Minggu, 20 Mei 2012

Menjadi Guru Aktif, Kreatif dan Arif

Menjadi seorang guru tentu bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Berbagai faktor penghambat berjalannya kegiatan selalu saja hadir, dan sudah pasti dapat mempengaruhi output dari para siswa. Faktor utama tersebut sebagian besar terletak pada sosok guru. Seorang guru yang bijak tidak dibenarkan untuk menyalahkan siswanya yang berbuat gaduh dan onar dimana hal itu bisa menghambat proses belajar itu sendiri.
Menjadi guru yang kreatif dan cerdas bukan hanya bertumpu pada kekuasaan yang dimiliki. Tetapi, bagaimana ia mampu menempatkan posisi yang paling tepat di antara siswanya. Karena bagaimanapun juga, tanpa seorang siswa, kita bukanlah seorang guru. Seorang guru bisa dibilang berhasil jika ia mampu membawa suasana pengajaran yang menyenangkan. Terlepas dari hal tersebut, ada beberapa penghambat dan masalah yang menyebabkan keadaannya berbeda. Dalam artian tidak dicapainya suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan.
Adapun beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut, antara lain sebagai berikut:
Pertama, semangat seorang guru. Sudah menjadi kewajiban seorang guru harus menunjukkan semangatnya dalam setiap kegiatan mengajarnya. Hal ini tentu akan berpengaruh besar pada siswa yang secara tak langsung akan menganggapi dengan lemas, sesuai dengan intonasi, nada dari seorang guru yang menunjukkan semangat lemasnya. Sudah jelas lagi, keadaan yang tidak kondusif akan muncul. Hal ini pernah saya alami ketika pertama kali menjalani peran sebagai seorang guru. Satu minggu dua minggu semangat saya bisa dibilang cukup besar, hingga pada minggu ketiga rasa mood tiba-tiba menghilang. Saat itu, pengajaran hanya berjalan biasa-biasa saja. Benar-benar seperti dunia dilkita kekeringan. Di saat kejadian itu, saya berinisiatif untuk mengatasi kala mood saya menurun. Di hari-hari berikutnya, salah satu siswa, saya tunjuk dan mempraktekkan tindakan seperti saya kala pertama kali masuk kelas. Dan langkah berikutnya, saya menunjuk siswa kedua untuk menjelaskan kembali materi yang pernah saya sampaikan. Hal ini akan terus berlanjut hingga pada waktu yang telah ditentukan. terus apa yang kita lakukan? Yang saya lakukan adalah duduk bergabung dengan siswa saya, sambil menggenggam sebuah bolpoin dan memainkannya diatas daftar nilai siswa. Tentu, dipikiran mereka hanyalah bagaimana bisa menjelaskan dengan tepat apa yang saya ajarkan. Dan membiarkan siswa melakukan tindakan yang sama seperti gaya saya mengajar. tetapi, saya TIDAK membiarkan kesalahan penjelasan ketika siswa lain tidak bisa memberikan pembetulan/pengoreksian akan penjelasan temannya di depan kelas. Hal ini ternyata cukup efektif untuk menghilangkan rasa mood saya dan tentunya siswa saya. Keadaan kelas yang dimulai dengan tertawa kecil yang sedikit-demi sedikit membangkitkan semangat mereka dan tentunya saya. Bukankah itu ciri-ciri guru yang malas? Cuma duduk tanpa menjelaskan apapun kepada para siswa? Bukan! Hal ini tidak saya lakukan setiap hari, dan setiap saat. Perlu ditekankan, hal ini saya lakukan ketika menghadapi modd yang tiba-tiba berubah. Misalkan di dalam mood yang masih tak bisa terkontrol, tentu pemaksaan mengajar akan membawa pada suasana kelas yang garing. Dan perlu diketahui, dengan “media siswa” ini juga bisa menumbuhkan kepercayaan diri pada mereka.
Kedua, sebuah penyakit menular, akan menularkan pada yang lainnya. Salah satu kendala yang satu ini, mungkin hadir di tengah-tengah siswa kita. Tetapi, berdasarkan pengalaman saya, setiap kelas yang saya jumpai, “si Fulan” selalu saja hadir. “si Fulan” yang biasa kita sebut dengan “problem maker,” bisa saja menjadi momok yang menyeramkan bagi kita apabila tidak bisa mengendalikannya. Dimana dia akan selalu membuat peran kita sebagai seorang guru menjadi seperti satpam pos pemantau 24 jam. Tentu perjalanan kita akan menemui berbagai kerikil. Hingga, keadaan ruang kelas benar-benar menjadi tak terkendali hanya karena “problem maker” ini. Lalu, apa yang yang harus kita lakukan? Dalam sebuah ilmu psikologi, seorang anak yang berkelakuan “melebihi ambang batas normal” atau bisa disebut dengan Hiperaktif ini, cenderung ingin mendapatkan perhatian yang lebih. Maka, yang harus kita lakukan adalah dengan memperhatikan dia lebih besar sedikit dari siswa kita yang lainnya. Misalnya, berikan kesempatan untuk si “Fulan” memberikan ekspresi yang ia inginkan di depan kelas. Berikan beberapa menit waktu istimewa itu. Selanjutnya, hal ini diberlakukan bagi para “problem maker” yang lainnya. Lho, nanti bisa menyita waktu belajar dong? dicoba dulu. Cara ini pernah saya lakukan, dan hasilnya cukup ampuh. Terkecuali jika siswa kita melakukan perbuatan yang sama secara terus-menerus, maka dia butuh pendekatan yang kedua, yakni menjadi sahabat dekatnya ketika diluar kelas. Kita tentunya sudah mengetahui betul akan peran seorang “sahabat” bukan?
Kesalahan terbesar seorang guru, dalam menghadapi “si Fulan” ini adalah dengan perlakuan yang jauh dari cermin sebagai seorang guru. Jangan pernah memaki si Fulan, karena hal itu akan menurunkan harga diri kita sebagai seorang guru, juga bisa mendapatkan predikat “killer” bukan hanya di mata si Fulan sendiri, tetapi juga berdampak pada siswa kita yang lain. Pemukulan, penjeweran, ataupun bentuk kekerasan lainnya, juga tindakan yang akan menyebabkan kita menjadi momok yang menakutkan bagi para siswa. Dampaknya, setiap jam pelajaran kita tiba, disitulah siswa kita akan merasa dalam neraka. Yang paling parah, perlakuan kasar kita akan menempel kuat dalam ingatan siswa kita. simple, you are my killer teacher!!, they said.
Salah satu cara saya untuk mengatasi si Fulan adalah dengan melakukan kesepakatan hukuman bagi si dia, dan jangan lupa, hukuman tetap pada koridor dan masih pada faktor kemanfaatannya.
Ketiga, Jangan biarkan keadaan ruang kelas monoton. Menetap pada satu titik. Karena, hal itu akan berdampak pada kejenuhan siswa kita. Bisa dimulai dari contoh yang kecil, yakni merubah tempat duduk siswa kita tiap seminggu sekali. Ataupun sekedar menggeser tempat kerja kita. Untuk aktivitas belajar, sesekali bawalah sistem pembelajaran kita di luar kelas. Selanjutnya, kejenuhan itu bisa juga diatasi dengan ice breaking ataupun memberikan waktu sejenak untuk mengendurkan otot atau memberikan joke yang tentunya menghibur.
Sudahkah suasana kelas kita kondusif? Mengapa?
-            Suasana tenang bukan berarti kondusif, mungkin kita seorang guru yang “killer”. Buatlah mereka tertawa kecil.
-            Jika suasana itu belum kita dapatkan, maka temukanlah solusinya, dan jadilah guru yang bijak. Gunakan media apapun yang bisa membuat suasana nyaman, dan jadilah guru yang kreatif.

Tidak ada komentar: