hanya berbalas lambaian.
Sesaat setelah Rio menghilang dari pandangannya, Deriel segera mengemasi bukunya. Lalu dengan segera ia sepeda merahnya. Dengan penuh semangat, ia berlalu meninggalkan gubug yang hanya beratap daun alang-alang kering . Gubug yang terletak di belakang sekolah itu sengaja mereka jadikan tempat belajar bersama, karena selain dekat dengan rumah mereka, area di sekitarnya juga sangat indah, dengan tanaman padi yang luas, juga beberapa tanaman lain yang tampak subur.
*********
Meskipun siang sudah menyapa, tetapi udara di sekitar SD Harapan masih terasa sejuk. Beberapa siswa tampak riang bermain kejar-kejaran di taman. Ada juga yang sibuk bercengkrama sambil menyusupkan makanan ke dalam mulut mereka. Tepat di pintu masuk perpustakaan, tampak beberapa siswa berlalu-lalang keluar masuk. Hal seperti ini hampir  menjadi keseharian siswa SD Harapan ketika beristirahat pada pukul sembilan. Sepertinya mereka benar-benar mempergunakan waktu istirahat sekedar untuk menghibur diri setelah lelah menerima pelajaran pagi tadi. Tetapi, lain hal dengan dua sahabat karib, antara Deriel dan Rio yang masih tampak serius berbincang-bincang di sudut ruangan perpustakaan. Tak lupa, dengan sebuah buku yang terbuka lebar di hadapan mereka, yang sudah siap mereka lahap.
“Riel, ulangan IPA tadi oke kan?”, bisik Rio pelan, mengingat mereka sedang di dalam ruang perpustakaan.
Deriel menoleh ke arah Rio, lalu menjawab,”Terima kasih..”
Rio menyernyitkan dahinya tak paham dengan jawaban Deriel, “Maksudnya??”
Yap! sepertinya berkat belajar sama kamu kemarin, ulangan IPA pagi tadi lancar,”
“Wah, bagus kalau begitu,”
“Berarti kamu harus siap-siap menggendongku dong,”, lanjut Deriel sambil nyengir kuda.
Rio membalas sengit ucapan temannya, “Eittss... kayaknya terbalik deh,”
Perbincangan mereka diakhiri dengan deringan bel masuk. Keduanya benar-benar yakin akan hasil ulangan mereka. Sudah pasti, siapa yang kalah dalam persaingan itu harus mendapatkan hukuman gendong.
Di ruang kelas, ternyata bu Sinta sudah terduduk manis. Bolpoinnya tampak menari-nari di atas tumpukan lembaran kertas. Wajah ramahnya tampak serius memantengi tiap lembarannya. Selang tak lama kemudian, senyumnya menghampiri tiap muridnya yang berdatangan. Beberapa anak berusaha membalas senyum bu Sinta berat. Mungkin karena mereka cemas memikirkan hasil ulangan IPA pagi tadi –sebelum istirahat-.
Setelah bangku kelas terlihat penuh, bu Sinta kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berdiri di depan kelas. “Baiklah, langsung saja, bu Guru akan membagikan hasil ulangan,”, katanya mengumumkan.
Ucapan bu Sinta tidak mendapatkan respon apapun. Beberapa muridnya tampak sibuk menggigit kuku cemas, sebagiannya lagi tampak berdoa mengharapkan kebaikan nilai, dan selebihnya terlihat berantusias mengetahui nilai yang akan dibagikan bu Sinta, termasuk Rio dan Deriel.
Setelah beberapa kali pembagian, berikutnya yang tersisa hanyalah nilai Rio dan Deriel.
“Deriel...”, panggil bu Sinta sambil melempar senyum. Segera Deriel memenuhi panggilan bu Sinta, lalu dilihatnya lembaran kertas ulangan yang sudah berukirkan angka delapan puluh dengan tinta merah. “Selamat yah,” , lanjut bu Sinta kemudian. Deriel tersenyum berat. Sepertinya ia tidak merasa puas dengan hasil yang di dapatnya. Wajar saja, karena dia benar-benar lemah dalam pelajaran IPA, pikirnya pesimis.
Di depan kelas, selembar kertas tampak masih digenggam oleh bu Sinta. Senyumnya melebar ketika ia menatapnya. “Rio...”, lanjutnya memanggil Rio. Tanpa berpikir panjang, Rio segera menghampiri bu Sinta. “Selamat.. kamu dapat nilai sempurna,”, ucap bu Sinta Kemudian setelah melihat hasil ulangannya, Rio melompat-lompat kegirangan. Wajah cemasnya benar-benar menghilang.
“Dapat nilai berapa?”, tanya Rio pada Deriel kemudian.
Tanpa menjawab, Deriel langsung menyodorkan hasil ulangannya pada Rio. Melihat wajah murung sahabatnya, rasanya Rio enggan untuk membahas hukuman gendong pada Deriel. Lalu, Rio hanya menyelusuri hasil ulangan Deriel. Disana, ia mendapati sesuatu yang ganjal. Tak lama, Rio kemudian mendekati bu Sinta sambil membawa hasil ulangan Deriel. Di sana diketemukan, bahwa jawaban yang seharusnya benar, belum terhitung oleh bu Sinta. Tapi akhirnya semua itu sudah dibenarkan kembali oleh bu Sinta, tentunya karena ketelitian Rio.
“Riel... nih,”, ucap Rio sambil menghampiri Deriel. Lalu dikembalikannya hasil ulangan sahabatnya.
Sesaat setelah melihat nilai ulangannya kembali...“Horeee!!!”  seru Deriel melompat-lompat kegirangan. Nilainya menjadi seratus, sama seperti nilai yang didapatkan Rio.
Dengan nilai mereka yang sama, seharusnya hukuman gendong tidak diberlakukan. Tetapi dengan bersemangat, mereka justru saling menggendong bergiliran sambil tertawa renyah. Huh, ada-ada saja mereka ini....

oleh Tarmudi
Cerpen anak 4