NavBar

Thursday, September 30, 2010

si bolang mencari ilmu kembali

aku ingin mencoba jalan yang benar-benar membuatku nyaman. aku ingin mandiri. jauh dari siapapun. aku ingin mereka tahu kalau aku bisa mewujudkan keinginan mereka, yakni keberhasilanku. aku harus yakin, bagaimanapun juga keyakinan itu akan membawaku ke dalam lembah kebahagiaan. amin.
keputusan akhir aku awali dengan memohon restu emak. tanpa restunya, apalah arti perjuanganku, bakalan sia-sia belaka. tak ada artinya. emak mengikhlaskanku untuk pergi kemanapun kusuka. dia melepasku dengan dirundungi rasa cemas dan kekhawatiran yang menurutku luar biasa. tapi inilah aku, yang mampu membangunkan semangat emak. mempu meredakan suasana. mampu menghentikan gemuruh ombak. aku hibur dia dengan sejuta hiburan.
" tenang mak.. anakmu ini bakalan jadi orang sukses. pokoknya emak tinggal tunggu anakmu ini saja. dan anakmu ini tidak akan pulang sebelum mampu membahagiakan emak. walau sepuluh atau duapuluh tahun,tapi tetaplah aku menginginkan doa dan keridhoan dari emak.. anakmu ini sudah gede, tak perlu kau khawatirkan lagi.." aku berlutut dihadapannya dengan menggenggam kedua tangannya berharap ada keridhoan yang dia berikan untukku.bye..
aku berangkat. pertama menuju ke kota lumbung padi. selama lima hari aku menetap sebentar disana untuk meredamkan suasana dan mengambil semua berkas-berkas yang aku tinggal disana. hari rabu, keberangkatanku. aku melepas mereka semua. mau kemana?? kebanyakan dari mulut mereka mengendus rencana kepergianku. mau pergi, maen ke rumah teman di jawa timur. tak kupikirkan lagi apa yang mereka pikirkan. inilah aku, si pencari bumbu riski dari seorang restu ibu..
keberangkatanku menuju jawa timur, tepatnya daerah pare.
aku sendiri. tiada yangmenemani. tapi aku yakin semuanya ini tidak akan terjadi tanpa ada campur tangan dari sang Illahi. aku percaya mampu berdikari sendiri, meski harus meratapi nasib ini. di dunia ini tak ada yang abadi, terkadang aku merasa bersyukur atas pandanganku terhadap meraka yang hidup bergelimpangan harta, tapi tak mampu mendirikan benteng keimanan. bukan maksud hati aku ini yang terbaik, tetapi ini lah aku yang sedang belajar menjadi orang baik. meski bagiku sangat sulit. tapi aku percaya kembali bahwa tujuan yang baik, akan berbuah kebaikan juga.
aku tak ammpu membicarakan apa yang sedang terjadi disini, karena disini terlalu indah untuk kupandang, kuresapi dalam naluri. biarpun seribu kata aku torehkan, takkan mampu membuat oran paham dan merasuk dengan jelas gambaran yang aku berikan. sekat-sekat antara akhi dan ukhti sangatlah terjaga. aku bersyukur dapat menginjakkan kaki disini. kini aku yang seutuhnya yakin dalam naungan Illahi, badai mampu kulawan. terjangan air laut mampu kulawan. tak ada yang tahu memang, hanya dia sang pencipta.
aku hanyalah manusia biasa. aku percaya, imanku sangatlah lemah, sehingga sewaktu-waktu keimanan yang sudah kubangun dapat roboh kembali. tapi inilah aku yang selalu meminta perlindungan dariNya. kematianku takkan aku sia-siakan. aku ingin, emak menerima jasadku dalam keadaan yang bersih, dan mampu meninggikan namanya...

No comments: