NavBar

Monday, May 11, 2015

Cerita Pendek Anak "Sapu Tangan Noni"

Istirahat pertama telah usai. Anak-anak mulai hengkang dari tempatnya bermain di taman, makan di kantin, dan membaca buku di perpustakaan. Tanpa terkecuali, semuanya harus segera masuk ke kelas dan menyambut pelajaran berikutnya. Beberapa anak terlihat terburu-buru sambil berjalan menyayat gorengan tempe yang masih ada di genggamannya. Sedangkan yang lainnya masih asik melanjutkan cerita mereka yang belum usai sambil melangkah ke ruangan kelas. Lala, anak perempuan yang berikat rambut ekor kuda terlihat ceria tak seperti biasanya. Langkahnya yang pasti penuh dengan senyuman sampai pada tempat duduknya.
            Tak lama setelahnya, Ibu Dewi segera membuka jam pelajaran ketiganya. Diraihnya kapur putih, lalu digoreskannya ke atas sebuah papan hitam dihadapannya. Sesekali matanya membaca tiap kalimat yang terukir di atas buku dalam genggamannya. Noni, salah satu siswi perempuan terlihat serius menyalin tiap kata di atas buku tulisnya, sama seperti teman-temannya juga.
“Ah, capek..”, keluh Noni kemudian sambil merogoh kantong bajunya. Rupanya ia ingin mengelap kucuran keringat di keningnya. Sepertinya makanan soto yang sudah dilahap di kantin masih mempengaruhinya, ditambah dengan tulisan bu Dewi yang masih panjang. “Saputanganku...”,ucap Noni dalam hatinya setelah ia tak mendapati saputangannya di kantong. Dari kantong, kemudian dia beralih merogoh ke tas, dan di laci bangkunya. Tetapi ia tetap tak mendapati sapu tangannya.
Mengetahui temannya terlihat kikuk, Sisi, teman sebangku Noni bertanya,”Eh, ada apa?”
“Kamu lihat saputanganku tidak?”, tanya Noni.
Sisi mengangkat bahunya, lalu melanjutkan menulis.
“Duh....”, keluh Noni lagi kesal. Kemudian ia melengos ke arah sampingnya lagi. “Eh, kamu bener tidak melihat saputanganku?”
Merasa terganggu, Sisi lantas mengeluarkan saputangan miliknya. “Nih, pakai saja saputanganku dulu. Aku lagi menulis nih,”, kata Sisi agak kesal.
Noni menolak saputangan Sisi. “Tidak. Aku ingin saputanganku. Titik.”, katanya sambil menunduk kemudian dan menghentikan menulis. Matanya terlihat berkaca-kaca. Lalu segera teringat di kepalanya, bahwa saputangannya bukanlah saputangan biasa. Saputangan spesial dari om Dudi yang dibelinya dari luar negeri. Pokoknya itu bukan saputangan biasa!, kata Noni dalam hati.
“Eh, kamu benar-benar tidak tahu dimana saputanganku?”, tanya Noni lagi penuh selidik.
Sisi berhenti menulis. Telinganya terasa pecah mendengar ucapan teman sebangkunya itu. “Kamu menuduhku?”
“Loh, bisa saja kan?”, tangkis Noni. “Sama siapa aku duduk? kemudian pergi ke kantin sampai kembali ke kelas lagi?? sama kamu kan??”, lanjut Noni kehilangan kesabaran.
“Buat apa coba? aku juga punya saputangan sendiri, dan tentunya lebih bagus dari saputananmu,”, balas Sisi geram.
Tanpa disadari, perdebatan mereka terdengar oleh Ibu Dewi. “Kalian berdua... ada apa?”, tanya bu Dewi menatap Sisi dan Noni. Dengan segera, perhatian anak-anak tertuju pada mereka berdua hingga mengakibatkan tersendatnya pelajaran saat itu. Lalu Noni segera membuka mulutnya dan menceritakan kejadian yang menimpanya. Akhirnya, Ibu Dewi berkata akan membantu Noni untuk menemukan saputangannya setelah anak-anak selesai menyalin tulisannya.
Tak lama kemudian, bu Dewi keluar kelas, dan kembali dengan segelas air putih di genggamannya, lalu mengumumkan kejadian yang dialami oleh Noni. “Tahukah kalian? bahwa mencuri ataupun mengambil barang orang lain adalah dosa besar, dan tentunya kalian akan masuk ke neraka,”, kata bu Dewi.
Tak ada satupun suara yang masuk. Anak-anak mengangguk membenarkan ucapan Ibu dewi. Tetapi berbeda dengan Lala, wajahnya yang sebelumnya ceria menjadi sedikit kaku. Wajahnya menunduk dan sorotan matanya tertuju pada lubang kantong di bajunya. Sebuah lembaran kain berlipat yang indah, berhiaskan bunga-bunga dan beraroma harum. Berikut, saputangan itu, tak pernah ia lihat sebelumnya. Saputangan yang ia temukan di kantin itu ingin sekali ia miliki. “Tetapi apa mungkin itu milik Noni?”, katanya dalam hati. Lala diam sejenak, dan.... “Ah, saputangan ini milikku,”, akunya dalam hati. Sepertinya saat itu setan sedang bersama Lala, hingga ia tak perduli dengan ucapan bu Dewi.
“Baik, kalau tidak ada yang mengaku, Ibu minta kalian meminum air yang sudah dibacakan doa. Dan siapa yang mencuri, pasti bakalan kena akibatnya,”, lanjut bu Dewi menakut-nakuti.
Dag..dig..dug... jantung Lala semakin berdegup kencang. Ucapan Ibu Dewi kali ini, mengingatkan Lala pada ucapan ayahnya. Jika seorang pencuri yang meminumnya, perut akan berubah menjadi gendut. Ohh.. tidak!, Lala gusar. Lain hal dengan teman-temannya, yang mengangguk yakin menyetujui ucapan Ibu Dewi. Sedangkan, setan tampaknya masih terus menguasai otak Lala untuk terus-terusan berbuat dosa.
“Giliran kamu,”, kata teman disamping  Lala sambil menyodorkan segelas air putih.
 “Bu.. saya sedang berpuasa hari ini,”, kata Lala berpura-pura. Ternyata, bu Dewi mempercayai penuh ucapannya. Pikir Ibu Dewi, seseorang yang berpuasa tidak mungkin berbohong.
Setelah semuanya selesai, tak seorangpun yang mau mengaku. Kemudian Ibu Dewi berkata lagi, “Ibu minta kalian berdiri semua, kemudian mengikuti kata-kata ibu, jika benar-benar bukan kalian pencurinya. Dan perlu kalian ketahui, dengan kejujuran, pasti malaikat akan bersama kalian kemanapun kalian pergi. Tetapi sebaliknya, jika kalian berbuat kebohongan, kalian akan bersama setan di saat berbohong kemanapun kalian pergi, dan tentunya di akhirat nanti, setan akan membawa kalian ke dalam neraka,”. Lagi-lagi Ibu Dewi menakut-nakuti.
Tak sedikit dari anak-anak dibuat merinding oleh perkataan Ibu Dewi.
“Kalian mau menjadi teman setan?”, lanjut Ibu Dewi
“Tidak.....”, jawab anak-anak kompak.
Lala. Mendadak kakinya bergetar, hingga tak mampu berdiri tegak. Keringat dinginnya mengucur dari keningnya, meski beberapa kali diusap dengan tangannya, tetapi tetap saja mengalir.
Anak-anak sudah berdiri bersiap untuk bersumpah. Sedangkan Noni terlihat antusias ingin segera mendapatkan saputangannya. Tapi tiba-tiba......
Tetttttttttt....... bel istirahat kedua datang. Lalu, Ibu Dewi menunda sumpah dari anak-anak, hingga ia memutuskan untuk melanjutkannya setelah istirahat nanti.
****
            Di kantor, Ibu Dewi yang sedang sibuk menulis sesuatu di datangi oleh seorang perempuan berwajah muram.
“Bu...”, sapa perempuan itu menghentikan tulisan bu Dewi. Perempuan itu mendekat, lalu menarik nafas panjang, dan berkata, “Bu, sebenarnya saputangan Noni ada pada saya. Tetapi saya tidak mencurinya. Saya menemukan saputangan itu di atas meja kantin. Saat itu saya tidak tahu kalau itu milik Noni,”
Mendengar pengakuan perempuan yang bernama Lala itu, Ibu Dewi tersenyum, lalu berkata,”Ibu sudah tahu,”
Lala terkejut, mendadak tak tahu apa yang harus diperbuatnya selain mengeluarkan saputangan itu dari kantongnya. “Ini bu...”, katanya gugup. “Dari mana Ibu Dewi tahu, jika saputangan Noni ada padaku?”, Lala bertanya-tanya dalam hatinya.
“Ibu bangga sama Lala,”, lanjut bu Dewi. “Ibu bangga karena Lala sudah berbuat jujur, meski di kelas tadi, Lala tidak berani mengakuinya. Ibu tahu, mungkin Lala malu dengan teman-teman. Tetapi, sekali lagi, kejujuran itu memang harus dikatakan, meskipun itu pahit. Karena itu bisa menyebabkan fitnah pada orang lain yang tidak melakukannya,”
“Benar sekali...!”, kata salah seorang –dari arah belakang- menyambung ucapan Ibu Dewi.
Mendengar suara yang tak asing, Lala menengok ke belakang. Dilihatnya Noni dan Sisi. Kemudian, Lala segera memeluk mereka dan dengan penuh penyesalan, ia mengakui semua perbuatannya. Karena ketidakjujurannya, Sisi dituduh Noni. ugh, aku benar-benar jahat, kata Lala dalam hatinya.
Saputangan itu masih di genggaman Lala. Lalu dengan senyuman, ia mengembalikannya ke Noni. “Ini saputanganmu, aku minta maaf.... dan jangan khawatir, saputanganmu belum sempat kupakai,”, kata Lala.
Segera saputangan itu berpindah tangan. “Seharusnya, aku yang mengucapkan terima kasih padamu,”, kata Noni. “Coba deh, kalau saputanganku yang tertinggal di kantin ini diambil orang lain, pasti aku tidak bisa mendapatkannya kembali...”
Lala kembali memeluk Noni dan Sisi. Sedangkan bu Dewi tersenyum bahagia melihat kebahagiaan ketiga muridnya. “Sekarang, kamu menjadi sahabat terbaiku, sama seperti Sisi...”, lanjut Noni sambil menyapukan saputangannya di kening Lala. Mendengar ucapan Noni ditambah merasakan lembutnya saputangan itu, Lala tersenyum ceria.
“Eh, ke kantin yuk, aku traktir..”, sela Sesil. Lala dan Noni mengangguk setuju.
Ketika mereka bersemangat berjalan keluar ruangan bu Dewi, tiba-tiba....
“Tunggu!”, cegah bu Dewi menghentikan langkah mereka kemudian.“Bukannya Lala sedang berpuasa?”, tanyanya dengan tertawa. Yah, padahal kan Lala Cuma berpura-pura, hihii..
Sontak, suasana ruangan bu Dewi mendadak bergemuruh penuh tawa

oleh Tarmudi
Cerpen Anak - Sapu Tangan Noni

Cerita Pendek Anak "Gara-gara Upacara"

Huff...! hari senin lagi, hari senin lagi!, keluh Kokom sambil mengucek-kucek matanya. “Iya mah...”, serunya lagi setelah beberapa kali teriakan mama mendarat di telinganya. Hari senin. Hari yang sangat dibenci oleh Kokom. Harus berangkat lebih awal, karena harus mengikuti upacara. “Ah, pokoknya semua gara-gara upacara!”, ketus Kokom geram. Gara-gara upacara, ia merasa tidak puas dengan tidurnya. Gara-gara upacara, ia meski membawa topi. Apalagi, gara-gara upacara, ia harus rela memanggang badannya di bawah terik matahari, begitu keluhnya lagi.
“Aha!”, seru Kokom lagi menemukan ide. Wajahnya yang lusuh -pagi itu- berubah menjadi ceria seketika. Setelah mandi, sarapan pagi, dan memakai seragam, Kokom berpamitan pada mama. Lalu ia melangkahkan kakinya dengan tegas, tetapi tidak seperti hari-hari biasanya, langkah kakinya kali ini diperlambat. Begitu santainya. “Dengan begini, aku tidak perlu mengikuti upacara, hihii....”, katanya dalam hati. Hingga sampai di pintu gerbang sekolah, Kokom masih saja memperpendek langkah kakinya. Padahal, banyak teman-temannya yang berlarian masuk tak mau ketinggalan upacara pagi itu. Entah apakah ia tidak melihat teman-temannya atau sekedar berpura-pura tidak tahu.
Upacara hari senin segera dimulai...suara keras dari sound sistem menyambut. Setelah memasuki pintu gerbang, dilihatnya barisan teman-temannya di lapangan yang sedang bersiap mengikuti upacara. Satu deretan di barisan guru pun sepertinya sudah penuh. Kemudian Kokom segera menarik ujung topinya ke bawah agar wajahnya tak terlihat. Lalu sambil menunduk dan berjalan berdimit-dimit, ia menuju ke kelasnya. “Yes!”, serunya lagi setelah berhasil memasuki kelas. Setelah itu, segera ia bersembunyi di pojok kelas. Ia tak mau ada orang yang mendapatinya tidak mengikuti upacara. Hingga sampai pada pertengahan pelaksanaan upacara, Kokom masih tidak menyadari akan kesalahannya itu. Tetapi, mendadak wajahnya setengah ketakutan. Dilihatnya dua ekor cicak saling menggigit. Bukan takut karena pertarungan antar cicak, tetapi takut pada cicak yang bisa-bisa jatuh di badannya. Ketakutannya berawal saat setahun yang lalu, ketika Kokom sedang santainya makan keripik singkong sambil menonton televisi. Saking seriusnya menonton televisi, ia tidak menyadari, bahwa ada seekor cicak yang masuk ke dalam keripiknya. Hihihi... akhirnya, setelah kunyahan di mulutnya usai, ia mengambil kembali keripik dalam genggamannya. Tetapi, ia merasakan ada yang berbeda. Tangannya menyentuh benda yang lembek, dan bergerak-gerak. Penasaran, Kokom melihat ke dalam keripiknya. Lalu, dengan cepat cicak itu keluar melintasi tangannya. Sontak, Kokom terkejut dan langsung melemparkan keripiknya, kemudian lari terbirit-birit. Hihihi...
Masih di dalam kelas, Kokom segera bangkit dari tempat duduknya, tak mau pengalaman buruknya dengan cicak terulang lagi. Tetapi sial buatnya, belum sempat ia berpindah, salah seekor cicak jatuh dan..... yap!! cicak itu tepat jatuh di atas topinya. Merasakan hal tersebut,  lalu dengan segera Kokom melepas dan melempar topi dari kepalanya. Lagi dengan wajah setengah ketakutan, ia berlari keluar kelas.
Brukkkk... aww, Kokom sepertinya menabrak sesuatu.
Mendadak, telinganya terasa panas. “Kokom..!??!”, ucap salah seorang yang tak jauh dari Kokom.
“Ampun pak,”, katanya setelah dilihatnya pak Kardi sudah berdiri di depannya sambil menjewer daun telinga Kokom.
 “Ah, kamu lagi, kamu lagi.”, kata pak Kardi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sambil meringis kesakitan, Kokom mengatakan, “Kali ini yang terakhir pak,”
“Tidak bisa. Kamu harus ikut bapak ke kantor,”, jawab pak Kardi menolak alasan Kokom. Sepertinya Kokom tak lagi memiliki senjata ampuh untuk menghindar dari upacara bendera. Beberapa alasanpun sudah ia pakai, tapi sepertinya pak Kardi sudah mengetahui semua gelagatnya. Wajar saja, beliau adalah salah satu pengawas di sekolah. Hampir setiap hari senin ia selalu mendapati Kokom tidak mengikuti upacara bendera dengan berbagai macam alasan. Saat itu dengan penuh pengertian, pak Kardi percaya penuh pada ucapan Kokom. Pernah, Kokom beralasan sakit. Padahal hanya berpura-pura saja. Hari senin berikutnya, ia berpura-pura ke toilet lebih lama karena sakit perut, katanya. Kemudian selanjutnya, ia tidak mengikuti upcara lagi dengan alasan yang sama. Tapi ternyata, dengan santainya ia menyantap tempe goreng di kantin. Kali ini, keberuntungannya sepertinya sudah berakhir. Pak Kokom memergokinya. Sampai saat itu, semua kedok Kokom terbongkar. Lalu ia dihukum untuk berdiri di depan kelas. Tidak jera, Kokom melakukan kesalahannya lagi.
Di kantor, nama Kokom diperbincangkan oleh seluruh guru-gurunya. Di atas kursi empuk pak Kardi, ia duduk. Kata pak Kardi, ada seseorang yang akan menemuinya.
“Kokom..”, kata seseorang mendekat.
“Bu Lia.”, kata Kokom dalam hatinya.
Bu Lia lantas segera duduk disamping Kokom. “Loh, dipanggil bu Lia kok diam saja?”, katanya lagi.
Bibir Kokom bungkam, wajahnya tertunduk lusuh menanggung malu. Bu Lia, guru agama kelasnya yang dikenal sangat baik itu kini ada dihadapannya.
“Bu Lia boleh bertanya tidak?”
Kokom mengangguk.
“Kokom tahu tanggal kemerdekaan Republik Indonesia?”
“Tanggal tujuh belas agustus tahun 1945 bu,”, jawab Kokom lancar.
“Pintar!”, seru bu Lia kemudian. “Kok Indonesia bisa merdeka yah?”, lanjut bu Lia.
“Karena para penjajah dikalahkan oleh perjuangan para pahlawan kita,”
“Wah, Kokom benar-benar pintar yah,”, ucap bu Lia memuji. “Kokom pasti sudah tahu juga, jika pahlawan kita yang gigih itu berusaha untuk mengibarkan bendera kita, sang merah putih, bukan?”
Kokom mengangguk.
“Dahulu, untuk mengibarkan bendera merah putih sangatlah sulit, penuh dengan perjuangan. Tetapi, sekarang. Berkat pahlawan kita, kita tidak perlu bersusah payah untuk mengibarkannya,”
Mendengar perkataan bu Lia, mendadak Kokom teringat satu hal. Mama pernah bercerita, bahwa dahulu, almarhum kakek adalah seorang prajurit Indonesia. Itu sebabnya, mama selalu berusaha membangunkanku lebih awal di hari senin agar aku bisa mengikuti upacara bendera. Kata mama, selain belajar yang rajin, dengan mengikuti upacara bendara, berarti sudah menghormati jasa-jasa para pahlawan, termasuk kakek. Aku bangga mempunyai kakek seorang pahlawan, meskipun aku belum sempat melihatnya.
Ah, jahatnya aku ini, pikir Kokom. Dahulu kakek dan teman-temannya berjuang membela tanah air tak kenal waktu. Kehujanan dan kepanasan selalu mengiringi perjuangan mereka. Apalagi akan kelaparan dan kehausan yang tak jarang mereka dapatkan. Walau hanya dengan bambu runcing, mereka berusaha menyelamatkan tanah Indonesia. Sedangkan aku? tidak pernah mengikuti upacara gara-gara takut kepanasan. Padahal, itu tak sebanding dengan perjuangan para pahlawan, termasuk kakek.
“Bu, Kokom minta maaf..”, kata Kokom sambil meraih tangan bu Lia.
“Loh, kenapa minta maaf?”, kata bu Lia keheranan.
“Kokom mengerti maksud perkataan bu Lia. Kokom memang tidak pernah menghargai jasa para pahlawan. Kokom jahat ya bu?”, tanya Kokom sambil meneteskan air mata. “Kokom jarang mengikuti upacara, selalu saja membuat alasan,”
Bu Lia segera meraih tubuh Kokom, lalu dipeluknya erat. “Ibu Lia tahu, kalau Kokom orang yang baik. Dengan menyadari kesalahanmu, itu sudah cukup menghormati para pahlawan kita. Dan, minta maaf lah sama pahlawan kita dengan mendoakannya, bukan dengan bu Lia. Bu Lia hanya bisa memberikan nasehat. Dan juga mulai senin depan, Kokom harus berubah..”
“Baik bu, itu sudah pasti!”, jawab Kokom riang.
Setelah menyadari kesalahannya, Kokom lebih bersemangat lagi ketika hari senin tiba. Bahkan seringkali ia meminta untuk menjadi pemimpin upacara. Minggu depan tanggal tujuh belas agustus, tepat hari kemerdekaan Republik Indonesia. Dan sekarang, Kokom sedang sibuk berlatih komando karena ia terpilih menjadi perwakilan sekolahnya sebagai pemimpin upacara. “Aku cinta Indonesia”, kata Kokom mengakhiri penyesalannya

oleh Tarmudi
Cerpen Anak - Gara-gara Upacara

Cerita Pendek Anak "Pita Cantik Untuk Prita"

Anak-anak berlarian ke luar kelas. Dengan semangat mereka lalu menuju ke kantin. Beberapa dari mereka juga ada yang hanya duduk di kursi taman sambil menikmati bekal makanan yang dibawa dari rumah. Waktu istirahat sepertinya dipergunakan sebaik mungkin oleh anak-anak kelas tiga SD Tunas Bangsa. Di depan kelas, beberapa anak perempuan terlihat sedang berkumpul bersama sambil memperkenalkan pita yang sedang heboh diperbincangkan dimana-mana. Dengan berbangga hati, mereka saling menunjukkan pita yang mengikat rambut mereka masing-masing. Lain hal dengan kedua anak perempuan yang masih di dalam kelas, tampak serius berbincang-bincang.
“Ah, sebel deh.”, ketus Tika dalam hatinya. Wajahnya tampak murung saat melihat teman-temannya sudah memiliki Pita cantik itu. Bahkan, beberapa kali dibujuk oleh Prita, ia enggan bangkit dari tempat duduknya. “Ah, aku lagi sebel banget,”, jawabnya ketus pada Prita. Tak menyerah, Prita terus membujuk teman sebangkunya tersebut, serta berusaha menghiburnya.
“Gara-gara pita itu yah?”, kata Prita yang sudah menangkap gerak-gerik Tika.
Tika manggut-manggut dengan bibirnya yang manyun.
“Ah, cuma Pita saja. Apa sih, bagusnya?”, timpal Prita setengah ragu. Padahal, sesungguhnya ia juga iri melihat teman-temannya memiliki Pita yang sedang heboh saat itu. Tapi, lagi-lagi uang yang membatasi pikiran Prita untuk memilikinya.
“Bukan Cuma itu,”, jawab Tika setengah sesal.
Prita mengerutkan dahi. “Terus?”, tanyanya lagi penasaran.
Tika lalu menarik nafas panjang. Kemudian, ditatapnya wajah Prita yang sudah dihadapannya. Dengan wajah yang berkaca-kaca, ia memulai untuk menceritakan hal yang terjadi padanya.
“Sebenarnya kemarin aku sudah memiliki uang buat membeli pita. Sepulang sekolah, aku langsung menuju ke toko RAHMAT. Itu loh, toko satu-satunya yang menjual pita yang sekarang dipakai teman-teman. tapi....”
“Tapi apa??”, potong Prita yang masih antusias mendengarkan cerita sahabatnya itu.
“Tapi... aku malu sekali!. Pita yang cantik itu memang sudah ditanganku. Tetapi, giliran aku ingin membayarnya, ternyata uangku tidak ada. Sudah kucari di saku, di tempat pensil, aku tidak menemukannya. Kemudian ketika kucari di tasku.... hasilnya sama saja. Bahkan kudapati, tasku ternyata sudah berlubang. Kupikir, uangku pasti jatuh di jalan. Lalu dengan rasa kecewa, aku tak jadi membeli pita itu. Aku malu sekali.”
Oops..!! mendengar cerita Tika, tiba-tiba Prita teringat sesuatu. Kemarin, sepulang sekolah, Prita menemukan uang tepat di bawah bangku Tika. Sebenarnya Prita ingin menanyakan pada Tika dan memastikan jika uang itu miliknya. Tetapi, Prita kecolongan. Karena, Tika terburu-buru keluar kelas saat itu, sehingga ia tak sempat bertanya pada teman sebangkunya tersebut. “Ah, mungkin saja ini keberuntunganku,”, kata Prita dalam hatinya kemudian. Ya, ia berpikir jika uang itu mungkin keberuntungannya. Apalagi dengan uang tersebut, Prita bisa membeli pita, pikirnya. Saat itu pula senyum Prita mengembang. Ia tak menyangka akan segera mempunyai Pita yang serupa dengan teman-temannya.
“Eh, tau tidak?”, lanjut Tika membuyarkan lamunan Prita.
“Yah?”, balas Prita dengan tatapan yang berubah seketika.
“Setelah kejadian itu, aku mencoba menelusuri jalan yang aku lalui ketika pulang sekolah. Tetapi tak kudapatkan. Di kelas, tidak mungkin. Kalau memang jatuh di sana, pasti kamu melihatnya, bukan? dan pastinya kamu bakalan mengembalikannya..”, terang tika melanjutkan.
“Apa mungkin uang yang aku temukan itu milik Tika?”,  pikir Prita  menebak-nebak. “Tapi....”, Tika menunduk penuh keraguan. Dengan uang itu, Prita bisa membeli pita, tetapi, jika uang itu benar-benar milik Tika, maka impian untuk memiliki pita cantik itu kandas, pikirnya lagi.
Prita tertegun mendengar ucapan Tika, lalu dengan nyengir kuda, ia menjawab, “Eh.. iya dong. Sudah pasti aku akan mengembalikannya,”
“Tak hanya sampai disitu, aku terus menyelusuri jalan berulang-ulang, hingga aku benar-benar tak menemukan uangku. Saat itu juga aku menyerah dan memutuskan untuk pulang saja. Ughhhhh.... sebelnya! padahal aku ingin sekali membeli pita itu. Meminta uang sama mama, itu sungguh tidak mungkin. Kata mama, uang itu, uang terakhir buatku untuk membeli sesuatu yang bukan peralatan sekolah,”, lanjut Tika bertubi-tubi.
“Hem... memangnya uang kamu berapa?”, tanya Prita menyelidiki.
“Sepuluh ribu!”, jawab Tika dengan wajah kesalnya.
Wah, ternyata... jumlah uang itu sama dengan jumlah uang yang ditemukan Prita!
“Sepertinya uang itu milik Tika,”, ucap Prita dalam hatinya. Ia begitu yakin akan uang yang ditemukan di bawah bangku Tina. “Ah, tapi....”. Lagi-lagi Prita mengurungkan niatnya. “Tapi... dengan uang itu aku bisa membeli Pita,”. Mendadak wajah Prita menjadi pucat pasi.
Air mata Tika tak terbendungkan lagi, lalu segera dipeluknya Prita erat-erat. “Tau tidak? sepulang sekolah, aku dimarahi mamaku. Kata mama, aku pulang terlambat. Padahal aku seudah menceritakan alasanku, tetapi mama tidak mau menerimanya, karena dia khawatir dengan keselamatanku. Aku benar-benar sial deh, sudah jatuh, tertimpa tangga juga. Sudah uang hilang, tidak bisa mempunyai pita, ditambah rasa maluku sama penjual toko.”.
“Oh iya!”, seru Prita sambil melepaskan pelukan Tika. Tangannya lalu segera merogoh kantong bajunya. “Nih,”, katanya sambil menyodorkan selembar uang sepuluh ribu.
Tika mengerutkan dahi tak paham, “Apa ini?”
“Duh!” Prita menepuk dahinya pelan. “Aku benar-benar lupa. Kemarin aku menemukan uang ini di bawah bangkumu, aku yakin, ini pasti uangmu,”,
“Ah, yang benar?”, balas Tika dengan wajah yang sumringah. “Terima kasih Prita, kamu benar-benar sahabatku,”, lanjut Tika sambil memeluk kembali tubuh Prita.
“Ah, biasa saja. Itu kan uang kamu? lagian seharusnya aku minta maaf, karena....”, balas Prita tak melanjutkan.
“Karena apa?”.
Sambil menyeka lelehan air mata di pipi Tika, Prita berkata, “Karena... aku memencet hidungmu,”. Lalu segera Prita memencet hidung Tika cepat.
Mereka lalu berkejar-kejaran. “Ih... Prita jahat!”, kata Tika berusaha membalasnya.
Prita urung mengatakan yang sebenarnya, bahwa sebenarnya ia urung untuk mengembalikan uang Tika, karena keinginannya yang kuat untuk membeli pita. Tetapi, akhirnya ia menyadari bahwa perbuatannya itu salah. Dan baginya, nilai sebuah pita tidak sebanding dengan nilai seorang sahabat. Untuknya, kesedihan seorang sahabat adalah kesedihannya juga, demikian pula dengan kebahagiaan.
Sepulang sekolah, Tika mengajak Prita untuk menemaninya ke toko RAHMAT. Lalu dengan senang hati, Prita menemaninya. Dengan uangnya, ternyata Tika mendapatkan dua buah pita. Tanpa pikir panjang lagi, ia lalu mengikatkan salah satu pitanya pada rambut anak perempuan yang di hadapannya. “Ini, untukmu, sebagai tanda terima kasih. Dan juga sebagai tanda persahabatan kita,”, kata Tika kemudian.
Prita hanya tersenyum bahagia mempunyai sahabat yang baik seperti Tika. Selain itu, ia juga, akhirnya ia memiliki pita cantik yang sama seperti sahabatnya itu. “Terima kasih Tika...”, balas Prita dengan pelukan hangat.

Oleh Tarmudi
Cerpen Anak - Pita Cantik Untuk Prita