Wednesday, November 10, 2010
Dampak Terbesar Gunung Merapi
dimulai dari awal erupsi yang langsung memakan korban jiwa dari Gunung Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010 semua penderitaan itu berawal. bukan penderitaan, tetapi cobaan. sebuah cobaan besar yang tentunya dari Tuhan yang Maha Esa, yang mungkin menuntut kita untuk selalu mengingatnya di setiap saat. bukan dari kemarahan dari si empunya merapi karena kurangnya sesajenan, tetapi memang tidak lain juga ini semua sudah sudah diatur oleh Tuhan YME. kesedihan memang tidak bisa dibendung lagi dari diri kita yang benar-benar memiliki rasa satu jiwa dengan saudara-saudara kita sebangsa tanah air. apalagi ditambah dengan bencana gempa dan tsunami di wasior, sumatra barat dan di papua. sunnguh mengenaskan dan memprihatinkan. gambaran seperti apa yang ditunjukkan oleh Tuhan adalah hanya sebagian kecil, mengingat negeri ini yang penuh akan kekotoran dn kemaksiatan, tiap badan pemerintah yang "dihandalkan" menjadi punggung negara malah bersikap dan bekelakuan sewenang-wenang. hanya mampu berucap janji kosong, yang tak berbuat sama sekali. tak hanya satu dua orang rakyat yang merasakan dampaknya, tetapi ribuan bung... hal ini tentu tak lepas pandangan ke arah pak SBY. kemitraan dan harga dirinya sebagai presiden serasa berjalan sehari. itupun tersendat sendat. bukan karena ia tak mampu bekerja keras. tetapi oleh karena para anggota dewan bawahan presidenlah yang selalu mengekang. enak duduk di kursi empuk sepertinya patut digantikan dengan timbunan abu vulkanik. udara semilir buatan penyejuk aura hitam mereka layak digantikan dengan panasnya wedus gembel..
Friday, November 5, 2010
bungaku telah berpulang ke syurga
mohon doanya ya wat ketenangan mala..
"mala??
ada apa??
dia telah kembali ke sang kholik
"innalillahi.... mala siapa????
siapa rum????? mala siapa??
kapan dia kembali???
amalatul munirah
"astaghvirullahaladzimmm
[Arum-san Sirohito]
tdi sorean
"kenapa rumm
"kecelakan di surabaya
laaila hailallah.. kecelakaann?? ketabrak rum??
ya di,,,
segelintir kata yang membuat aku tertegun, mengiris suasana hati yang tengah mencemaskan saudaraku yang menjadi korban keganasan Gunung Merapi. seketika kudapati kabar yang kuanggap masih simpang siur itu dengan santai, entahlah, hingga aku benar-benar berusaha mendapatkan kebenaran berita itu. yah... bukan hanya satu dua orang yang aku sapa tanya akan kepedihan kembali yang aku rasakan. kematian itu datang menghampirinya, betul adanya. seketika tak ada lagi kata-kata yang terlontar dari mulutku. terasa beku. dengan seketika tak terpikir lagi olehku untuk menggerakkan mouse ke tempat lain. Luka Kura Mala... kupijit alfabet diatas papan keyboard yang menyusun nama fesbuknya. belum sempat aku add. belum sempat pula kita menjalin hubungan sekedah berbincang-bincang. maklum, aku tak mau ingat masa lalu lagi. tanganku terasa melemas, hanya bisa mengelus-elus kepalaku yang terasa pening, sampaiku membuka cerita lama tentang dirinya.
bungaku telah gugur. bunga isyarat keremajaanku saat pertama kali menginjak bangku SMA. kulihat sosoknya, parasnya nyaris sempurnya. ketenangan sikap dan kearifannya membuatku penasaran akan gadis yang satu ini. tapi, siapa sangka, dia menjadi teman sekelasku. memang hambar rasanya, bila rasa cinta itu datang, entah tak mampu lagi tubuh ini untuk berbuat apa. hanya bisa bertanya dalam hati. seorang putri yang duduk di singgasana didekatku itu terlihat semakin rupawan bila kupandang. uraian rambut yang tak ditampakkannya semakin menandakan dia seorang gadis yang tak sembarangan, apalagi dari ucapannya saat menyapaku pelan. halus dan seperti hembusan angin yang menyertai lubang-lubang bambu. terdengar nyaring dn menyejukkan tentunya bila kurasakan. tetepi saat kulihat dikedua kelopak matanya, terlihat sebagai wanita yang lemah, tak memiliki banyak tenaga untuk melakukan aktivitas, walau sekedar berjalan.
aku benar-benar jatuh hati kepadanya. Amalatul Munirah. demikian namana tercatat di buku absensi yang sedikit-sedikit kulirik, terkadang kullihat di atas sampul bukunya yang bersih lagi rapi, kubertanya pada temannya, putri. semua meyakinkanku, aku telah mengenalnya. hingga kubiarkan waktu berjalan, aku biarkan harumnya bunga-bunga itu bertaburan. hanya mampu kurasakan, tak mampu aku menggenggamnya. mala, demikian dia menyebutkan nama panggilannya. semakin lama semakin indah. senyum manisnya selalu kuperhatikan, apalagi tawa kambingnya yang khas, membuatku selalu terhibur dan mengetahui keberadaannya walaupun ditengah-tengah kegaduhan kelas.
keganjalan itu muncul, lebih tepatnya keganjalan yang aku rasakan dengan dirinya saat dia hanya terduduk lemas dan lesu di bawah pohon mangga, sedang yang lain tengah sibuk melatih kebugaran tubuh. ya, tak elak lagi bagiku untuk mencari tahu. beberapa saat kemudian kudapati yang aku cari. air mataku terasa memecah. membelah kedua kelopak mata, menghancurkan puing-puing kebahagiaan. ternyata yang kulihat selama ini dengan kebahagiaan dan canda tawanya hanyalah hiasan belaka. untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi padanya. jantungnya lemah. entah dari keterangannya yang aku paksa, dia mengidapnya sejak kecil. tak mampu dia melakukan aktivitas yang berlebih seperti anak-anak biasanya. tapi ketegarannya membuatku lebih terasa memiliki dia.yang terbesit hanyalah bagaimana untuk membuat hatinya merasa bahagia. terkadang terbesit dalam pikirku, hidupnya tak akan lama lagi. suatu saat ia bisa saja terselungkur diatas tanah, pertanda tak mampu lagi menopang tubuhnya. tapi aku yakin, dia mampu bertahan. tapi tetap saja kecemasan itu menimpaku. tak tenang rasanya dan resah.
setahun telah berlalu, kini pengamatanku belum pudar darinya. terlihat segar, meski dia merasa sakit. tapi yang kulakukan hanyalah menghiburnya. memang aku bukanlah siapa-siapa untuknya. sebuah pernyataan cinta tak mampu kukatakan walau sedikitpun. sebuah kata persahabatan pun belum pernah terlontar dari mulutku. aku hanya mampu berpura-pura sebagai orang yang biasa, walau hati ini selalu menolak untuk melakukannya. aku merasa resah, walau sebuah kata persahabatan itu, karena suatu saat kelak akan memunculkan rasa itu lebih dalam. dan kini, memang waktu tak mampu ditunda. tak mampu dihentikan walau sesaat. perpisahan itu pastilah terjadi kala adanya perjumpaan. semakin berjalan pula rasa itu mulai terhapus dengan kedatangan inang yang baru.
penempatan statusnya sebagai mahasiswi di Semarang membuatku jauh darinya, yang aku ini hanya sekedar berdiri di kota harapan. beberapa saat tak kutanya kabar dirinya, dan inilah yang terjadi. kudapati dirinya saat nyawa terakhirnya..
untuk dia yang pernah kucinta..
selamat tinggal engkau yang jauh disana
maaf aku tak bisa berbuat apa apa
untuk bisa membuatmu bahagia
tapi setidaknya akan kukirimkan doa
untukmu di atas sana
kepergianmu takkan pernah membuatku menghilangkan semua,
akan rasa disaat kita bersama, walau tak terasa
tapi aku hanya mampu ucapkan cerita
disaat kau berakhir di ujung derita
tapi ini aku, yang selalu ada
maafkan aku bila pernah membuatmu terluka,
ya Allah ya Tuhanku..
selamatkan dia dari api neraka,
muliakan dia disisi engkau yang penuh bahagia..
cukuplah didunia dia menderita..
tapi, kuyakin di atas sana memang kehidupan yang nyata..
"mala??
ada apa??
dia telah kembali ke sang kholik
"innalillahi.... mala siapa????
siapa rum????? mala siapa??
kapan dia kembali???
amalatul munirah
"astaghvirullahaladzimmm
[Arum-san Sirohito]
tdi sorean
"kenapa rumm
"kecelakan di surabaya
laaila hailallah.. kecelakaann?? ketabrak rum??
ya di,,,
segelintir kata yang membuat aku tertegun, mengiris suasana hati yang tengah mencemaskan saudaraku yang menjadi korban keganasan Gunung Merapi. seketika kudapati kabar yang kuanggap masih simpang siur itu dengan santai, entahlah, hingga aku benar-benar berusaha mendapatkan kebenaran berita itu. yah... bukan hanya satu dua orang yang aku sapa tanya akan kepedihan kembali yang aku rasakan. kematian itu datang menghampirinya, betul adanya. seketika tak ada lagi kata-kata yang terlontar dari mulutku. terasa beku. dengan seketika tak terpikir lagi olehku untuk menggerakkan mouse ke tempat lain. Luka Kura Mala... kupijit alfabet diatas papan keyboard yang menyusun nama fesbuknya. belum sempat aku add. belum sempat pula kita menjalin hubungan sekedah berbincang-bincang. maklum, aku tak mau ingat masa lalu lagi. tanganku terasa melemas, hanya bisa mengelus-elus kepalaku yang terasa pening, sampaiku membuka cerita lama tentang dirinya.
bungaku telah gugur. bunga isyarat keremajaanku saat pertama kali menginjak bangku SMA. kulihat sosoknya, parasnya nyaris sempurnya. ketenangan sikap dan kearifannya membuatku penasaran akan gadis yang satu ini. tapi, siapa sangka, dia menjadi teman sekelasku. memang hambar rasanya, bila rasa cinta itu datang, entah tak mampu lagi tubuh ini untuk berbuat apa. hanya bisa bertanya dalam hati. seorang putri yang duduk di singgasana didekatku itu terlihat semakin rupawan bila kupandang. uraian rambut yang tak ditampakkannya semakin menandakan dia seorang gadis yang tak sembarangan, apalagi dari ucapannya saat menyapaku pelan. halus dan seperti hembusan angin yang menyertai lubang-lubang bambu. terdengar nyaring dn menyejukkan tentunya bila kurasakan. tetepi saat kulihat dikedua kelopak matanya, terlihat sebagai wanita yang lemah, tak memiliki banyak tenaga untuk melakukan aktivitas, walau sekedar berjalan.
aku benar-benar jatuh hati kepadanya. Amalatul Munirah. demikian namana tercatat di buku absensi yang sedikit-sedikit kulirik, terkadang kullihat di atas sampul bukunya yang bersih lagi rapi, kubertanya pada temannya, putri. semua meyakinkanku, aku telah mengenalnya. hingga kubiarkan waktu berjalan, aku biarkan harumnya bunga-bunga itu bertaburan. hanya mampu kurasakan, tak mampu aku menggenggamnya. mala, demikian dia menyebutkan nama panggilannya. semakin lama semakin indah. senyum manisnya selalu kuperhatikan, apalagi tawa kambingnya yang khas, membuatku selalu terhibur dan mengetahui keberadaannya walaupun ditengah-tengah kegaduhan kelas.
keganjalan itu muncul, lebih tepatnya keganjalan yang aku rasakan dengan dirinya saat dia hanya terduduk lemas dan lesu di bawah pohon mangga, sedang yang lain tengah sibuk melatih kebugaran tubuh. ya, tak elak lagi bagiku untuk mencari tahu. beberapa saat kemudian kudapati yang aku cari. air mataku terasa memecah. membelah kedua kelopak mata, menghancurkan puing-puing kebahagiaan. ternyata yang kulihat selama ini dengan kebahagiaan dan canda tawanya hanyalah hiasan belaka. untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi padanya. jantungnya lemah. entah dari keterangannya yang aku paksa, dia mengidapnya sejak kecil. tak mampu dia melakukan aktivitas yang berlebih seperti anak-anak biasanya. tapi ketegarannya membuatku lebih terasa memiliki dia.yang terbesit hanyalah bagaimana untuk membuat hatinya merasa bahagia. terkadang terbesit dalam pikirku, hidupnya tak akan lama lagi. suatu saat ia bisa saja terselungkur diatas tanah, pertanda tak mampu lagi menopang tubuhnya. tapi aku yakin, dia mampu bertahan. tapi tetap saja kecemasan itu menimpaku. tak tenang rasanya dan resah.
setahun telah berlalu, kini pengamatanku belum pudar darinya. terlihat segar, meski dia merasa sakit. tapi yang kulakukan hanyalah menghiburnya. memang aku bukanlah siapa-siapa untuknya. sebuah pernyataan cinta tak mampu kukatakan walau sedikitpun. sebuah kata persahabatan pun belum pernah terlontar dari mulutku. aku hanya mampu berpura-pura sebagai orang yang biasa, walau hati ini selalu menolak untuk melakukannya. aku merasa resah, walau sebuah kata persahabatan itu, karena suatu saat kelak akan memunculkan rasa itu lebih dalam. dan kini, memang waktu tak mampu ditunda. tak mampu dihentikan walau sesaat. perpisahan itu pastilah terjadi kala adanya perjumpaan. semakin berjalan pula rasa itu mulai terhapus dengan kedatangan inang yang baru.
penempatan statusnya sebagai mahasiswi di Semarang membuatku jauh darinya, yang aku ini hanya sekedar berdiri di kota harapan. beberapa saat tak kutanya kabar dirinya, dan inilah yang terjadi. kudapati dirinya saat nyawa terakhirnya..
untuk dia yang pernah kucinta..
selamat tinggal engkau yang jauh disana
maaf aku tak bisa berbuat apa apa
untuk bisa membuatmu bahagia
tapi setidaknya akan kukirimkan doa
untukmu di atas sana
kepergianmu takkan pernah membuatku menghilangkan semua,
akan rasa disaat kita bersama, walau tak terasa
tapi aku hanya mampu ucapkan cerita
disaat kau berakhir di ujung derita
tapi ini aku, yang selalu ada
maafkan aku bila pernah membuatmu terluka,
ya Allah ya Tuhanku..
selamatkan dia dari api neraka,
muliakan dia disisi engkau yang penuh bahagia..
cukuplah didunia dia menderita..
tapi, kuyakin di atas sana memang kehidupan yang nyata..
Friday, October 29, 2010
yang ini baru juara...
siang berganti malam, demikian dengan sang surya yang selalu berkejar-kejaran dengan sang dewi rembulan. mereka tak bisa bersatu untuk memerangi bumi. walau terkadang itu muncul, tapi salah satunya meredup. tak jelas dan nampaknya masih malu-malu meong.
aku masih duduk termenung dan sedikit mengacungkan belahan bibir manis, senang binti bahagia yang kurasa. sebuah usaha dan perjuangan yang benar-benar membuahkan hasil. sebuah karya pribadi untuk negeri bahasa aku sampaikan, guna diserukan untuk para pemuda dan pemudi di negeri tercinta. menjadi nomor dua yang cukup membanggakan. cukup untuk membuat emak nyaman dan bangga dengan putranya ini. tak sekedar berbangga, tetapi melebihi semuanya. TENTANG BAHASA. namamu akan selalu kukenang, sebagai sejarah perintis gerbang menuju kehidupanku yang sebenar-benarnya, amin..
aku masih duduk termenung dan sedikit mengacungkan belahan bibir manis, senang binti bahagia yang kurasa. sebuah usaha dan perjuangan yang benar-benar membuahkan hasil. sebuah karya pribadi untuk negeri bahasa aku sampaikan, guna diserukan untuk para pemuda dan pemudi di negeri tercinta. menjadi nomor dua yang cukup membanggakan. cukup untuk membuat emak nyaman dan bangga dengan putranya ini. tak sekedar berbangga, tetapi melebihi semuanya. TENTANG BAHASA. namamu akan selalu kukenang, sebagai sejarah perintis gerbang menuju kehidupanku yang sebenar-benarnya, amin..
Akulah sang juara
akulah sang juara. akulah pemenangnya..
sebuah deretan kata yang mungkin membuat orang semakin bersemangat untuk menjalani hidup. tapi lagi-lagi hal ini menjadi biasa-biasa saja, dengan mengandalkan diriku yang memang hidupnya biasa biasa saja. tapi jangan salahkan aku, jangan juga menyalahkan nasib buruk. tapi ini merupakan sebagian dari perjalanan hidup. yang tak lain bisa kita katakan sebagai cobaan dan takdir dari sang Illahi. bukan hanya kemiskinan dan kebodohan yang menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar orang, tetapi juga suatu kegagalan akan langkah yang akan bahkan telah ditempuh. hal ini tak jarang membuat orang merasa takut untuk melangkah menjalani kehidupan. mereka yang merasa kaya enggan memberikan harta kepada orang lain karena khawatir akan kekurangan atau kehabisan harta. apalagi mereka yang berpikiran cerdas, para "cumloters" tak mau lagi bercampur dan berbagi ilmu yang dimiliki walau hanya secuil, karena ketakutan akan ada orang yang menyaingi ilmunya. hal ini lantas menjadi topik atau pembicaraan yang hangat khusus di kalangan seorang ustadz yang bernuansa sedekah, seperti Ustadz Yusuf Mansyur. penampilannya dan cara penyajiannya membuat ketertarikan tersendiri. apalagi dengan topik yang begitu menggugah hati dan jiwa para pendengarnya. sehingga kemampuan penyerapan ilmu dan pengekspresian sebagai manusia biasa tumbuh dalam jiwa sanubari. tatkala boleh berkata "lebay" dari lubuk hati yang terdalam "from the deephest heart" bahwasanya hidu ini memang indah, indah sekali. tetapi keindahan itu hanyalah bersifat sementara. sedang kita tahu kehidupan yang nyata adalah di akhirat kelak. banyak orang yang mengerti dan tahu akan hal itu, tetapi penerapan konsepnya berbeda, jarang orang yang bisa melakukannya secara optimal, termasuk saya sendiri.
praktek tak semudah teori. memang benar adanya. apalagi ini menyangkut urusan kita kepada Illahi. tapi apa salahnya kita mencoba untuk melakukan itu semua?? tak ada yang salah jika kita mencoba melakukannya. seperti yang biasa saya dengar, bahwasanya balasan Allah itu ada bagi mereka (umatNya) yang merasa terus bersyukur dengan segala pemberian yang di berikan Allah. Allah akan memberikan jaminan berupa syurga atas keberhasilan "meyekolahkan" hati kita yang satu ini. eit... tapi tak sembarang masuk. sebagai pendengar setia yang terkadang merem melek, ada penyamapaian yang selalu hangat. yakni bersedekah. bersedekah besar makna dan sudah barang tentu besar arti dan gunanya. bukan sebatas di dunia, tetapi juga diakhirat yang sudah pasti kita akan mendapati masa itu. tak ada yang lolos. dijamin dah! keajaiban bersedekah telah tertuang dari bapak Ustadz bahwa, kita akan mendapatkan gantinya berupa kelipatan dari apa yang kita sedekahkan. 10 kali lipat. bahkan bisa lebih. karena kita tahu Allah itu maha Penyayang dan maha Kaya gitu loh. dan sudah pasti, dengan bersedekah, dalam keadaan apapun, mau miskin sekali bahkan kaya sekali gantinya dari Allah itu ada. dan sedikitpun tidak akan mengurangi harta kita, bahkan akan bertambahlah harta kita. lupa surat apa. tapi itulah yang dijanjikan oleh Allah untuk kita HambaNya yang senantiasa bersedekah dengan jalan yang halal, ikhlas, dan tentunya Lillahita'ala.
sedekah adalah jalan menuju kebahagiaan yang sebenar-benarnya...
sebuah deretan kata yang mungkin membuat orang semakin bersemangat untuk menjalani hidup. tapi lagi-lagi hal ini menjadi biasa-biasa saja, dengan mengandalkan diriku yang memang hidupnya biasa biasa saja. tapi jangan salahkan aku, jangan juga menyalahkan nasib buruk. tapi ini merupakan sebagian dari perjalanan hidup. yang tak lain bisa kita katakan sebagai cobaan dan takdir dari sang Illahi. bukan hanya kemiskinan dan kebodohan yang menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar orang, tetapi juga suatu kegagalan akan langkah yang akan bahkan telah ditempuh. hal ini tak jarang membuat orang merasa takut untuk melangkah menjalani kehidupan. mereka yang merasa kaya enggan memberikan harta kepada orang lain karena khawatir akan kekurangan atau kehabisan harta. apalagi mereka yang berpikiran cerdas, para "cumloters" tak mau lagi bercampur dan berbagi ilmu yang dimiliki walau hanya secuil, karena ketakutan akan ada orang yang menyaingi ilmunya. hal ini lantas menjadi topik atau pembicaraan yang hangat khusus di kalangan seorang ustadz yang bernuansa sedekah, seperti Ustadz Yusuf Mansyur. penampilannya dan cara penyajiannya membuat ketertarikan tersendiri. apalagi dengan topik yang begitu menggugah hati dan jiwa para pendengarnya. sehingga kemampuan penyerapan ilmu dan pengekspresian sebagai manusia biasa tumbuh dalam jiwa sanubari. tatkala boleh berkata "lebay" dari lubuk hati yang terdalam "from the deephest heart" bahwasanya hidu ini memang indah, indah sekali. tetapi keindahan itu hanyalah bersifat sementara. sedang kita tahu kehidupan yang nyata adalah di akhirat kelak. banyak orang yang mengerti dan tahu akan hal itu, tetapi penerapan konsepnya berbeda, jarang orang yang bisa melakukannya secara optimal, termasuk saya sendiri.
praktek tak semudah teori. memang benar adanya. apalagi ini menyangkut urusan kita kepada Illahi. tapi apa salahnya kita mencoba untuk melakukan itu semua?? tak ada yang salah jika kita mencoba melakukannya. seperti yang biasa saya dengar, bahwasanya balasan Allah itu ada bagi mereka (umatNya) yang merasa terus bersyukur dengan segala pemberian yang di berikan Allah. Allah akan memberikan jaminan berupa syurga atas keberhasilan "meyekolahkan" hati kita yang satu ini. eit... tapi tak sembarang masuk. sebagai pendengar setia yang terkadang merem melek, ada penyamapaian yang selalu hangat. yakni bersedekah. bersedekah besar makna dan sudah barang tentu besar arti dan gunanya. bukan sebatas di dunia, tetapi juga diakhirat yang sudah pasti kita akan mendapati masa itu. tak ada yang lolos. dijamin dah! keajaiban bersedekah telah tertuang dari bapak Ustadz bahwa, kita akan mendapatkan gantinya berupa kelipatan dari apa yang kita sedekahkan. 10 kali lipat. bahkan bisa lebih. karena kita tahu Allah itu maha Penyayang dan maha Kaya gitu loh. dan sudah pasti, dengan bersedekah, dalam keadaan apapun, mau miskin sekali bahkan kaya sekali gantinya dari Allah itu ada. dan sedikitpun tidak akan mengurangi harta kita, bahkan akan bertambahlah harta kita. lupa surat apa. tapi itulah yang dijanjikan oleh Allah untuk kita HambaNya yang senantiasa bersedekah dengan jalan yang halal, ikhlas, dan tentunya Lillahita'ala.
sedekah adalah jalan menuju kebahagiaan yang sebenar-benarnya...
Saturday, October 23, 2010
The next Story
Hidup segan, mati tak mau.
slogan yang cocok buat aku yang sekarang tengah di ujung tanduk. hari tua telah tiba, yakni akhir bulan yang menandakan rambu-rambu kelaparan dan "broke" terbayang jelas di pikiran. untuk mengantisipasi krisis yang demikian, aku hanya bisa berusahan untuk menemukan jalan yang benar-benar praktis. membeli coklat dan pilus dengan total 1000 rupiah sepertinya sudah tak ampuk lagi untuk mengganjal perut. apalagi ditambah dengan cuaca yang ekstrim, yang kurasa semakin merogoh ke tenggorokan dan mendesak masuk ke dalam tempat trio enzim pepsin, renin dan lipase bernaung. wegh.. gak tau lagi apa rasanya, perut seakan-akan terpelintir, dan berputar 306 derajat. akhirnya, demi mengantisipasinya, terpaksa harus alternatif yang kedua, harga masih sedikit sebanding. 2000 rupiah yang kurasa mampu meringankan beban. ya, pastilah dan yakin, semua usaha ada hasilnya, dan semua halangan pasti ada jalannya juga. makanan itu kusuka, lagi enak dan lezat dan kupikir mengenyangkan. gorengan singkong!! kusuka.
lain cerita lain nasib, kali ini mengenai si penyandang jurus macan. pagi ini aku benar-benar menyaksikannya. seperti macan memang ketika ia meluapkan kemarahannya. its so scare!!! hanya ada ibu kost dan aku di rumah. kemarahan itu dipicu hanya karena sandal dia tak berada di tempat, alias sedang dipake some one. ckckck.. gak kebayangkan, andai saja ada penganiayaan,pembunuhan dan sejenisnya hanya karena sandal..tapi untunglah, masih ada yang mampu meredakannya, apa itu?? film kartun. yah, kurasa hanya dengan acara itu dia mereda. *anak mami.. :(
masih tentang aku yang disini berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang benar-benar berguna dan menghasilkan uang untuk bertahan disini. berguna berarti halal lagi menghasilkan banyak uang. uang atau duit.. dua kata satu arti, satu fungsi dan tentunya satu tujuan, membelai hati manusia tersayang. tanpa duit, dunia ini seakan-akan tak berarti. gak tahu pandangan dari mana, tapi yang jelas memang uang adalah segalanya.
slogan yang cocok buat aku yang sekarang tengah di ujung tanduk. hari tua telah tiba, yakni akhir bulan yang menandakan rambu-rambu kelaparan dan "broke" terbayang jelas di pikiran. untuk mengantisipasi krisis yang demikian, aku hanya bisa berusahan untuk menemukan jalan yang benar-benar praktis. membeli coklat dan pilus dengan total 1000 rupiah sepertinya sudah tak ampuk lagi untuk mengganjal perut. apalagi ditambah dengan cuaca yang ekstrim, yang kurasa semakin merogoh ke tenggorokan dan mendesak masuk ke dalam tempat trio enzim pepsin, renin dan lipase bernaung. wegh.. gak tau lagi apa rasanya, perut seakan-akan terpelintir, dan berputar 306 derajat. akhirnya, demi mengantisipasinya, terpaksa harus alternatif yang kedua, harga masih sedikit sebanding. 2000 rupiah yang kurasa mampu meringankan beban. ya, pastilah dan yakin, semua usaha ada hasilnya, dan semua halangan pasti ada jalannya juga. makanan itu kusuka, lagi enak dan lezat dan kupikir mengenyangkan. gorengan singkong!! kusuka.
lain cerita lain nasib, kali ini mengenai si penyandang jurus macan. pagi ini aku benar-benar menyaksikannya. seperti macan memang ketika ia meluapkan kemarahannya. its so scare!!! hanya ada ibu kost dan aku di rumah. kemarahan itu dipicu hanya karena sandal dia tak berada di tempat, alias sedang dipake some one. ckckck.. gak kebayangkan, andai saja ada penganiayaan,pembunuhan dan sejenisnya hanya karena sandal..tapi untunglah, masih ada yang mampu meredakannya, apa itu?? film kartun. yah, kurasa hanya dengan acara itu dia mereda. *anak mami.. :(
masih tentang aku yang disini berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang benar-benar berguna dan menghasilkan uang untuk bertahan disini. berguna berarti halal lagi menghasilkan banyak uang. uang atau duit.. dua kata satu arti, satu fungsi dan tentunya satu tujuan, membelai hati manusia tersayang. tanpa duit, dunia ini seakan-akan tak berarti. gak tahu pandangan dari mana, tapi yang jelas memang uang adalah segalanya.
Friday, October 15, 2010
Cinta dan Cokelat
gawat. aku sudah duduk diwarnet sekian jam tapi belum bisa menuliskan apa-apa disini. curahan hati rutin perminggu bakalan sia-sia nih. apa lagi cerita ngebolangku pasti bakalan hilang dan tidak berkesan lagi.
seminggu sudah berlalu aku melalui hari-hariku di kost biru tercinta. keadaan seperti rumah sendiri membuat betah dan terasa nyaman. tak memperdulikan dia yang kata ibu kost memiliki ilmu macan. toh, sudah seminggu saja keadaan baik-baik saja. sekarang malahan dua minggu berjalan sudah. semuanya hanyalah angin lewat yang bagiku merupakan cobaan pengguncangan keberanian. cieehh,,
tak banyak aku bercerita disini. tapi justru hal yang mengesankan dan unik selalu aku temui disini. terkadang rasa kagum yang luar biasa, cinta, dan merana menderita. hooo. awal keberangkatanku ke english course, dengan masa hanya 2 minggu tapi aku yakin mampu bersaing dalam dunia global yang begitu ketat akan english. lebay bicaraku. semuanya sama, masih merintis dari nol. tapi gak nol amat lah, masih ada bekal yang tertinggal dalam pikiran semasa sekolah dulu, bisa disebut sisa ilmu gitu lah. aktivitas baru dengan hari dan suasana yang baru tentunya, tepat saat menginjakkan usiaku diatas 19 tahun, 03 oktober kemarin, tekad besar muncul bebarengan dengan semangat yang baru pula. new spirit. new life and new thinking.
tiada yang berkesan dihari jadiku itu, hanya ucapan selamat dan doa ala Fesbukers, dan beberapa dari sahabatku menyatakan lewat Henpon. tapi bagiku semuanya memang biasa. seperti aku sebagai orang yang biasa-biasa saja. perayaan ultah bukan berarti ada kebahagiaan, menurutku untuk menghibur diri. toh, sejak lahir juga memang tak ada perayaan yang namanya ULTAh. orang kampung bilang, hal semacam itu dianggap sok anak kota gitu, tapi orang kota bilang, kampungan kalo ultah yang biasa saja. menurutku, pikiran orang kota yang justru kampungan. hahaha.. biar kampungan asal hidup sejahtera, dan memiliki semangat. biar disebut kampungan, toh memang benar adanya, aku hidup di kampung. kampung cregomas tepatnya.
berbicara masalah ULTAh bagiku gak penting. semua hari-hari aku anggap sama. hanya saja penargetan dalam mencapai kehidupan serta pola pikir yang lebih dewasa harus aku tingkatkan lagi seiring dengan bertambahnya usia. takkan lagi mengucapkan kata putus asa, menyesal dan menyerah. apalagi berhenti saat baru melangkah satu tapak kaki. "we can, if we think can" kata buku menyatakan demikian.
MASUK STUDY
hari pertama, tak banyak yang kukenal ditempat yang terasa asing bagiku. bahkan tak seorangpun. hanya saja aku harus mampu beradaptasi dan sok kenal saja. mengeluarkan sifat terbaruku sebagai seorang yang lebih "grapyak" dan pandai bergaul serta menyapa, tetapi tetap pada batasan yang normal. semuanya tengan berkumpul di lembaga yang menuntut akan cakapnya berbahasa asing tersebut. tak ada yang menarik kulihat sekeliling. hanya ada 3 manusia women yang tidak membuat jantung ini berdegup. hanya suatu saat sedikit terperanjat karena kukira ada sedikit kesempatan belajar dengan seorang dari 3 itu untuk menjadi seorang journalism. lulusan S1 jurnalism. aku tertarik untuk mengenalnya, kali saja dia bisa mengajariku, betul tidak??? aku mau nyamperin si cewek itu dulu ya...
" hi miss, what's ur name??" sapaku so english
" hi too, my name is ii, how about you??" dia berbalas
" my name is tarmudi, you can call me mudy" ehemm..
" oh, sorry... judi?? its so bad..." menyernyitkan dahi
" wew... em..yu..di..ai.." aku menjelaskan
" oh.. mudy, where are you from??" tanya dia balik
" im from tegal, central java, the good country in these" aku bangga " how about you??"
" im from jakarta,,"
"owh jakarta toh.. in where? i last year jalan jalan to jakarta, in jakarta selatan. you know it???" balasku bercampur aduk bahasa
" owh yeah..walking around?? south jakarta??" balas dia mengartikan
brem.. percakapan yang tidak mendapatkan hasil, karena sang tentor telah masuk kedalam percakapan kami. " okey gays, attention please..!!!"
pengalaman baru tak banyak, tertawa dan terdiam yang dapat aku lakukan disana. kejadian paling aneh dan tragis, mampu membekap mulut yang ingin tertawa terbahak-bahak menimpaku. saat itu kami semua ditugaskan untuk menceritakan sesuatu. describe something, kata si pengajar atau biasa disebut tutor itu. setelahnya, diharapkan ada relawan yang memulai berdiri di depan dan menceritakannya...
semua anak terdiam ketika iin yang saat itu mengacungkan jari dan tampil di depan kelas yang fresh, karena berada pada ruang yang terbuka di bawah pohon ceremeh.
" okey, i want to tell about my self, my struggle, and my sacrifice" terangnya.
kurang lebih dia akan menerangkan, kenapa dia bisa terdampat di sini, pare atau biasa disebut kampung english. satu kata dua kata situasi mulai gaduh, karena tak penting, menurut mereka, sehingga hanya satu dua orang yang memperhatikan dan mendengarnya berbicara, termasuk aku. wlau tak tahu banyak dia berkata apa, tapi aku mencoba untuk mengetahuinya, meski sampai keringat membanjiri seluruh muka, bukan karena kerasnya berfikir, tetapi karena panasnya kondisi cuaca saat itu. heuu.. sudah berbicara panjang lebar, iin masih tetap menceritakan pengalamannya, mulai dari kedatangannya ke pare naik kereta ekonomi dan sangat penuh, tandasnya. tapi, tiba-tiba air matanya keluar deras loh.. aku tak tahu, bahkan semuanyapun tak tahu kenapa dia tiba-tiba menangis. dia menceritakan kesedihannya dalam bahasa inggris yang kebanyakan, bahkan seluruh anak-anak tak tahu apa yang dia bicarakan.. lucu kan?????
Cinta... tak mampu berbuat banyak, cantik, elegan, modis. tetapi tetap bagiku tidak berani mengungkapkan dan melanggar tekadku untuk belajar disini. aku harus mampu menahannya, meski sakit setiap hari terus berjumpa dengannya. venti asal kota ukir..
Coklat.. hanya bisa menguraikan, tak makan nasi, coklatpun kudapat. dengan perbandingan harga yang lumayan drastis dan tentunya dapat mengirit untuk bertahan hidup disini.. ckckck tragis, ucapku.
seminggu sudah berlalu aku melalui hari-hariku di kost biru tercinta. keadaan seperti rumah sendiri membuat betah dan terasa nyaman. tak memperdulikan dia yang kata ibu kost memiliki ilmu macan. toh, sudah seminggu saja keadaan baik-baik saja. sekarang malahan dua minggu berjalan sudah. semuanya hanyalah angin lewat yang bagiku merupakan cobaan pengguncangan keberanian. cieehh,,
tak banyak aku bercerita disini. tapi justru hal yang mengesankan dan unik selalu aku temui disini. terkadang rasa kagum yang luar biasa, cinta, dan merana menderita. hooo. awal keberangkatanku ke english course, dengan masa hanya 2 minggu tapi aku yakin mampu bersaing dalam dunia global yang begitu ketat akan english. lebay bicaraku. semuanya sama, masih merintis dari nol. tapi gak nol amat lah, masih ada bekal yang tertinggal dalam pikiran semasa sekolah dulu, bisa disebut sisa ilmu gitu lah. aktivitas baru dengan hari dan suasana yang baru tentunya, tepat saat menginjakkan usiaku diatas 19 tahun, 03 oktober kemarin, tekad besar muncul bebarengan dengan semangat yang baru pula. new spirit. new life and new thinking.
tiada yang berkesan dihari jadiku itu, hanya ucapan selamat dan doa ala Fesbukers, dan beberapa dari sahabatku menyatakan lewat Henpon. tapi bagiku semuanya memang biasa. seperti aku sebagai orang yang biasa-biasa saja. perayaan ultah bukan berarti ada kebahagiaan, menurutku untuk menghibur diri. toh, sejak lahir juga memang tak ada perayaan yang namanya ULTAh. orang kampung bilang, hal semacam itu dianggap sok anak kota gitu, tapi orang kota bilang, kampungan kalo ultah yang biasa saja. menurutku, pikiran orang kota yang justru kampungan. hahaha.. biar kampungan asal hidup sejahtera, dan memiliki semangat. biar disebut kampungan, toh memang benar adanya, aku hidup di kampung. kampung cregomas tepatnya.
berbicara masalah ULTAh bagiku gak penting. semua hari-hari aku anggap sama. hanya saja penargetan dalam mencapai kehidupan serta pola pikir yang lebih dewasa harus aku tingkatkan lagi seiring dengan bertambahnya usia. takkan lagi mengucapkan kata putus asa, menyesal dan menyerah. apalagi berhenti saat baru melangkah satu tapak kaki. "we can, if we think can" kata buku menyatakan demikian.
MASUK STUDY
hari pertama, tak banyak yang kukenal ditempat yang terasa asing bagiku. bahkan tak seorangpun. hanya saja aku harus mampu beradaptasi dan sok kenal saja. mengeluarkan sifat terbaruku sebagai seorang yang lebih "grapyak" dan pandai bergaul serta menyapa, tetapi tetap pada batasan yang normal. semuanya tengan berkumpul di lembaga yang menuntut akan cakapnya berbahasa asing tersebut. tak ada yang menarik kulihat sekeliling. hanya ada 3 manusia women yang tidak membuat jantung ini berdegup. hanya suatu saat sedikit terperanjat karena kukira ada sedikit kesempatan belajar dengan seorang dari 3 itu untuk menjadi seorang journalism. lulusan S1 jurnalism. aku tertarik untuk mengenalnya, kali saja dia bisa mengajariku, betul tidak??? aku mau nyamperin si cewek itu dulu ya...
" hi miss, what's ur name??" sapaku so english
" hi too, my name is ii, how about you??" dia berbalas
" my name is tarmudi, you can call me mudy" ehemm..
" oh, sorry... judi?? its so bad..." menyernyitkan dahi
" wew... em..yu..di..ai.." aku menjelaskan
" oh.. mudy, where are you from??" tanya dia balik
" im from tegal, central java, the good country in these" aku bangga " how about you??"
" im from jakarta,,"
"owh jakarta toh.. in where? i last year jalan jalan to jakarta, in jakarta selatan. you know it???" balasku bercampur aduk bahasa
" owh yeah..walking around?? south jakarta??" balas dia mengartikan
brem.. percakapan yang tidak mendapatkan hasil, karena sang tentor telah masuk kedalam percakapan kami. " okey gays, attention please..!!!"
pengalaman baru tak banyak, tertawa dan terdiam yang dapat aku lakukan disana. kejadian paling aneh dan tragis, mampu membekap mulut yang ingin tertawa terbahak-bahak menimpaku. saat itu kami semua ditugaskan untuk menceritakan sesuatu. describe something, kata si pengajar atau biasa disebut tutor itu. setelahnya, diharapkan ada relawan yang memulai berdiri di depan dan menceritakannya...
semua anak terdiam ketika iin yang saat itu mengacungkan jari dan tampil di depan kelas yang fresh, karena berada pada ruang yang terbuka di bawah pohon ceremeh.
" okey, i want to tell about my self, my struggle, and my sacrifice" terangnya.
kurang lebih dia akan menerangkan, kenapa dia bisa terdampat di sini, pare atau biasa disebut kampung english. satu kata dua kata situasi mulai gaduh, karena tak penting, menurut mereka, sehingga hanya satu dua orang yang memperhatikan dan mendengarnya berbicara, termasuk aku. wlau tak tahu banyak dia berkata apa, tapi aku mencoba untuk mengetahuinya, meski sampai keringat membanjiri seluruh muka, bukan karena kerasnya berfikir, tetapi karena panasnya kondisi cuaca saat itu. heuu.. sudah berbicara panjang lebar, iin masih tetap menceritakan pengalamannya, mulai dari kedatangannya ke pare naik kereta ekonomi dan sangat penuh, tandasnya. tapi, tiba-tiba air matanya keluar deras loh.. aku tak tahu, bahkan semuanyapun tak tahu kenapa dia tiba-tiba menangis. dia menceritakan kesedihannya dalam bahasa inggris yang kebanyakan, bahkan seluruh anak-anak tak tahu apa yang dia bicarakan.. lucu kan?????
Cinta... tak mampu berbuat banyak, cantik, elegan, modis. tetapi tetap bagiku tidak berani mengungkapkan dan melanggar tekadku untuk belajar disini. aku harus mampu menahannya, meski sakit setiap hari terus berjumpa dengannya. venti asal kota ukir..
Coklat.. hanya bisa menguraikan, tak makan nasi, coklatpun kudapat. dengan perbandingan harga yang lumayan drastis dan tentunya dapat mengirit untuk bertahan hidup disini.. ckckck tragis, ucapku.
Wednesday, October 6, 2010
si bolang ngekos juga..
Setelah masa dua hari penyambanganku di Pondok pesantren Darul Falah itu, aku memulai perjuangan baru, dengan mendapatkan sebuah hunian rumah yang kuharapkan memenuhi kriteriaku. murah, dekat dengan tempat course dan masjid, dan tentunya nyaman dan suasana religius masih ada, meski tak sereligius di ponpes. setidaknya aku masih mengingat nasihat emak agar tidak berkumpul-kumpul atau sekedar bermain dengan orang orang berandal. mungkin dia mengkhawatirkanku, karena imanku masih terlalu lemah dan mudah terbawa arus. pikirku, aku jga sudah cukup berandal. hahaha...
tak lebih dari 3 jam kudapati sebuah ruamah yang sederhana. bukan lagi kos-kosan, tetapi ini adalah rumah sendiri, pikirku. semuanya menawarkan 100.000 per bulannya. masih terlalu berat untukku sepertinya. dan disinilah jodohku. dengan 50.000 sedikit membantu biaya pengeluaran emak dan tentunya hasil jerihpayahku masih tersisa aku dapat merebbahkan badan disini.
seorang wanita berusia setengah baya yang duduk di ruang tamu menjawab salam dariku kala itu. dia mempersilahkanku dengan ramah dan penuh tawa yang khas. mirip mak lampir, tapi ini lebih halus dan sopan. ditiap pertanyaan dan ucapannya terselip rasa kelelahan. disamping itu, di setiap tertawanya kutemukan aura kebaikan yang luar biasa, kepasrahan yang begitu tajam.
" ini bukan nenek lampir. ini nenek moyang nenek lampir. baik bangeettttt.." pikirku.
dia mempersilahkanku untuk melihat di setiap sekat-sekat ruangan yang berada di rumahya. banyak juga yang ada disini bu..
" oke.. siahkan.. akmu bisa pilih tidur dimana saja, sesukamu.. ini kiinci lemarinya. kamu bisa langsung tarus barang barang kamu disana, okeh??" nada bercanda dan senyuman si nenek dilontarkan untukku dengan nada englishnya yang kupikir fasih. aku hanya bisa tersenyum manis. dan sedikit terharu.
" oke, i say thanks about it." balasku ketika aku pikir aku berada dalam wilayah wajib berbahasa inggris.
" oke. terserahlah.. tapi tidurnya kamu jangan ditengah, bisa didepan atau disini saja. didepan televisi. di tengan itu, ada anaknya, suka marah-marah, oke?? dia juga punya ilmu hitam. dia dukun nakal. okeh??" tandas nenek itu yang kusebut ibu, yang seakan akan memperingatkanku terhadap sosok laki-laki penghuni ruang tengah.
"masak sih?? but its oke" nadaku tenang.
tak ada ketakutan, sedikitpun. asal aku tidak membuat sebuah masalah. atau si ibu terlalu mengada-ada. hemm... biarlah, Allah pasti melindungiku.
hingga kemudian kau beranikan diri tidur di tempat itu, tak apah. karena sebelumnya aku sudah mengkonfirmasikan itu kepada si empunya. kita sama-sama ngekos, tinggal dirumah orang, sama-sma bayar, termasuk sama-sama manusia juga. orangnya tinggi besar, usia satu tahun lebih muda dariku. tak kusangka memang. tapi aku meski tetap menjaga peringatan si ibu dengan pasti. tapi tanpa harus menjauhi si penghuni kamar tengan itu. Adi, namanya..
ali tak seperti yang dikumandangkan oleh si ibu, dia sma seperti manusia biasanya. baik malahan. apa mungkin dia akan berubah ketika dia merasa terusik mungkin?? tapi berubah mejadi apa?? power rangers kah? one piece kah? atau apa ya?? akhir-akhir ini kuperhatikan dia juga layaknya manusia biasa. menghadapi di depan televisi dengan beraksinya film cartoon yang menjadi kesayangannya. semuanya aku berpikir berharap bisa menghibur pikiran.
tak banyak yang bisa aku lakukan disini, yang ada hanyalah belajar dan terkadang sedikit selingan bermain dengan teman kost baru. si Ali kupandang biasa-biasa saja. hingga suatu saat di penginapanku yang ke 7 hari ini, aku mendengarkan cerita si ibu..
" kamu tadi tidurnya di jalan yah??? si ali tadi bilang marah-marah nggak bisa lewat tadi. ibu bilang itu kucing"
padahal itu aku yang tidur di tengah-tengah kasur yang biasa untuklewat. aku memang tengah lelah tertidur pulas. lupa.
"maaf bu.." badanku mendadak lemas, bukan memikirkan ketakutan akan ilmu dia, tetapi lebih pada perasaan dia yang marah karena tindakanku. hemm
" iya, besok-besok kamu tidurnya jangan disana ya... nanti kalau dia marah, ilmu macannya dia keluarkan... awwwww. tau kan ilmu macan?? hahahahaah" ibu memperingatkanku tenang.
" iya bu... maaf ya.." balasku.
" ya sudahlah, kamu mau mandi kan? ya sudah sana..."
" iya bu.." seketika aku hengkang dari percakapan di belakang rumah dekat kamar mandi itu. hingga masih kujinjing ember kecil berisikan peralatan mandi...
tak lebih dari 3 jam kudapati sebuah ruamah yang sederhana. bukan lagi kos-kosan, tetapi ini adalah rumah sendiri, pikirku. semuanya menawarkan 100.000 per bulannya. masih terlalu berat untukku sepertinya. dan disinilah jodohku. dengan 50.000 sedikit membantu biaya pengeluaran emak dan tentunya hasil jerihpayahku masih tersisa aku dapat merebbahkan badan disini.
seorang wanita berusia setengah baya yang duduk di ruang tamu menjawab salam dariku kala itu. dia mempersilahkanku dengan ramah dan penuh tawa yang khas. mirip mak lampir, tapi ini lebih halus dan sopan. ditiap pertanyaan dan ucapannya terselip rasa kelelahan. disamping itu, di setiap tertawanya kutemukan aura kebaikan yang luar biasa, kepasrahan yang begitu tajam.
" ini bukan nenek lampir. ini nenek moyang nenek lampir. baik bangeettttt.." pikirku.
dia mempersilahkanku untuk melihat di setiap sekat-sekat ruangan yang berada di rumahya. banyak juga yang ada disini bu..
" oke.. siahkan.. akmu bisa pilih tidur dimana saja, sesukamu.. ini kiinci lemarinya. kamu bisa langsung tarus barang barang kamu disana, okeh??" nada bercanda dan senyuman si nenek dilontarkan untukku dengan nada englishnya yang kupikir fasih. aku hanya bisa tersenyum manis. dan sedikit terharu.
" oke, i say thanks about it." balasku ketika aku pikir aku berada dalam wilayah wajib berbahasa inggris.
" oke. terserahlah.. tapi tidurnya kamu jangan ditengah, bisa didepan atau disini saja. didepan televisi. di tengan itu, ada anaknya, suka marah-marah, oke?? dia juga punya ilmu hitam. dia dukun nakal. okeh??" tandas nenek itu yang kusebut ibu, yang seakan akan memperingatkanku terhadap sosok laki-laki penghuni ruang tengah.
"masak sih?? but its oke" nadaku tenang.
tak ada ketakutan, sedikitpun. asal aku tidak membuat sebuah masalah. atau si ibu terlalu mengada-ada. hemm... biarlah, Allah pasti melindungiku.
hingga kemudian kau beranikan diri tidur di tempat itu, tak apah. karena sebelumnya aku sudah mengkonfirmasikan itu kepada si empunya. kita sama-sama ngekos, tinggal dirumah orang, sama-sma bayar, termasuk sama-sama manusia juga. orangnya tinggi besar, usia satu tahun lebih muda dariku. tak kusangka memang. tapi aku meski tetap menjaga peringatan si ibu dengan pasti. tapi tanpa harus menjauhi si penghuni kamar tengan itu. Adi, namanya..
ali tak seperti yang dikumandangkan oleh si ibu, dia sma seperti manusia biasanya. baik malahan. apa mungkin dia akan berubah ketika dia merasa terusik mungkin?? tapi berubah mejadi apa?? power rangers kah? one piece kah? atau apa ya?? akhir-akhir ini kuperhatikan dia juga layaknya manusia biasa. menghadapi di depan televisi dengan beraksinya film cartoon yang menjadi kesayangannya. semuanya aku berpikir berharap bisa menghibur pikiran.
tak banyak yang bisa aku lakukan disini, yang ada hanyalah belajar dan terkadang sedikit selingan bermain dengan teman kost baru. si Ali kupandang biasa-biasa saja. hingga suatu saat di penginapanku yang ke 7 hari ini, aku mendengarkan cerita si ibu..
" kamu tadi tidurnya di jalan yah??? si ali tadi bilang marah-marah nggak bisa lewat tadi. ibu bilang itu kucing"
padahal itu aku yang tidur di tengah-tengah kasur yang biasa untuklewat. aku memang tengah lelah tertidur pulas. lupa.
"maaf bu.." badanku mendadak lemas, bukan memikirkan ketakutan akan ilmu dia, tetapi lebih pada perasaan dia yang marah karena tindakanku. hemm
" iya, besok-besok kamu tidurnya jangan disana ya... nanti kalau dia marah, ilmu macannya dia keluarkan... awwwww. tau kan ilmu macan?? hahahahaah" ibu memperingatkanku tenang.
" iya bu... maaf ya.." balasku.
" ya sudahlah, kamu mau mandi kan? ya sudah sana..."
" iya bu.." seketika aku hengkang dari percakapan di belakang rumah dekat kamar mandi itu. hingga masih kujinjing ember kecil berisikan peralatan mandi...
Subscribe to:
Comments (Atom)